Istri Anggota DPRD Malut Bersaksi Atas Perkara Dugaan Korupsi Nautika di Persidangan

  • Bagikan
Hetty Tungari saat bersaksi di persidangan siang tadi. (Aksal/NMG)

PENAMALUT.COM, TERNATE – Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan kapal Nautika kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ternate, Selasa (9/11).

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu menghadirkan, Hetty Tungari, selaku penyuplai dana PT. Tamalanrea Karsatama yang merupakan pemenang tender proyek pengadaan kapal Nautika dan alat simulator pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara tahun anggaran 2019.

Hetty Tungari juga merupakan istri anggota DPRD Malut, Ikbal Ruray, yang namanya disebut terlibat dalam proyek tersebut pada persidangan beberapa waktu lalu.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Achmad Ukayat didampingi dua anggotanya itu juga dihadiri keempat terdakwa, Imran Yakub selaku mantan Kadikbud Malut, Zainuddin Hamisi selaku mantan PPK, Reza selaku mantan Ketua Pokja I ULP Malut, dan Ibrahim Ruray selaku Direktur Utama PT. Tamalanrea Karsatama.

Hetty Tungari yang juga ipar dari terdakwa Ibrahim Ruray dalam keterangan di persidangan mengatakan, perusahan
PT. Tamalanrea Karsatama berdomisi di Ternate dan mengetahui Ibrahim/terdakwa sebagai Direktur. Namun ia menyebut tidak ada hubungan kerja dengan terdakwa Ibrahim.

“Saya hanya membantu dana ke perusahaan Tamalanrea Karsatama untuk pengadaan kapal nautika penangkap ikan,” ujarnya.

Hetty menjelasjan, ia pernah melakukan kerja sama dengan Edy Nursetio selaku Direktur atas perusahan PT. Maju Bangkit di Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Bertemu dengan Edy pada saat dilakukan tanda tangan, namun untuk Ibrahim/terdakwa sebelum tanda tangan sudah bertemu meminta bantu.

“Saya waktu itu hanya membantu dana dengan nilai 2 miliar sekian. Nilai pekerjaan berapa sayabtidak tahu,” ujarnya.

Lanjutnya Hetty, pada saat itu ia hanya sebagai penyandang dana ke Ibrahim atau terdakwa, tapi tidak ada perjanjian dengan PT. Tamalanrea Karsatama atau sebagai sub kontrak.

“Jadi pembayaran itu ketika diberitahukan oleh terdakwa Ibrahim bahwa sudah waktu pembayaran dan saya melakukan pembayaran. Saya bayar jika diperintahkan Ibrahim sudah waktunya,” tuturnya.

Hetty juga mengetahui pekerjaan itu telah selesai dari terdakwa Ibrahim, namun untuk dana kapal tidak diserahkan kepada saksi. Tetapi ia melakukan pembayaran kepada Edy sebanyak 5 kali.

“Pembayaran kepada Edy via transfer,” paparnya.

Ia menambahkan, dana yang dikeluarkan telah digantikan, tapi baru sebagian. Namun untuk angka-angkanya, sebagian sudah lupa. Baginya, untuk nilai kontrak tidak dibilang, bahkan terdakwa Ibrahim juga tidak menyampaikan secara detail.

“Seingat saya untuk pembayaran simulator sekitar 5 kali kepada Ary Joko selaku Direktur CV. Darma Pala atau rekanan dari kontraktor paket alat Simulator. Namun untuk nilai paket pekerjaan alat simulator lupa atau tidak ingat. Pembayaran itu dilakukan ketika Ibrahim beritahukan untuk membayar,” tandasnya.

Hetty juga berujar bahwa ia membantu terdakwa Ibrahim karena hubungan keluarga. Terkait tanda tangan akta di kantor Notaris Rusli biar jelas untuk pembayaran. Namun pada saat itu akta telah disiapkan dan ia tinggal menandatanganinya.

“Pada saat itu saya tidak terlalu fokus dengan isi di dalam akta, hanya saja fokus pada kewajiban saya. Akta itu setelah dilakukan tanda tangan beberapa hari kemudian, baru diberikan. Pada saat itu notaris juga tidak meminta dokumen lain kepada saya,” ujarnya.

Saksi bahkan mengatakan sering melakukan kerja sama dengan terdakwa Ibrahim. Hanya saja untuk akta, ia tidak tahu ide dari siapa. Ia juga tidak tahu nilai kontrak dua paket nautika dan alat simulator.

Sesuai amatan wartawan media ini, sidang berlangsung alot dan terjadi perdebatan antara JPU dan kuasa hukum dari terdakwa Ibrahim atas keterangan Hetty dikarenakan saksi yang tidak disumpah lantaran masih hubungan keluarga dengan terdakwa Ibrahim. Hanya saja keterangan saksi Hetty sangat dibutuhkan dalam persidangan yang berkaitan dengan perjanjian yang dilakukan di Notaris.

Namun sidang pemeriksaan saksi tetap berjalan sampai selesai, walaupun tidak disumpah dan telah dicatat oleh Panitera Pengganti. Sidang akan dilanjutkan pada Jumat (12/11) masih dengan agenda pemeriksaan saksi oleh JPU. (gon/ask)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!