Menembus Laut Demi Pendidikan, Anak-anak Pulau Rao Berdiri Tegak Rayakan Kemerdekaan

PENAMALUT.COM, MOROTAI – Bagi anak-anak di Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas. Laut menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan dan mengejar cita-cita.

Semangat itu terlihat saat para pelajar mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SMA Kristen Posi-Posi Rau, Senin (17/8).

Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis kepulauan, para siswa dari tingkat SD, SMP hingga SMA berdiri tegak mengikuti upacara bersama para guru serta jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara dan Cabang Dinas Pendidikan Pulau Morotai.

Upacara tersebut dipimpin Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Kehadiran Abubakar di Pulau Rao merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos agar jajaran pendidikan hadir langsung dan membersamai para pelajar di wilayah terpencil dalam momentum peringatan kemerdekaan.

“Kami ingin anak-anak di pulau terpencil merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir dan pemerintah hadir bersama mereka,” kata Abubakar.

Untuk mencapai SMA Kristen Posi-Posi Rau, rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus menempuh perjalanan panjang.

Dari Sofifi menuju Tobelo dan kemudian Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai, rombongan yang terdiri dari kepala dinas, kepala bidang, pejabat fungsional dan pelaksana melanjutkan perjalanan darat menuju Wasbula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, sekitar 1,5 jam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan perahu menuju Posi-Posi Rau.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran nyata tentang tantangan akses pendidikan di wilayah kepulauan Maluku Utara. Namun, bagi anak-anak Pulau Rao, kondisi geografis bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan.

SMA Kristen Posi-Posi Rau tidak hanya menampung pelajar dari wilayah setempat. Sejumlah siswa juga berasal dari pulau tetangga, termasuk Saminyamau.

Untuk sampai ke sekolah, mereka harus menyeberangi laut menggunakan perahu. Sebagian diantar orang tua, sementara sebagian lainnya bahkan harus mendayung sendiri.

“Bagi mereka, pergi ke sekolah bukan perkara sederhana. Mereka harus menyeberangi laut. Tetapi semangat mereka untuk belajar tidak pernah surut,” tuturnya.

Perjuangan tersebut membuat pendidikan di Pulau Rao memiliki cerita tersendiri. Setiap perjalanan menyeberangi laut menjadi bagian dari ikhtiar anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Menurut Abubakar, pelaksanaan upacara kemerdekaan di wilayah terpencil bukan sekadar kegiatan seremonial. Kehadiran pemerintah bersama para pelajar merupakan bentuk penegasan bahwa negara hadir hingga ke wilayah yang secara geografis sulit dijangkau.

“Di pulau terpencil kita kibarkan Merah Putih, di sekolah kita tanamkan nasionalisme,” kata mantan Ketua KNPI tersebut.

Ia mengatakan, jarak geografis tidak boleh membuat anak-anak di pulau terpencil merasa jauh dari Indonesia.

“Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia,” katanya.

Abubakar menegaskan, anak-anak di wilayah terpencil memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan mengembangkan potensi mereka.

Karena itu, pemerataan layanan pendidikan harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk pulau-pulau terpencil di Maluku Utara.

Selain memimpin upacara, rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara juga membawa bantuan komputer dari Gubernur Sherly Tjoanda Laos untuk SMA Kristen Posi-Posi Rau dan SMA BPD Leo-Leo.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus membuka akses para siswa terhadap teknologi dan informasi.

“Kami datang bukan hanya untuk upacara. Kami ingin melihat langsung kondisi sekolah, mendengar kebutuhan anak-anak dan guru, serta membawa dukungan yang bisa membantu proses pembelajaran,” tandasnya.

Di halaman SMA Kristen Posi-Posi Rau, Merah Putih berkibar di tengah laut dan keterbatasan akses.

Kehadiran jajaran pemerintah mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Rao. Bagi mereka, perhatian terhadap pendidikan di wilayah terpencil menjadi bukti bahwa semangat pembangunan dan kemerdekaan harus dirasakan hingga ke pulau-pulau terluar.

Bagi para pelajar Pulau Rao, upacara kemerdekaan bukan sekadar peringatan sejarah.

Kibaran Merah Putih menjadi penegasan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia dan memiliki masa depan yang sama untuk diperjuangkan.

Mereka mungkin harus menembus laut untuk sampai ke sekolah. Namun, semangat belajar membuat jarak dan keterbatasan bukan menjadi penghalang.

Di antara laut dan perahu, anak-anak Pulau Rao tetap berdiri tegak. Belajar, bermimpi, dan merayakan kemerdekaan dengan penuh harapan. (ask)