Bijak Bersosial Media Dikala Pandemik

0

Tinjauan Regulasi Emosi Pengguna Social Media

Oleh: Rahmat Hidayat Made, S.Psi., M.Sc

Dosen Psikologi Kebencanaan

Dewasa ini media sosial bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat. Pengguna media sosial tidak mengenal batasan umur maupun status sosial. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein, media sosial adalah “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran User-Generated Content. Dalam perkembangannya yang semakin pesat yang kita rasakan saat ini, media sosial ternyata dapat membangun suatu interaksi sosial antara individu dalam berbagi dan bertukar informasi.

Maraknya pemberitaan di media sosial yang berisikan informasi mengenai situasi yang sedang dihadapi bangsa saat ini yaitu covid19 tanpa disadari dapat memengaruhi regulasi emosional pengguna media sosial di tanah air. Kondisi psikologis masyarakat kita di tanah air yang sangat peka terhadap arus informasi di media sosial menyebabkan timbulnya reaksi yang berbeda – beda dari masing – masing individu dalam merespons informasi tersebut. Fenomena ini tanpa kita sadari dapat menimbulkan reaksi emosional serta turut memengaruhi aktivitas sehari hari sebagai respons terhadap informasi yang telah kita terima di media sosial mengenai COVID-19. Berbagai riset tentang penggunaan media sosial telah menyimpulkan adanya hubungan antara media sosial dengan kondisi emosional individu.

Definisi Emosi

Mengutip pengertian dasar emosi yang pada hakikatnya memiliki pengertian yaitu “Emotion” dari kata Emouvoir berasal dari bahasa Perancis yang bermakna kegembiraan, sedangkan dari bahasa latin emosi berasal dari suku kata emovere yang berarti luar dan movere yang berarti bergerak. Para ahli psikologi mendefinisikan bahwa suatu peristiwa atau fenomena yang dihasilkan oleh reaksi fisiologis individu dapat menimbulkan reaksi emosional.

Daniel Goleman (2007) mengemukakan bahwa emosi adalah sebuah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur – angsur pada diri seseorang. Menurut Goleman emosi dirangsang dari luar dan dalam diri individu, selebihnya menurut Goleman, kondisi emosional yang berasal dari luar sangat berpengaruh besar terhadap respons fisiologis berupa perubahan suasana hati (mood) pada diri seseorang.

Pengaruh Media Sosial Terhadap Kondisi Psikologis Seseorang

Pada kenyataannya dewasa ini penggunaan media sosial telah menunjukkan adanya hubungan antara media sosial dengan kondisi emosional individu. Hampir setiap platform media sosial memiliki misi untuk menjaga penggunanya tetap online menggunakan media sosial tersebut. Demi mencapai tujuan ini, aplikasi-aplikasi tersebut menggunakan fungsi-fungsi sosial sebagai sebuah adiksi yang bisa menjadi ‘penghargaan’ bagi penggunanya untuk tetap online di sana. Beberapa fitur yang ada di beberapa media sosial diyakini dapat menghasilkan perubahan emosional pada individu. Fitur tersebut Like atau Love, komentar, dan notifikasi yang kita terima di ponsel melalui aplikasi-aplikasi media sosial tersebut memberikan perasaan positif bahwa kita diterima secara sosial.

Salah satu riset yang dilakukan oleh Darmoc, (2018) untuk menentukan pengaruh teknologi bisa menstimulasi dopamine dalam otak saat menggunakan produk media sosial supaya kita merasa senang dengan diri sendiri. Melalui riset tersebut Darmoc menunjukkan kondisi kelompok yang mengalami kecanduan di saat mereka tidak mendapatkan notifikasi dari media sosial aplikasi di ponsel mereka, mereka merasa ketakutan, gelisah, dan kesepian. Untuk mengatasi efek Darmoc mencoba memberikan kembali ponsel pada kelompok tersebut untuk mentralisir kembali kondisi emosional mereka.

Dari penelitian tersebut dapat dilihat bahwa salah satu cara media sosial dalam memengaruhi kondisi psikologis individu adalah melalui konsep yang disebut dengan Emotional Contagion atau penularan emosional. Fenomena Emotional Contagion atau penularan emosional merupakan kondisi di mana keadaan emosi secara tidak sadar ‘ditransmisikan’ antar individu melalui media tertentu, dalam hal ini adalah media sosial. Dalam sebuah studi yang dilakukan E. Ferrara dan Z. Yang, yang melibatkan sekitar 3.800 subjek. Subjek penelitian tersebut adalah pengguna media sosial yang dipilih secara acak untuk diuji mengenai penularan emosi yang terbaca di tulisan dalam konten yang mereka baca secara online. Studi ini menemukan fakta bahwa keadaan emosi mudah dimanipulasi oleh konten media sosial dengan cara yang sederhana, yaitu membaca konten atau tulisan yang ditulis penuh emosi bisa memicu perasaan yang sama bagi pembacanya. Dalam kata lain, saat pengguna media sosial melihat tulisan sedih temannya yang dipost di media sosial, mereka bisa seketika merasakan kesedihan tersebut.

Dalam situasi pandemik ini kebanyakan di antara kita berusaha untuk membagikan atau men-shared postingan mengenai informasi covid-19. Tujuan dari kita pada dasarnya mungkin saja baik untuk saling mengingatkan mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh virus tersebut. Akan tetapi, disisi lain postingan yang kita bagikan tersebut ternyata dapat menghasilkan kondisi emosional yang berbeda bagi sebagian publik yang membaca konten tersebut. Perubahan suasana hati yang berbeda pada tiap – tiap individu dapat membawa pada perilaku destruktif, seperti merasa terancam, kecemasan yang berlebihan dsb. Selain itu, Saat kita melihat kurasi konten kehidupan orang lain, kita pun otomatis akan membandingkan kondisi hidup mereka yang seakan terlihat indah dan sempurna dengan bagian buruk dari hidup kita. Sehingga bisa memunculkan perasaan malu, rendah diri, dan inferior. Perasaan-perasaan ini bahayanya bisa membawa kita lebih jauh lagi ke perilaku destruktif seperti pencarian pengakuan diri atau bahasa sederhananya adalah cari perhatian. Yang patut di ingat adalah, disaat kita merasa telah mendapat perhatian lewat postingan yang kita bagikan ternyata masih ada individu yang cemas terhadap informasi yang kita bagikan.

Asumsi tersebut sesuai dengan Pendapat Santrock, (2011) mengemukakan bahwa pada dasarnya emosi manusia dibagi menjadi dua kategori umum jika dilihat dari dampak yang ditimbulkannya yaitu Afektivitas positif dan Afektivitas Negatif. Afektivitas positif mengacu pada derajat emosi yang positif, dari energi yang tinggi berupa antusiasme, dan kegembiraan hingga perasaan sabar, tenang dan menarik diri dari situasi yang membahayakan buat diri sendiri maupun orang disekitarnya. Sebaliknya, Afektivitas Negatif mengacu pada emosi yang bersifat negatif seperti kecemasan, kemarahan, perasaan bersalah dan kesedihan yang mendalam. Efisiensi penggunaan media sosial untuk tujuan yang positif memerlukan regulasi emosi yang baik. Regulasi emosi merupakan kemampuan individu memproses, mengelola serta memilah dan mengendalikan emosi dalam merespons setiap peristiwa untuk tujuan yang positif pada individu.

Dampak Negatif dan Positif Media Sosial Disaat Pandemik

Kehadiran Media sosial saat ini tanpa disadari dapat memberikan dampak buruk bagi pengguna jika penggunaannya tidak memerhatikan kaidah dan lemahnya kontrol emosional yang dimiliki oleh individu tersebut. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh sosial media terhadap pengguna diantaranya adalah:

