MAJANG  

Ongkos Mahal, Barang Hilang: Pedagang Ternate Pertanyakan Tanggung Jawab Ekspedisi PELNI

PENAMALUT.COM, TERNATE — Ongkos pengiriman yang mahal tak selalu menjamin barang tiba dengan utuh. Kondisi itu dikeluhkan seorang pedagang di Kota Ternate, Maluku Utara, berinisial HDN, yang mengaku mengalami kerugian sekitar Rp10 juta setelah satu karung bawang merah miliknya diduga hilang dalam proses pengiriman menggunakan jasa ekspedisi kapal PELNI.

HDN mengatakan, barang miliknya dengan total berat sekitar 250 kilogram dikirim dari Surabaya dan seharusnya tiba di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, pada 17 Juni 2026.

Namun, saat barang diterima, sebagian muatan miliknya disebut tidak ditemukan.

Kehilangan tersebut membuat HDN mempertanyakan tanggung jawab pihak ekspedisi. Sebab, biaya pengiriman telah dibayarkan dan barang diserahkan melalui mekanisme pengiriman resmi dengan dokumen yang menyertai.

“Kami sebagai pedagang sudah membayar mahal untuk ongkos pengiriman dari Surabaya. Namun, ketika terjadi kehilangan barang, kami merasa tidak mendapatkan respons dan pelayanan yang baik,” ujar HDN, Selasa (22/9).

Menurutnya, persoalan tersebut semakin membebani pedagang karena biaya logistik untuk mendatangkan komoditas ke Ternate sudah cukup tinggi.

Ia juga membandingkan ongkos pengiriman melalui kapal PELNI dengan kapal swasta. Biaya yang dikeluarkan melalui jasa ekspedisi kapal PELNI dinilai lebih mahal dibandingkan kapal swasta.

“Barang saya hilang satu karung. Kerugiannya kurang lebih sekitar Rp10 juta. Kami sudah komunikasikan dengan PELNI, tetapi sampai sekarang belum ada upaya ganti rugi,” katanya.

HDN mengaku telah berulang kali mengomunikasikan persoalan tersebut kepada pihak terkait. Namun, hingga kini ia menyebut belum mendapatkan penyelesaian mengenai ganti rugi atas barang yang hilang.

Persoalan kehilangan barang dalam proses pengiriman juga bukan hanya dialaminya. Ia menyebut terdapat pedagang lain yang mengalami persoalan serupa.

“Hal seperti ini kami sebagai pedagang tidak hanya tinggal diam, karena bukan hanya saya, tetapi terjadi juga pada pedagang yang lain,” tuturnya.

Bagi HDN, kehilangan satu karung bawang merah tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil. Sebab, barang yang dikirim merupakan bagian dari modal usaha yang harus kembali agar roda perdagangan tetap berjalan.

“Memang barang ini terlihat sedikit, tapi jangan diperbiasakan. Kalau kita diam, nanti barang yang hilang dianggap biasa saja. Apalagi modal kita tidak berputar,” tandasnya.

HDN juga mempertanyakan mekanisme pertanggungjawaban terhadap barang yang hilang.

Ia mengaku mendapat informasi bahwa nilai pertanggungjawaban hanya sekitar Rp5 per kilogram. Menurutnya, nilai tersebut sangat jauh dibandingkan dengan nilai barang maupun biaya pengiriman yang telah dikeluarkan.

Ia menyebut berat barang yang dikirim sekitar 250 kilogram, dengan nilai barang dan ongkos pengiriman mencapai sekitar Rp45 ribu per kilogram.

“Memang ada ketentuan untuk bertanggung jawab, tetapi kalau dihitung dengan asuransi, kemudian efek pelayanan kepada masyarakat, apakah kami harus legowo? Kan tidak mungkin,” katanya.

Ia menyebut pedagang menggunakan jasa ekspedisi dengan harapan barang yang telah diserahkan dan dibayar dapat diterima dalam kondisi sesuai dengan jumlah yang dikirim.

“Jasanya kita bayar cash, dengan harapan kita tinggal menerima barang di pelabuhan. Jadi kalau kita tidak menerima barang, harus ada tanggung jawab,” tegasnya.

Ia berharap pihak terkait segera memberikan kepastian mengenai barang yang hilang sekaligus mekanisme penyelesaiannya.

Bagi HDN, persoalan ini bukan sekadar kehilangan satu karung bawang. Jika kehilangan barang dalam proses distribusi dibiarkan tanpa penyelesaian yang jelas, kondisi tersebut dinilai dapat semakin menambah beban pedagang yang selama ini sudah menghadapi tingginya biaya logistik.

“Jangan sampai barang hilang dianggap biasa. Kami pedagang juga punya modal yang harus diputar,” katanya.

HDN berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan dan menjadi perhatian pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali dialami pedagang lain yang menggunakan jasa ekspedisi menuju Kota Ternate. (udi/ask)