Keluarkan Sprin Penyelidikan Dugaan Proyek Bermasalah Disarpus Malut, Kejati Siap Panggil Muliadi

Kepala Kejati Malut, Dade Ruskandar. (Aksal/NMG)

PENAMALUT.COM, TERNATE – Surat Perintah (Sprin) penyelidikan dugaan proyek pembangunan depo arsip milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Provinsi Maluku Utara yang diduga bermasalah telah dikeluarkan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Malut.

Sprin yang ditandatangani Kajati Malut, Dade Ruskandar itu ditujukan kepada bidang Intelijen untuk melakukan pengumpulan data, bahan dan keterangan (Puldata dan baket) terhadap proyek yang dianggarkan dua tahap senilai Rp 1,8 miliar lebih tersebut.

Kajati Malut, Dade Ruskandar, mengatakan setelah Sprin diterbitkan, maka pihak Intelijen langsung action.

“Akan dilakukan Puldata dan Pulbaket, apakah turun ke lapangan atau melakukan klarifikasi kepada pihak-pihak terkait,” kata Dade kepada wartawan Nuansa Media Grup (NMG), Selasa (18/10).

Dade menegaskan semua pihak terkait bakal dipanggil untuk dimintai keterangan, termasuk Kepala Disarpus Malut, Muliadi Tutupoho.

Proyek depo arsip milik Dinas Arsip yang baru terlihat fondasinya

”Semua pihak yang terkait akan dimintai klarifikasi. Jadi yang terkait semua,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, proyek pembangunan gedung depo arsip tahap pertama senilai Rp 572.412.000 yang dikerjakan CV. Fausta Pratama pada November 2021 lalu hingga kini tak ada progres pekerjaannya.

Hasil penelusuran wartawan, proyek yang berlokasi di belakang Dinas Kearsipan dan Perpustakaan di Sofifi itu tak terlihat adanya tanda-tanda pembangunan.

Pemilik CV. Fausta Pratama, Irfan saat dikonfirmasi, mengaku tidak terlibat dalam pengerjaan proyek tersebut. Bahkan ia juga tidak tahu siapa pejabat pembuat komitmen (PPK) pada proyek itu.

”Itu (perusahaan) mungkin dipakai orang, saya juga lupa. Mungkin belum cair. Nanti saya cari tahu lagi. Seingat saya proyek depo arsip itu dulu tidak jadi. mungkin begitu,” katanya kepada wartawan, Rabu (5/10) lalu.

Setelah ditelurusi lebih lanjut, ternyata ada nama Abdurrahman yang diketahui melaksanakan pekerjaan tersebut. Abdurahman ketika dikonfirmasi, ia juga mengaku pekerjaan itu telah selesai dikerjakan dan menghabiskan Rp 550 juta, namun hanya untuk pengerjaan tiang pancang.

“Tahap satu itu anggaranya cuman tiang pancang pada pekerjaan tahap awal, dan ini tahap dua akan dilanjutkan sekaligus dengan strukturnya,” akunya.

Meski demikian, tiang pancang yang dimaksud Abdurahman tidak berdiri seperti yang dibayangkan. Namun tiang pancang tersebut hanya berkisar 6 tiang yang ditanam kedalam. Bahkan diduga proyek tahap awal ini dikerjakan dalam hitungan minggu.

Sementara untuk pembangunan gedung depo tahap dua dianggarkan senilai Rp 1.365.945.230. proyek tahap dua ini dikerjakan oleh CV. Dwi Tolire Pratama dengan masa kontrak selama 120 hari terhitung sejak 14 Juli 2022. Namun sampai Oktober 2022 ini, proyek dengan nilai 1,3 miliar itu baru terlihat fondasinya. Padahal masa kontraknya harus berakhir pada 11 November 2022 atau kurang dari sebulan. (gon/ask)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *