Kesetiaan yang Utama

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Basri Amin

Di kalangan militer, kesetiaan adalah harga mati. Di kalangan sipil, terutama di ranah politik, kesetiaan adalah soal serius. Di dalamnya tak dikenal kesetiaan penuh. Ia justru ditakdirkan berubah setiap saat. Tak ada kawan abadi. Kaidah “menggunting dalam lipatan” pun berlaku tanpa kenal jejak dan jasa-jasa. Itulah yang hari-hari ini dipertaruhkan dalam politik nasional Malaysia. Pada bulan Mei 2018, koalisi oposisi memenangkan Pemilu di Malaysia. Tokoh sentralnya adalah Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim. Dua tokoh yang sekian puluh tahun berseberangan ini akhirnya “menyatu” karena mereka sepaham mengganti rezim berkuasa yang (konon) sangat korup dan demi Malaysia yang kokoh.

Di antara kedua tokoh ini, tak tampak “bahasa dendam”. Mereka berhasil keluar dari friksi pribadi dan kelompok karena harus mengukuhkan sikap membela “kepentingan negara”nya. Hampir semua suara protes dan kampanye yang mereka gelorakan adalah tentang anti korupi, reformasi pemerintahan dan perbaikan kesejahteraan rakyat. Koalisi kedua tokoh ini disebutnya Pakatan Harapan, yang terdiri dari beberapa partai. Mahatir Mohamad terpilih sebagai Perdana Menteri (PM), dengan janji koalisi akan menyerahkan jabatan PM kepada Anwar Ibrahim.

Anwar Ibrahim sangat pantas menjadi “tokoh Asia” dari negeri Melayu. Dalam banyak situasi, ia juga sangat dekat, paham dan memuliakan “pencapaian historis” Indonesia dan, secara khusus, ia adalah jurubicara yang matang tentang Islam dan demokrasi. Pada periode 2004, 2010-2014, ia sangat aktif tampil di media global dan menjadi visiting fellow di beberapa universitas ternama di Amerika Serikat (Georgetown, Harvard, Stanford, Hawaii, dll) dan Inggris (Westminster, dsb). Ia juga pernah memberi kuliah umum di Australian National University (ANU) tentang “keadilan Sosial”. Inilah kelebihan utamanya: otaknya encer dan retorikanya menawan. Karakter Melayu-nya yang santun dan respek pun sangat terasa, sekalipun ia membahas tentang penzaliman atas diri dan kariernya.

Isu besar yang selalu dibahas oleh Anwar Ibrahim adalah tentang Islam, demokrasi, keadilan sosial dan perubahan politik, termasus tentang sistem peradilan. Ia amat fasih dengan tema-tema tersebut. Gagasannya selalu mengalir dengan cerdas karena Anwar Ibrahim adalah pembaca dan penulis yang intens. Pasang-surut pengalaman hidupnya mampu ia transformasi sedemikian rupa sebagai seorang negarawan yang mengerjakan cita-cita sebagai orang Asia yang Melayu dan menjadi pemimpin di sebuah negara multi ras dan etnis seperti Malaysia. Di negeri ini, keragaman merupakan faktor paling krusial. Meski Islam sebagai fondasi kultural Malaysia —bacalah riwayat raja-rajanya dan bagaimana kekuasaan mereka dalam tata negara Malaysia–. Meski demikian, kelompok Chinese dan India memegang peranan yang penting dalam sejarah Malaysia.

Pemikir progresif yang menaiki panggung kekuasaan tentulah tidak mudah. Bagaimana pun, selalu ada pertarungan antara tarikan aktivisme dan politik praktis, di saat yang sama karakter “intelektual” juga hendak dijaga dan didayagunakan guna mencerdaskan masyarakat dan membuat perubahan. Dilema inilah yang dialami oleh figur seperti Anwar Ibrahim, hal mana juga terjadi pada banyak tokoh di dunia. Meski demikian, ketokohan adalah sebuah “perjalanan panjang”. Ia tak bisa ditimbang dari sisi periode jabatan melainkan justru harus dinilai dari komitmen, warisan nilai-nilai, keteladanan, dan perbuatan nyata yang dikerjakan di setiap etape hidup dan perjuangan. Anwar Ibrahim sangat kokoh dalam ”memegang prinsip”

