Opini  

Seperti Babi-babinya Orwell

Oleh: Zunajar Sibua

Ketua Bidang Organisasi DPD IMM Malut 

______________

DI suatu malam, Major si babi tua yang bijak bermimpi bakal terjadi sebuah revolusi di Peternakan Manor milik pak Jones. Major terbangun bersamaan dengan lahirnya keinginan akan sebuah perubahan di peternakan tersebut.

Keesokan malam yang sunyi, seluruh binatang berkumpul mendengarkan cerita mimpi dan ramalan si babi tua itu. Di depan itik, ayam, kuda, keledai, sapi, domba, anjing dan babi, serta binatang lainnya, Major meminta agar seluruh binatang di peternakan Manor, bersatu melawan manusia yang terus menyuruh para binatang bekerja untuk kepentingan dan kepuasan mereka.

“Manusia tak memproduksi,” si tua Major berpidato. “Mereka tak memberi susu, tak bertelur, terlalu lemah menarik bajak, tak bisa berlari cepat menangkap buruan. Tetapi, mereka adalah penguasa atas semua binatang.”

Tak hanya itu, si babi bijak meyakinkan, manusia juga terus menyuruh binatang bekerja dan hasil produksinya hanya disisakan sedikit saja bagi binatang agar tak kelaparan. Lebihnya, untuk mereka semua. Tenaga binatang terus dikuras hingga tubuhnya tak lagi berguna.

Sebelum ledakan peluru pak Jones yang membubarkan perkumpulan binatang di malam itu, Major telah menyerukan revolusi untuk masa depan dan kehidupan para binatang yang lebih layak.

Namun, Major meninggal beberapa hari setelah memberikan pandangan hidup baru bagi para binatang. Kerja mendidik dan mengorganisir dititahkan kepada para babi, yakni dua di antaranya yang paling menonjol, Snowball dan Napoleon.

Tak dikira dan tanpa rencana, revolusi yang diramalkan ternyata datang lebih awal. Itu bermula saat pak Jones mengalami masa yang suram. Ia sedikit banyak menghabiskan waktu dengan bermabuk-mabukan. Terlambat pulang dan telat bangun, membuatnya tak sempat memberi makan para binatang. Binatang yang kelaparan pun tak bisa lagi menahan diri. Seekor sapi terpaksa menabrak pintu kandang dengan tanduknya agar bisa mendapatkan jerami. Para binatang lainnya pun ikut menikmati jerami tersebut.

Pak Jones dan sejumlah karyawannya yang baru menyadari itu, berupaya menertibkan para binatang dengan cambukan-cambukan yang menyala-nyala. Tetapi, lecutan itu membuat para binatang marah, mereka memberontak. Pemberontakan pun terjadi dan hanya berlangsung singkat, yang diakhiri dengan kemenangan para binatang, setelah pak Jones dan orang-orangnya lari meninggalkan peternakan.

Demikianlah George Orwell menulis cerita sebuah proses revolusi dalam salah satu karya klasiknya yang fenomenal, Animal Farm (1945). Sebuah novel tipis dalam edisi Indonesia yang diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto ini hanya berisi 142 halaman.

Namun, ceritanya tentu tak hanya sebatas itu. Bahkan, kemenangan yang diraih itu barulah cerita awal di dua BAB pembukanya. Ceritanya berlanjut di kehidupan para binatang setelah kemenangan atas manusia. Dan, ceritanya begini:

Peternakan kini menjadi milik para binatang, dan pekerjaan menghasilkan pakan atau produksi pertanian terus dilanjutkan. Kali ini, mereka bekerja lebih semangat karena pekerjaan itu untuk diri mereka sendiri, menghasilkan pakan dari keringat mereka sendiri, bukan untuk memenuhi kebutuhan dan keserakahan manusia.

Meski di bawah komando si babi Snowball dan Napoleon, semua binatang di peternakan itu dipandang sama. Sebagaimana salah satu poin ideologi yang mereka tetapkan, “semua binatang setara.” Segala ketetapan yang diambil untuk ihwal produksi yang lebih baik, selalu berdasarkan hasil keputusan bersama, meski pada akhirnya tetap dari usulan para babi, sebagai binatang yang harus diakui lebih pintar.

Snowball dan Napoleon lah yang paling gemilang. Tetapi, mereka selalu tak sependapat. Jika yang satu mengusulkan sesuatu hal, maka yang satunya lagi menginginkan hal lain. Puncaknya, mereka berseteru terkait visi pembangunan peternakan binatang yang lebih maju. Karena itu, para binatang lainnya mulai kebingungan antara pilih Snowball atau pilih Napoleon.

Hingga tiba di waktu Snowball berpidato tentang pembangunan di peternakan yang tak hanya sebatas mendapatkan jerami, tapi melampaui itu semua, tentang “mesin,” Napoleon hadir dengan beberapa ekor anjing galak yang siap merobek daging binatang manapun. Snowball lah sasarannya. Ia diserang anjing-anjing yang terus menyalak, mengejarnya hingga tubuhnya tak sedikit pun boleh terlihat dari peternakan tersebut.

