Termasuk (juga) Waterboom

  • Bagikan
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara.
banner 468x60

PENA – Kepala Kejaksaan (Kajati) Malut, Andi Herman, dipindahkan ke Kejaksaan Agung. Andi pindah bersama dua anak buahnya, Asisten Intelijen dan Asisten Pidan Khusus. Andi ternyata tidak sampai satu tahun bertugas di Malut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Penamalut, hanya ada satu kasus dugaan korupsi yang diusut ketika Andi menjabat Kajati, yakni dugaan korupsi anggaran Kapal Nautika. Proyek ini dianggarkan melalui DAK tahun 2019 senilai Rp 7,8 miliar di Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dikbud) Malut. Proyek tersebut dikerjakan PT Tamalanrea Karsatama. Hanya saja penyelidikan belum ada progres. Selain itu, kehadiran Andi termasuk menghentikan penyelidikan dugaan korupsi anggaran proyek jalan-jembatan di desa Sayoang-Yaba, Halmahera Selatan.

Kajati, Aspidsus dan Asintel adalah tiga posisi penting menentukan diusut serius atau tidak satu perbuatan tindak pidana korupsi yang dilaporkan ke Kejati.

Sebagaimana diketahui, tiga orang yang duduk di posisi penting itu telah dimutasi. Hal ini mengundang reaksi aktivis HMI, Maruf Madjid. Ia mengajak seluruh aktivis di Malut agar tidak mengabaikan proses hukum tindak pidana korupsi di lembaga hukum, termasuk di Kejati. “Kalau kita tidak pusing untuk mengawal, maka bisa saja tidak diproses serius,” ujarnya.

Maruf berharap kelompok muda untuk mengawal penyelidikan dugaan korupsi dana kapal Nautika. ” Ini proyek yang anggaranya besar. Kasus ini harus diusut tuntas, hingga pelakunya diadili,” harapnya.

Selain itu, Maruf meminta semua aktivis di Ternate agar menyiapkan dokumen yang ada hubungannya dengan pembebasan lahan Waterboom di kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan, untuk dimasukkan ke Kejati, ketika Kajati Malut yang baru telah tiba di Ternate.

“Atau bisa saja kita datangi Kejati untuk desak supaya kasus Waterboom itu diusut lanjut. Kejati tentu miliki data yang lebih lengkap,” katanya.

Menurut Maruf, ada yang membuat publik Malut tidak puas dengan proses hukum kasus Waterboom, yakni karena orang yang diduga menjadi aktor utamanya justru tidak disentuh.

“Teman-teman, jangan kita abaikan masalah korupsi. Mari kita kawal proses hukum setiap kasus, baik di Kejati maupun Polda. Kalau tidak, proses hukum tidak jalan dan pelaku yang korupsi tetap bebas serta akan korupsi lagi,” harapnya mengakhiri. (cun)

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *