PENAMALUT.COM, TIDORE – Ajang balap motor Wali Kota Tidore 1 Cup Race Tahun 2026 yang semula dijadwalkan berlangsung pada 1–3 Mei resmi ditunda menjadi 8, 9, dan 10 Mei 2026. Keputusan ini diambil untuk memberi ruang persiapan yang lebih matang bagi tim dan pembalap.
Ketua IMI melalui Sekretarisnya, Andry Tajudin, menjelaskan bahwa penundaan tersebut merupakan hasil permintaan sejumlah tim besar di Maluku Utara. Waktu persiapan yang sebelumnya hanya sekitar dua pekan dinilai tidak cukup, terutama untuk riset dan penyetelan motor di lintasan Sirkuit Selawaring.
“Beberapa tim meminta penundaan karena waktu menuju event hanya 14 hari. Dalam waktu sesingkat itu, rata-rata tim belum sempat melakukan riset motor untuk karakter trek,” jelasnya.
Selain persoalan teknis, jadwal pembalap yang padat juga menjadi pertimbangan. Sejumlah rider diketahui memiliki agenda kejuaraan lain di luar daerah, seperti Sulawesi dan Jawa, sehingga berpotensi bentrok.
“Ada pembalap yang jadwalnya bertabrakan dengan event di luar Maluku Utara. Setelah koordinasi dengan IMI, akhirnya diputuskan untuk menggeser jadwal ke 8–10 Mei,” tambahnya.
Meski jadwal diundur, persiapan di lokasi tetap berjalan. Hingga kini, progres pembersihan area Sirkuit Selawaring telah mencapai sekitar 50 persen. Panitia menargetkan seluruh fasilitas penunjang rampung sebelum hari pelaksanaan.
“Sisa pekerjaan tinggal pemasangan pagar pembatas dan area penonton. Untuk panggung VIP, paddock, dan tenda RC sudah siap, tinggal didistribusikan,” ujarnya.
Event ini dipastikan akan diikuti pembalap dari berbagai daerah, tidak hanya dari Maluku Utara. Sejumlah tim dari Papua Barat, Sulawesi Utara (Manado), dan Sulawesi Selatan telah menyatakan kesiapan untuk ambil bagian.
Lebih dari sekadar ajang balap, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembinaan atlet serta seleksi menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang akan digelar di Halmahera Utara pada Juni mendatang.
Di sisi lain, panitia juga mengusung konsep sport tourism untuk mendongkrak sektor pariwisata Kota Tidore. Selawaring disebut sebagai salah satu pintu masuk strategis menuju destinasi wisata di wilayah utara Tidore.
Panitia menargetkan kehadiran 6.000 hingga 7.000 penonton selama tiga hari pelaksanaan. Untuk mendukung perputaran ekonomi, zona UMKM juga akan disiapkan guna memberi ruang bagi pelaku usaha lokal.
“Kami ingin event ini berdampak langsung ke masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun promosi daerah. UMKM akan dilibatkan agar bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD,” terangnya.
Sejauh ini, dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Daerah, KONI Kota Tidore, BPBD, Dinas Pemuda dan Olahraga, hingga pihak swasta yang membantu dari sisi personel dan fasilitas.
Namun demikian, panitia mengakui belum adanya kontribusi dari Dinas Pariwisata serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
“Untuk Pariwisata dan Perindagkop sampai hari ini belum ada bantuan. Mungkin karena mereka baru menyelesaikan rangkaian Hari Jadi Tidore dan persiapan APEKSI di Borobudur. Ke depan tentu akan kami koordinasikan lagi,” pungkasnya.