Snowball hilang dan keputusan selalu dominan datang dari Napoleon. Terkadang beberapa babi dan binatang lain menyampaikan protes akan keputusan yang dianggap keliru, tapi erangan anjing-anjing selalu menciutkan nyali mereka.

Beberapa tahun berjalan, para binatang bekerja lebih keras layaknya budak. Waktu beristirahat kian tipis. Tetapi, mereka tetap bersemangat menjalani kehidupan yang berat itu selagi tak menghamba pada manusia. Tenaga mereka semakin dipacu, apalagi Squealer datang membawa puisi dan pidato-pidatonya yang bagaikan halilintar membelah langit.

Squealer adalah si babi yang cerewet. Kata-katanya seperti langit yang bergemuruh dan menjawab setiap tanya. Bahkan, dunia bisa ia bolak-balik hanya dengan kelihaian lidahnya. Kepada para binatang, ia menyampaikan visi pembangunan dan cita-cita perjuangan mereka. Konsep pembangunan peternakan yang lebih maju, yang pernah digaungkan Snowball, kini mulai dikerjakan.

“Itu sebenarnya gagasan Napoleon, hanya saja dicuri oleh Snowball,” kata Squealer kepada para binatang, sembari menyuruh mereka bekerja lebih keras agar dapat menggapai cita-cita tersebut.

Musim terus berganti dan para binatang tentu semakin lelah tapi masih bahagia. Proses pembuatan mesin untuk kebutuhan hidup dan produksi pertanian yang lebih maju terus dikerjakan. Tak ada waktu istrahat, sampai-sampai beberapa binatang berpikir hidup mereka rasanya tak sekeras hidup di zaman pak Jones.

Sebab Napoleon lah yang disebut terus memikirkan nasib binatang, meningkatkan produksi pertanian, dan menjaga peternakan binatang dari manusia, serta tentu dari bayang-bayang Snowball yang sudah dianggap bersekongkol dengan pak Jones, maka para babi mendapatkan tempat yang lebih istimewa. Mereka tak lagi tinggal di kandang. Rumah yang ditinggalkan pak Jones kini menjadi tempat Napoleon menyepi dengan dijaga ketat oleh anjing-anjing di setiap pintu. Padahal, setelah awal revolusi pecah, seluruh binatang dilarang mendekati tempat tersebut sebagai bentuk kutukan terhadap manusia.

Janji dan sumpah para binatang perlahan mulai diingkari. Karena terlalu sibuk bekerja, para binatang lupa apa benar ada janji-janji itu yang sudah mereka tetapkan. Yang sering mereka dengar hanyalah, “seluruh binatang setara dan manusia adalah jahat, binatang adalah baik.”

Slogan yang sering dinyanyikan oleh sekawanan biri-biri itu bahkan didengungkan setelah Napoleon membantai para binatang yang dituduh bersekongkol dengan Snowball. Sejumlah binatang dipaksa mengakui kesalahan mereka oleh karena dituduh melakukan kesalahan bahkan receh, seperti seekor Biri-biri yang dipaksa mengaku kencing di kolam karena disuruh Snowball, pun dieksekusi mati. Tak terkira, banyak bangkai tertumpuk di bawah kaki Napoleon.

Perasaan para binatang yang menyaksikan itu bercampur aduk; takut, sedih dan bingung. Tetapi, sekali lagi, Squealer mampu meyakinkan mereka. Bahkan, seekor kuda jantan yang perkasa mengakui itu adalah kesalahan mereka semua, sehingga mereka perlu bekerja lebih keras lagi.

Musim terus berganti, mesin yang mengembangkan produksi dan kebutuhan peternakan sudah digunakan. Produksi pakan kian melimpah dan peternakan menjadi lebih berkembang. Napoleon yang sudah sangat gemuk juga telah membangun hubungan dengan peternakan lainnya, yang tentu dikelola manusia. Slogan “manusia adalah jahat, binatang adalah baik,” nyaris tak lagi didengar. Slogan itu kadang secara samar berbunyi minor, “manusia adalah baik dan binatang lebih baik.”

Namun begitu, kehidupan para binatang nyaris tak berubah. Gambaran dunia yang mereka impikan saat si bijak Major menyampaikan cerita mimpinya, tentu bukan dunia layaknya yang mereka jalani ini, yang menjadi cita-cita perjuangan mereka menggulingkan manusia di peternakan tersebut. Hidup dengan makan dan istrahat yang cukup, tanpa lecutan di punggung, dan masa depan yang cerah atas imbalan keringat yang terkuras adalah ilham dunia yang digambarkan almarhum Major. Kini, itu hanyalah mimpi yang tak kesampaian.