  1. Susah bersosialisasi dengan orang sekitar. Kondisi tanggap darurat covid19 yang mengharuskan kita untuk menjalani aktivitas kita dengan cara Social / Physical Distancing menyebabkan penggunaan  media sosial menjadi intens sehari – hari. Akan tetapi disisi lain hal ini dapat menyebabkan pengguna sosial media menjadi malas belajar berkomunikasi secara nyata. Fenomena ini dapat dilihat pada beberapa diantara kita yang sangat aktif di sosial media, kita selalu memposting apa saja yang sedang dikerjakan, namun keadaan yang berbeda 180 derajat bisa saja terjadi jika  kita bertemu secara nyata.
  2. Egois dan mementingkan diri sendiri. Situs sosial media akan membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan sekitar mereka, karena kebanyakan menghabiskan waktu di internet.
  3. Kesulitan menggunakan bahasa Indonesia yang Baku Karena pengguna media sosial lebih sering menggunakan bahasa informal dalam aktivitasnya di media sosial sehingga aturan bahasa formal mereka menjadi terlupakan.
  4. Mengurangi kinerja. Karyawan perusahaan, pelajar, mahasiswa yang bermain media sosial pada saat sedang mengerjakan pekerjaannya akan mengurangi waktu kerja dan waktu belajar mereka.
  5. Berkurangnya privasi pribadi. Dalam sosial media kita bebas menuliskan dan membagikan  apa saja, Sering kali tanpa sadar kita mempublish hal yang seharusnya tidak perlu disampaikan ke lingkup sosial.
  6. Kejahatan dunia maya. Kejahatan dikenal dengan nama Cyber-crime. Kejahatan dunia maya sangatlah beragam. Diantaranya : Carding, Hacking, Cracking, Phishing, dan Spamming.
  7. Pornografi. Salah satu kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Terkadang seseorang memposting foto yang seharusnya menjadi privasi dia sendiri di sosial media, hal ini sangat berbahaya karena bisa jadi foto yang hanya di postingnya di sosial media disalah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sifat dan intensitas emosi sangat berkaitan erat dengan aktivitas kognitif (berpikir) manusia sebagai hasil dari persepsi terhadap rangsangan dari luar. Reaksi tersebut baik disadari maupun tidak disadari akan melahirkan dampak yang luar biasa bagi individu dengan kondisi psikologis yang kurang matang. Sebagai contohnya ketika kita menyebarkan informasi berita mengenai COVID-19 dengan privasi publik di media sosial seperti Facebook, informasi ini dapat merangsang perubahan suasana hati seseorang karena adanya proses penginderaan atau persepsi dari individu yang menerima atau membaca informasi tersebut. Hal ini dikarenakan emosi merupakan reaksi tubuh saat menghadapi situasi tertentu Prezz (2011).

Berdasarkan uraian mengenai dampak buruk media sosial oleh peneliti tersebut dapat dilihat bahwa media sosial dapat berperan memperburuk serta memengaruhi kondisi emosional seseorang. Reaksi emosional tersebut tidak dapat dilihat namun akan tampak dalam bentuk ekspresi dan perilaku individu tersebut. Situasi sulit yang dihadapi oleh individu akan direspons oleh tubuh serta tampak berupa ekspresi secara emosional. Dengan demikian reaksi emosional seseorang tidak hanya berasal dari faktor internal individu tersebut akan tetapi juga dapat berasal dari faktor eksternal.

Selain dampak negatif, media sosial juga dapat menimbulkan dampak positif bagi penggunanya jika sang pengguna mempunyai pengguna memiliki regulasi emosional yang baik. Beberapa dampak positif diantaranya adalah :

  1. Silaturahmi Untuk menghimpun keluarga, saudara, kerabat yang tersebar, dengan jejaring sosial ini sangat bermanfaat dan berperan untuk mempertemukan kembali keluarga atau kerabat yang jauh dan sudah lama tidak bertemu, kemudian lewat dunia maya hal itu bisa dilakukan.
  2. Up to date Sebagai media penyebaran informasi. Informasi yang Up To Date sangat mudah menyebar melalui situs jejaring sosial. Hanya dalam tempo beberapa menit setelah kejadian, kita telah bisa menikmati informasi tersebut.
  3. Relasi Memperluas jaringan pertemanan. Dengan menggunakan jejaring sosial, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang belum kita kenal sekalipun dari berbagai penjuru dunia.
  4. Kepekaan Sosial Situs jejaring sosial membuat anak dan remaja menjadi lebih bersahabat, perhatian, dan empati.
  5. Sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan dan sosial. Pengguna dapat belajar bagaimana cara beradaptasi, bersosialisasi dengan publik dan mengelola jaringan pertemanan.
  6. Media pertukaran data. Dengan menggunakan jaringan situs – situs web para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
  7. Sebagai media promosi dalam bisnis. Hal ini memungkinkan para pengusaha kecil dapat mempromosikan produk dan jasanya tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Sebagai penutup penulis mengharapkan pengguna media sosial khususnya masyarakat Kota Ternate dapat lebih bijak dalam mempergunakan media sosial. Situasi tanggap COVID-19 ini mengharuskan kita agar dapat memelihara kondisi daya tahan tubuh kita serta daya tahan mental kita secara bersamaan. Penggunaan media sosial yang tepat dengan mempertimbangkan efisiensi pemakaian dari segi waktu dan memperhatikan konten yang diposting dapat memberikan efek positif bagi kita untuk tetap survive di tengah pandemik. Melalui tulisan ini penulis berusaha mengajak kita semua untuk lebih memerhatikan isi konten serta postingan kita di media sosial demi kebaikan bersama.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here