Kasus Covid di Halsel Naik, Dinkes Malut Minta Kabupaten/Kota Kirim Spesimen

0
Kabid P2P Dinkes Malut, dr. Rosita Alkatiri. (Istimewa)

PENA – Jumlah kasus Covid-19 di Maluku Utara (Malut) pada beberapa hari terakhir ini meningkat. Peningkatan ini tersebar di beberapa daerah, salah satunya adalah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Data yang dihimpun per 7 Januari 2021, jumlah kasus aktif di Malut mencapai 390 kasus.

Dari jumlah tersebut, Kabupaten Halsel memiliki kasus terbanyak, yakni 151 kasus. Kemudian Kabupaten Halmahera Utara 95 kasus, Kota Tidore 40 kasus, Kota Ternate 39 kasus, Kepulauan Sula 31 kasus, Halmahera Timur 15 kasus, Halmahera Tengah 14 kasus, dan Halmahera Barat 5 kasus. Sementara Kabupaten Taliabu dan Pulau Morotai nol kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Provinsi Malut, dr. Rosita Alkatiri menjelaskan, meningkatnya jumlah kasus ini dikarenakan kesadaran masyarakat terkait protokol kesehatan sudah mulai minim. Terjadinya kerumunan, tidak menggunakan masker, dan tidak menjaga jarak.

Daerah seperti Halmahera Selatan, kata Rosita, memiliki jumlah kasus yang banyak. Sebab Halsel sudah memiliki alat PCR dan mampu melakukan pemeriksaan sendiri terhadap covid. “Sebenarnya daerah lain juga berpotensi peningkatan kasus yang sama, apabila melakukan pemeriksaan covid secara intens seperti yang dilakukan Halsel. Ini juga karena kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan sangat minim,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa daerah lain yang belum memiliki alat PCR, seharusnya dapat mengirimkan spesimennya ke Dinas Kesehatan Malut untuk mengujinya. Namun beberapa daerah lainnya sudah jarang, bahkan sudah tidak lagi mengirimkan spesimen. Padahal, kata dia, untuk dapat mengendalikan covid sekaligus mengejar target pemeriksaan PCR yaitu 1/1000 penduduk per minggu, maka diharapkan kabupaten/kota dapat menerapkan strategi identifikasi kasus sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) RI Nomor: HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19.

Ia bilang, target pemeriksaan PCR setiap daerah sudah ditentukan sesuai KMK tersebut. Untuk Kota Ternate dengan jumlah penduduk 238.204 jiwa, maka per minggu harus ada 238 PCR yang diperiksa atau perharinya 34 spesimen. Kota Tidore Kepulauan ddngan jumlah penduduk 102.381 jiwa, target PCR per minggu 102 atau perhari 15 PCR. Halmahera Barat dengan jumlah penduduk 120.166, maka target per minggu 120 atau per hari 17 PCR. Halmahera Utara dengan jumlah penduduk 197.403 jiwa, maka target per minggu 197 atau per hari 28 PCR.

Kabupaten Halmahera Selatan dengan jumlah penduduk 238.733 jiwa, maka target per minggu 239 atau per hari 34 PCR. Halmahera Tengah dengan jumlah penduduk 57.101 jiwa, maka target per minggu 57 atau per hari 8 PCR. Halmahera Timur dengan jumlah penduduk 97.420 jiwa, maka target per minggu 97 atau per hari 14 PCR. Kepulauan Sula dengan jumlah penduduk 104.971 jiwa, maka target per minggu 105 atau per hari 15 PCR.

Pulau Morotai dengan jumlah penduduk 68.974 jiwa, maka target per minggu 69 atau per harinya 10 PCR. Pulau Taliabu dengan jumlah penduduk 53.411 jiwa, maka target per minggu 53 atau per hari harus 8 PCR. “Tapi kenyataannya banyak daerah tidak melakukan pemeriksaan atau mengirim spesimen sesuai target yang telah ditentukan,” kata mantan Juru Bicara Tim Gustu Malut ini.

Dirinya juga menyampaikan untuk wilayah Malut saat ini masih zona oranye. Di mana sejumlah daerah seperti Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Morotai, Kota Ternate dan Kota Tidore berada pada zona tersebut. Sementara Halmahera Barat dan Kepulauan Sula berada pada zona kuning, dan Pulau Taliabu tetap zona hijau. Meski Pulau Morotai memiliki nol kasus, akan tetapi masih zona oranye lantaran peta zona di update sebelum Morotai memiliki nol kasus.

Peta zonasi, kata Rosita, akan di update per 15 hari. Untuk hasil pembobotan skor dan zonasi risiko daerah akan diperbaharui secara mingguan. (ask)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here