Wali Kota Ternate Bakal Pecat Anak Buahnya Yang Diduga Memeras Pedagang

Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman. (Karno/NMG)

PENAMALUT.COM, TERNATE – Sejumlah pedagang asongan di Pasar Gamalama mengaku diperas oknum di Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kota Ternate.

Mendengar pengakuan para pedagang ini, Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman menegaskan bakal memecat anak buahnya yang melakukan pemerasan tersebut.

“Bagi oknum yang mencari keuntungan pribadi dengan memalak pedagang, kami akan evaluasi. Jika ditemukan, maka oknum tersebut dipindahkan, bila perlu dipecat,” tegas Tauhid.

Dari dulu, kata wali kota, ia tidak punya kepentingan di pasar, karena ia tahu ada mafia di pasar.

“Jadi kasih saya waktu untuk perbaiki, ibarat pohon ini saya pangkas dari daun sampai pada akar dihabisi,” tandasnya.

Wali kota juga berjanji dalam waktu dekat ini akan melakukan penertiban dan evaluasi secara menyeluruh di lingkup Disperindag.

Terkait pedagang asongan, dirinya meminta agar oknum yang sudah memeras itu agar segera mengembalikan uang yang sudah dikasih. Selain itu juga harus dipertanggungjawabkan.

“Dari dulu-dulu sudah ada kedapatan, kalau dengan saya jangn coba-coba. Bagi pedagang asongan, minta itu pertanggungjawaban kepada mereka dan suruh mereka kembalikan uang itu,” tukasnya.

Dihadapan ibu-ibu pedagang yang melakukan aksi di depan kantor walikota Rabu (22/9) siang tadi, wali kota menyampaikan soal pasar akan tetap ditata, sehingga ia meminta kepada para pedagang untuk bersabar dan tetap berjualan di dalam.

“Saya butuh waktu. Jika ibu-ibu tidak taat, maka akan sulit. Pasar akan ditata, apalagi keadaan pasar seperti itu. Tidak manusiawi,” tuturnya.

Pedagang asongan maupun barito melakukan aksi di depan kantor Wali Kota Ternate, siang tadi. (Udi/NMG)

Mantan Sekda Kota Ternate ini juga berkeinginan besar untuk menata dan menertibkan agar terlihat manusiawi. Untuk itu, ia meminta kepada para pedagang agar tetap mengikuti apa yang pemerintah arahkan.

“Yang ada di pasar itu oknum, jadi harus dengar saya. Untuk itu akan diperintahkan sebentar jam 5 sore turun pengecekan. Kita akan menyaksikan seperti apa, kemudian tuntutan akan diakomodir, karena keinginan kita pasar itu rapih. Bapak ibu harus tahu sebenarnya pasar higienis awal tidak seperti itu, tapi nyatanya sudah kusut. Jadi harus ditata,” terangnya.

Sebelumnya, sejumlah pedagang asongan yang mendatangi kantor walikota mengungkapkan pemerasan yang mereka alami.

Iman, salah seorang pedagang asongan mengatakan, sejak dirinya berjualan asongan di wilayah Disperindag, ia selalu dimintai uang oleh oknum Disperindag.

“Mereka (petugas) datang dan minta uang. Kalau kami tidak kasih, mereka ancam akan membongkar tempat kami,” ungkapnya.

Puluhan pedagang asongan menyampaikan keluhan mereka. (Karno/Penamalut)

Pedagang itu membeberkan, oknum petugas tersebut meminta uang 500 ribu. Tak lama petugas itu juga datang kembali dan meminta uang 2 juta sebagai uang muka dengan alasan akan dibuat kanopi.

“Mereka minta uang ini setiap bulan. Awalnya diminta 10 juta karena jumlah kita ada 6 orang, maka masing-masing kita kasih 2 juta. Jadi total semuanya 12 juta. Mereka mintanya di minggu kemarin bulan ini. Jadi semua kami kasih, dan yang tagih duit itu kepala pasar yang baru, bahkan dia minta sama saya untuk ke kantornya,” akunya.

Para pedagang juga mengaku selain menyetorkan 2 juta per orang sebagai uang muka, juga akan diberlakukan bayar tempat dengan harga Rp 20 juta lebih.

“Kata teman-teman saya, sekitar 20 jutaan bayar tempat kanopi. Saya bilang siap bayar asalkan kita tidak lagi diusir,” ujarnya.

Namun sampai saat ini, kanopi yang dijanjikan itu belum dibuatkan oleh petugas. (adv/ano/udi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.