DAERAH  

Dialog Publik KB PII Halsel, Dr Iksan Subur Paparkan Bonus Demografi dan Ancaman Tambang

PENAMALUT.COM, LABUHA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku Utara, Dr Iksan Subur Karamaha, memaparkan tantangan masa depan generasi muda di tengah momentum bonus demografi 2045 dan masifnya industrialisasi pertambangan.

Hal tersebut disampaikan Dr Iksan saat menjadi narasumber dialog publik bertema “Membangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Agama, Kepedulian Sosial, dan Etika Lingkungan” yang digelar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Halmahera Selatan, Sabtu (24/1).

Menurutnya, bonus demografi yang diproyeksikan terjadi pada 2045 atau Indonesia Emas akan menjadi peluang besar jika diiringi dengan kesiapan kualitas sumber daya manusia. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi tersebut justru berpotensi menjadi ancaman, khususnya bagi generasi muda di daerah.

“Pertanyaannya dari sekarang, generasi kita mau menjadi apa ke depan. Apakah bonus demografi ini menjadi peluang atau justru ancaman,” kata Iksan.

Ia menjelaskan, aktivitas pertambangan memiliki tiga indikator utama, yakni lingkungan, tenaga kerja, dan pendapatan. Ketiganya selalu hadir bersamaan dalam setiap aktivitas industri tambang.

“Di mana ada tambang pasti ada tenaga kerja, ada pendapatan, dan pasti ada kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan tidak bisa dibayar dengan rupiah, melainkan dibayar dengan risiko,” ujarnya.

Iksan menegaskan, kerusakan lingkungan di darat, laut, dan udara merupakan dampak dari aktivitas manusia, sehingga harus disikapi dengan nilai agama, kepedulian sosial, serta etika lingkungan.

Dalam aspek pendidikan, ia menyoroti rendahnya partisipasi pendidikan di Halmahera Selatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Halsel berada di kisaran 66 persen dengan indikator ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

“Angka partisipasi sekolah tingkat SMA sekitar 74 persen, tetapi daya serap ke dunia kerja hanya sekitar 20 persen lebih,” ungkap politisi Partai Hanura tersebut.

Meski demikian, ia menyebut pendapatan per kapita Halmahera Selatan tergolong tinggi, yakni sekitar Rp70 juta per tahun. Namun angka tersebut belum cukup menjamin kesiapan daerah menuju Indonesia Emas.

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, kata Iksan, daerah harus berada pada tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen dengan pendapatan per kapita mencapai 13 ribu dolar AS.

“Dengan melihat indikator pertambangan, pendidikan, dan bonus demografi, saya memperkirakan pada 2045 generasi muda Halmahera Selatan lebih berada dalam ancaman daripada peluang jika tidak disiapkan sejak sekarang,” pungkas Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Maluku Utara itu.