DODOMI: Glory Land

0

Oleh: IBNU FURQAN (Partisipan Dapur Menulis Maluku Utara)

“E…, itu tong pe tanah dodomi, hati-hati”

Kutipan di atas menyampaikan setidaknya dua pesan, yakni: pernyataan tentang identitas budaya dan peringatan kepada “orang luar” untuk senantiasa bersikap hati-hati terhadap identitas tersebut. Frasa tanah dodomi dapat dilihat dari dua sisi. Pertama; simbol identitas budaya, di mana simbol tersebut dikaitkan dengan “TANAH” yang tidak sekadar tempat hidup, melainkan juga sebagai tempat “bagian dari tubuh” dikuburkan. Kedua; tanah-dodomi pada tataran konsep mesti dipahami sebagai “tempat kebudayaan” disemai, yang kelak dikemudian hari tumbuh menjadi “identitas”.

Dalam pengertian identitas kebudayaan dodomi menjadi perkara penting dalam kehidupan sosial-budaya orang-orang Maluku Utara, dan saya kira dalam banyak kalangan masyarakat Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Sedemikian penting dodomi (plasenta) dalam kehidupan sosial budaya, orang Maluku Utara percaya, bahwa dodomi memiliki kekuatan gaib terhadap setiap orang. Misalnya, dodomi dianggap dapat membuat seseorang menjadi sakit-sakitan lantaran dodominya tidak diperlakukan secara selayaknya.

Itulah sebabnya, masyarakat Maluku Utara – terutama dikalangan orang Islam, yang saya tahu – memiliki ritual dalam penguburan dodomi. Misalnya, dodomi mesti dikuburkan di dekat rumah. Selain harus dibungkus dengan kain putih, semacam kafan, di atas “kubur” dodomi juga dibacakan doa-doa tertentu, dipercaya untuk keselamatan sang bayi dikemudian hari.

Corak pemikiran ini hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan tentu punya penghayatan tersendiri dalam memandang ari-ari atau dodomi sebagai yang pertama terbentuk dalam rahim ibu. Lihatlah bagaimana, ekspresi budaya menghormati dodomi dengan menguburnya secara baik-baik. Di Jawa tradisi menanam ari-ari dinamakan dengan mendhem ari-ari, tatacaranya memasukkan ari-ari ke dalam kendhil dan diberi daun thalas. Belum lagi meletakkan “loga-loga” di tempat dodomi dikuburkan selama tujuh sampai empat puluh hari. Di Bali tradisi ini dinamakan dengan setra ari-ari, yakni ari-ari digantung di pohon besar dekat pemukiman warga. Berbeda lagi dengan suku Bajo, Beny Baskara dalam bukunya “Islam Bajo”, menjelaskan, bahwa suku Bajo justru membuangnya di laut.

Deskripsi di atas membahas tentang identitas kebudayaan yang dikaitkan dengan dodomi, yang akan berpengaruh terhadap tindakan sosial suatu masyarakat. Mari Kita melihatnya dari sisi psikologi masyarakat, misalnya. Umumnya orang Maluku Utara menganggap dodomi sebagai “kaka” setiap individu. Dodomi menjadi “teman” sang bayi selama di kandungan ibu, dan kelak akan kembali menjemputnya di kala ia meninggal.

Penegasan seperti ini dapat dilihat dari fenomena yang lain. misalnya orang Maluku Utara mengubur dodomi, lantas di atasnya ditaruh semacam tumbuhan atau bunga-bunga serta diletakkan lampu dengan makna simbol, bahwa kelak sang manusia hidupnya tidak hanya berpikir tentang masalah keduniaan, melainkan juga berpikir tentang hidupnya setelah mati. Benda-benda ini dijadikan sebagai simbol kultural, dan dia senantiasa bertahan hidup, menjadi nilai yang mendasari kehidupan sosial.

Itulah sebabnya dodomi memiliki arti penting bagi masyarakat Maluku Utara, tidak sekadar masalah kebudayaan, akan tetapi dodomi adalah pelambang tentang ‘tanah’ dan kepemilikan ‘tanah’, dengan kata lain hubungan dodomi dan tanah adalah hidup yang berlanjut dari rahim ke kehidupan di atas tanah. Oleh karena itu, memperjuangkan hak-hak atas tanah sama pentingnya dengan mempertahankan nyawa. Gidden benar dalam hal ini, hidup tidak akan berarti apa-apa tanpa ada yang perlu diperjuangkan secara mati-matian.

Maka, adalah wajar, Ketika pengusaha besar yang entah datang dari, dan tinggal di, mana, merampok tanah lalu orang Maluku Utara pun memberontak. Pemberontakkan seperti itu tidak sekadar menuntut hak atas tanah. Tetapi pemberontakan itu adalah cara orang mempertahankan hidupnya secara mati-matian. Kenapa kemuakan sosial itu terjadi? sebab kehidupan mereka diganggu. Orang tidak sekadar menghargai hidup, tetapi harus mempertahankan hidupnya, karena dengan cara itu orang dapat disebut sebagai manusia, pun binatang disebut binatang karena mempertahankan hidupnya.

Walhasil, ketika sumber kehidupan mereka diganggu, maka orang Maluku Utara merasa dirinya tidak berarti apa-apa lagi dan semua manusia memang seperti itu, tidak terkecuali pengusaha ketika usahanya diganggu maka dia juga memberontak, itu artinya pemberontakan harus dipahami sebagai mekanisme mempertahankan hidup. Singkatnya, dodomi bukan hanya sebagai lambang kebudayan, namun ia menyimpan beribu makna tentang tanah dan harapan, dodomi yang ditanam ditanah itu diharapkan menjemputnya kala menjelang mati dan mengiringinya ke kubur di tanah yang sama. Jadi, siapapun yang menghuni sebuah dunia tanpa harapan hidup, sesungguhnya dia hidup dalam dunia yang absurd. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here