Dalam faktanya, tidak banyak tokoh yang berhasil “memegang prinsip” ketika berada di puncak kekuasaan. Itulah pengakuan Prof. Larry Diamon dari Stanford University tentang kiprah politik Anwar Abrahim. Ketika berposisi sebagai Wakil Perdana Menteri, ia tak ragu sedikit pun untuk menegaskan pandangan berbeda dengan Mahathir Mohamad yang tak lagi kokoh memegang prinsip clean government. Pada sebuah seminar di Stanford (November 2014), gagasan dan pengalaman Anwar Ibrahim dibahas oleh dua orang pemikir dunia yang sangat terpandang, Prof. Donald Emerson dan Prof. Francis Fukuyama. Menarik karena Anwar menegaskan bagaimana demokrasi dan Islam tidak bertentangan dan bahkan Islam merupakan sumber aspirasi bagi demokrasi yang lebih humanistik dan berkelanjutan.

Karier Anwar Ibrahim sangat fenomenal. Pernah memegang jabatan menteri beberapa kali, mantan aktivis mahasiswa, tokoh muda Malaysia yang “bersinar” sejak 1980an, dan akhirnya menjadi orang kedua di negeri itu. Sayang sekali, sejak 1998, kariernya di sektor publik terhalangi sedemikian rupa. Ia bahkan dipenjara secara berulang karena tuduhan yang mengada-ada di masa Mahathir Mohamad dan Najib Razak.

Setelah 18 tahun berpisah secara politik, setelah koalisi oposisi memenangkan Pemilu Malaysia (9/5/18), Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim akhirnya bertemu. Sebuah kalimat keluar dari mulut Anwar Ibrahim: “saya dan Mahathir sudah kubur permusuhan…”. Sebuah ungkapan tulus, penuh ahlak dan matang sebagai manusia beragama dan negarawan sekaligus. Di hari-hari yang krusial (Februari 2020), relasi Mahatir-Anwar dalam guncangan. Strategi reformasi dan integritas leadership mereka dalam ujian berat. Untuk sementara, keduanya “kalah” di Pemeritahan Pakatan Harapan. PM baru Malaysia, Muhyiddin Yassin (Partai Bersatu) dilantik oleh Raja. Mahatir menyebut dia sebagai “penghianat sebenarnya”.

Secara pribadi, saya merindukan Anwar Ibrahim jadi PM. Agar bisa melihat bagaimana Asia Tenggara bergerak lebih progresif dalam dialog-dialog peradabannya. Ketika sempat bertemu dan berbincang sejenak dengan Anwar Ibrahim di Hawaii sekitar tahun 2004, saya amat merasakan naluri intelektual dan aktivis dalam visi politiknya. Tak heran kalau dalam setiap pemikiran Anwar Ibrahim yang selalu terkesan adalah Asia, Melayu, Islam dan peradaban dunia. Bagi kita di Indonesia, Anwar Ibrahim adalah tokoh Malaysia yang paling hangat, fasih, dan cerdas dalam membahas hubungan antar bangsa. Hampir setiap saat Anwar Ibrahim diwawancarai oleh media nasional Indonesia. Ia pun selalu merasa punya jejak-jejak sahabat dan aspirasi dari Indonesia. Ia sangat encer menjelaskan sejarah politik Melayu, Indonesia dan Malaysia. Dengan itulah, Anwar Ibrahim selalu beroleh dukungan dan simpati dari Indonesia di masa-masa sulit dalam keriernya.

Sebuah buku terkenal Anwar Ibrahim berjudul “Renaisans Asia: Gelombang Reformasi di Ambang Alaf Baru” diterjemahkan oleh penerbit Mizan, Bandung, tahun 1998. Dengan wawasan yang kaya, Anwar menerangkan dengan terang tentang peradaban Asia dan dunia Melayu pada khususnya. Salah satu pesan penting dalam buku ini adalah tentang Islam Asia Tenggara yang menekankan “keunggulan ilmu pengetahuan” dan “budaya toleransi”. Menurut Anwar Ibrahim, di masa depan, bangsa-bangsa di Asia –dengan merujuk filosof-penyair Muhammad Iqbal–, yang kita butuhkan adalah: menata watak baru, mencipta semangat baru”. Tetapi, takdir sejarah (sepertinya) belum memihak kepadanya.***

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *