Penerapan PPKM Mengancam Pendapatan Pedagang di Halmahera Utara

  • Bagikan
Ilustrasi PPKM. (Istimewa)

PENAMALUT.COM, TOBELO – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Halmahera Utara mengancam pendapatan para pedagang.

Kebijakan pemerintah untuk mencegah penularan covid-19 ini justru membuat resah para pedagang, baik itu pemilik rumah makan, penjual buah maupun pedagang lainnya.

Penerapan PPKM yang diikuti dengan razia dari TNI/Polri dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sepanjang pertokoan Kota Tobelo itu memerintah seluruh rumah makan, restoran, maupun cafe, harus ditutup pada pukul 21.00 WIT atau jam 9 malam. Ini sesuai anjuran pemerintah.

Kasmari, pemilik rumah makan Arto Moro saat ditemui di rumah makannya Sabtu (24/7), mengaku kebijakan pemerintah membatasi jam malam ini sangat berdampak pada pendapatannya.

Sebelum pemberlakuan jam malam, rumah makannya ini ditutup diatas pukul 12 malam, dan pendapatannya mencapai 10 juta rupiah. Namun setelah adanya kebijakan PPKM dan pemberlakuan jam malam, pendapatannya menurun hingga 3 juta rupiaj.

“Seharusnya tempat hiburan yang hanya kebutuhan orang bersenang-senang itu ditutup. Warung makan tidak boleh ditutup, karena kebutuhan isi perut,” ujarnya.

Ia mengaku pendapatannya menurun dan sulit untuk menggaji karyawannya yang berjumlah 9 orang. Setiap karyawan diupah sejuta perbulan. Membayar karyawan ia terpaksa memakai simpanannya.

“Kalau sudah begini, kita harus mengeluh ke siapa lagi,” keluh Kasmiri.

Ia berharap pemerintah memberikan kelonggaran agar rumah makan tetap dibuka dengan hanya melayani pembeli yang makanannya dibungkus dan tidak bisa makan ditempat. Dengan cara seperti ini, ia yakin bisa bertahan di tengah pandemi ini tanpa mengurangi karyawannya.

“Kalau tidak begitu, maka terpaksa harus kita kurangi karyawan dan itu akan menambah pengangguran,” tuturnya.

Hal yang sama dialami pedagang buah, Marwiah. Menurutnya, pemberlakuan jam malam yang diikuti dengan razia mempengaruhi pendapatannya.

“Sudah lama saya berjualan buah. Biasanya pendapatan saya 700 sampai 800 ribu. Tapi setelah penerapan PPKM ini sepi pembeli. Pendapatan saya turun jauh, hanya 300 ribu, itupun kadang-kadang tidak sampai,” beber Marwiah.

Ia bilang, jika hal ini terus diterapkan, maka akan mengancam keberlangsungan para pedagang buah. Sebab tidak ada pembeli dan buah jadi membusuk.

“Boleh PPKM diterapkan, tapi harus ada kebijakan yang melonggarkan buat para pedagang. Tolong ini diperhatikan,” pintanya. (fnc/ask)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!