BPJN Malut Kebut Perbaikan Ruas Bastiong–Jambula, DPT Ngade Dikejar Tuntas Agustus

PENAMALUT.COM, TERNATE – Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Maluku Utara mempercepat penanganan infrastruktur di ruas jalan nasional Bastiong–Jambula, Kota Ternate. Salah satu pekerjaan yang kini dikebut ialah pembangunan Dinding Penahan Tanah (DPT) di depan Benteng Kota Janji, Kelurahan Ngade, yang ditargetkan rampung pada akhir Agustus 2026.

Percepatan itu dipastikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPJN Maluku Utara, Abdul Hamid Payapo, saat meninjau lokasi proyek pada Senin, 6 Juli 2026. Selain DPT di Ngade, BPJN juga tengah menangani penggantian saluran air atau box culvert di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan.

Abdul Hamid mengatakan, proyek DPT di Ngade sejatinya dijadwalkan serah terima Provisional Hand Over (PHO) pada Desember 2026. Namun, BPJN Malut mendorong pekerjaan itu agar dapat diselesaikan lebih cepat, yakni pada Agustus mendatang.

“Konstruksi Dinding Penahan Tanah ini menggunakan beton. Diharapkan bisa selesai dalam waktu cepat dengan mutu yang memenuhi kualitas beton fc 30,” ujar Abdul Hamid di sela peninjauan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, material besi untuk struktur bangunan telah tersedia di lokasi. BPJN juga telah menyusun jadwal taktis pelaksanaan pekerjaan, yakni minggu pertama Juli dimulai pekerjaan galian tanah, sementara minggu kedua Juli masuk pada tahapan pembesian struktur.

Untuk mengantisipasi dampak pekerjaan terhadap arus lalu lintas, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) disebut telah berkoordinasi dengan Satuan Lalu Lintas setempat guna menyiapkan rekayasa lalu lintas serta pemasangan rambu-rambu keselamatan di sekitar area proyek.

Masyarakat dan pengguna jalan yang melintasi ruas Bastiong–Jambula diimbau tetap berhati-hati selama proses konstruksi berlangsung.

Selain proyek DPT di Ngade, Abdul Hamid juga meninjau pekerjaan penggantian saluran air atau box culvert di ruas Bastiong–Jambula, tepatnya di Kelurahan Kayu Merah. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengganti gorong-gorong lama jenis aramco yang telah patah dan rusak.

Penggantian dilakukan menggunakan box culvert beton pracetak berukuran 1 x 1 meter. Menurut Abdul Hamid, metode beton pracetak dipilih karena lebih cepat dipasang dan dapat meminimalkan gangguan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.

“Pemasangannya jauh lebih cepat karena diproduksi di luar lokasi, sehingga waktu konstruksi singkat dan gangguan lalu lintas atau penutupan jalan bisa diminimalkan,” katanya.

Ia menambahkan, penggunaan beton pracetak juga dinilai lebih menjamin kualitas dan dimensi beton karena diproduksi dalam lingkungan yang terkontrol. Selain itu, konstruksi tersebut dinilai lebih tahan menahan beban lalu lintas tinggi serta kikisan arus air.

Proyek lintas saluran atau cross drain ini diharapkan mampu mengalirkan debit air secara efektif, sekaligus mengurangi risiko banjir dan genangan yang selama ini kerap memicu kerusakan badan jalan di kawasan Bastiong–Jambula.

Dalam peninjauan tersebut, Abdul Hamid didampingi Kepala Satuan Kerja PJN Wilayah 2 dan PPK 2.4 untuk memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana. (ask)