Jika ada binatang yang mulai bingung dan bertanya tentang kehidupan binatang yang tak lagi setara, maka lagi-lagi, Squealer hadir menyampaikan pesan-pesan indah tentang kemuliaan hidup sederhana. Babi-babi di bawah komando Napoleon yang tinggal di bekas rumahnya pak Jones, memang layak mendapatkan kenyamanan itu lantaran melakukan pekerjaan misterius yang tak dapat dilakukan oleh binatang lainnya. Pekerjaan yang sudah membuat para binatang mati memendam peluh pun tak sebanding dengan ihwal pekerjaan mengurus administrasi yang sedemikian ajaib.

Sejumlah binatang yang semakin tua dan pasrah terhadap kematian, sesekali menghampiri plakat yang berisi poin-poin sumpah janji yang menjadi pedoman hidup seluruh binatang. Binatang yang pernah belajar membaca, dengan kemampuan yang terbatas, diminta mengeja. Tujuh poin ideologi yang sudah mereka tetapkan, seluruhnya dihapus, kecuali satu, dan itu tertulis, “semua binatang setara, tetapi beberapa binatang lebih setara dari binatang lainnya”.

Cerita para binatang ini ditulis oleh Orwell sebagai bentuk kritikannya terhadap rezim komunis Stalin saat memimpin Uni Soviet. Namun, tak hanya Stalin, novel satirenya itu juga menampar semua wajah kekuasaan, tak peduli sistem dan bahkan bentuk apapun, jika kekuasaan tersebut bertindak semena-mena.

Hingga detik ini, kita masih menemukan bahkan secara langsung merasakan fenomena dipimpin oleh babi-babinya Orwell. Ingkar janji politik, menciptakan manipulatif, dan bahkan mengubah kitab undang-undang untuk melanggengkan keserakahan mereka. Tak peduli seberapa banyak rakyat yang menjadi korban, yang terpenting adalah dia (mereka) tetap kokoh di puncak kekuasaan.

Satu tahun sudah pemilu di negeri ini kita lewati. Kala itu, gaung perubahan bertebaran di mana-mana; ada yang tak kapok dengan janji sampah, ada yang menawarkan sampah baru. Umumnya, semua sampah itu nampaknya seperti cita-cita mulia yang menjadi tekad perjuangan. Karena atas dasar cita-cita mulia itu, banyak pihak yang harus dipertaruhkan. Tentu yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan. Seluruh tubuh diperas untuk janji mulia yang sebenarnya tidak ada. Tetapi, rakyat dibuat yakin dan mau berkorban. Seluruh dalih dipakai bahkan dogma agama sengaja didengungkan untuk menyumbat gumam yang nyaris meledak.

Squealer hadir tak hanya sebagai penceramah ulung, ia juga tubuh media yang membebek terhadap kekuasaan. Superior dan heroiknya penguasa sengaja dibesar-besarkan agar menarik simpati publik. Jika publik merasa ada kejanggalan atas kebijakan yang ditetapkan, maka lagi-lagi, para jurnalis haus amplop, mampu hadir menyakinkan mereka.

Wujud Squealer bisa apa saja. Bisa LSM, jurnalis, para wakil rakyat, akademisi, aktivis karbitan dan semuanya yang ikut melanggengkan kekuasaan yang timpang dan manipulatif adalah si babi Squealer. Selain itu, dalam konteks negara (daerah), ada juga yang berperan sebagai anjing-anjingnya Napoleon. Selain mengamankannya, mereka juga sebagai algojo terhadap siapa saja yang kesalahan recehnya dibesar-besarkan. Bagaimana dengan wajah lembaga penegakan hukum kita? Bukankah ini terlalu familiar?

Saya dan kita semua tentu menginginkan perubahan, apalagi terjadi pergantian kekuasaan. Jika kekuasaan (kepemimpinan) sebelumnya dinilai timpang, maka kekuasaan saat ini tak boleh menciptakan ketimpangan lainnya. Kita semua tak ingin ada pergantian kekuasaan layaknya pak Jones ke Napoleon. Dan, seperti yang kita tahu, perubahan yang sesungguhnya tidak akan pernah bisa diraih jika si pemegang kekuasaan masih mementingkan dirinya (kelompoknya) sendiri.

Di akhir ceritanya Orwell, Napoleon menjamu tamu-tamunya dari peternakan lain. Mereka semua adalah manusia. Untuk kepentingan tentakel bisnis mereka masing-masing, hubungan binatang dan manusia menjadi akur. Mereka berpesta pora bersama, bermabuk-mabukan dan seringkali bercerita tentang manusia rendahan dan binatang rendahan.

Di tengah sorak-sorai itu, sejumlah binatang di luar menyimak tingkah mereka dengan penuh kebingungan. Seekor kuda tua yang keibuan menatap mereka dengan penglihatannya yang mulai buram, dilihatnya ke para babi, kemudian manusia lagi. Di saat itu, ia tak mampu membedakan lagi mana babi, dan mana manusia. (*)