Wajah Plaza, Dalam Pasar Gamalama Modern

  • Bagikan
banner 468x60

Rosydan Arby
(Pengamat Kota/Ketua Bidang Perencanaan Pembangunan Daerah DPD KNPI)

SELAMAT datang “Plaza Gamalama”, selamat tinggal “Pasar Gamalama”. Walaupun ini hanya penamaan, tetapi esensi lewat pengamatan patut dipertimbangkan, untuk menjadikan kuatnya lingkaran kota yang pernah menjadi ikonik, kebanggaan masyarakat kota Ternate. Pada tahun 2012, penulis pernah mengkritik keras untuk rencana pembongkaran bangunan pasar Gamalama yang pernah menjadi salah satu bangunan Lantai 2 pertama yang menjadi kebanggan bagi masyarakat Maluku Utara pada umumnya. Tetapi apalah daya, tangan “suara” ini tidak sampai pada telinga para penguasa.

Secara principle, bangunan tersebut tidak menjadi masalah, walupun warna dan tingginya bangunan menutupi kemegahan maha karya Masjid Raya Ternate, jika dilihat dari sisi barat, tetapi ini sudah dibangun dan sebagai arsitek kami tidak akan menolaknya, karena tuntutan pembangunan kota yang kian hari, kian berkembang. Banyak pertanyaan yang pernah diutarakan oleh beberapa masyarakat kota, kenapa bangunan itu harus dibongkar total? Jawab penulis dengan sedikit senyuman, ya mungkin saja kota ini sudah harus menjemput perubahan baru, akhirnya bangunan itu menjadi korban atas pembangunan yang kian hari telah lapuk dimakan usia.

Melihat usia bangunan bukan hanya sebatas warna cat dan atap bangunan yang bocor, tapi struktur bangunan yang diperhitungkan. Jika usia melebihi 100 tahun, maka perlu untuk melakukan peremajaan lewat teknologi penguatan struktur dari berbagi titik bangunan, dengan tidak menghilangkan ciri dari bangunan lama. Akan tetapi, argumentasi dari pemerintah kota menyatakan bangunan Gamalama lama tersebut, belum sampai lebih 50 tahun, yang termaktub dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 2010, tentang Cagar Budaya, maka bisa untuk dibongkar karena belum termasuk bangunan cagar budaya. Sampai detik inj, penulis belum pernah mendengarkan lebih detail alasan pemerintah membongkar bangunan tersebut.

Untuk lebih lengkap, penulis coba untuk merefleksikan terkait undang-undanga Cagar budaya. Isi dari undang-undang tersebut dijelaskan; Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:
a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,dan/atau kebudayaan; dan
d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Kita tinggalkan dulu soal bangunan Gamalama itu sebagai cagar budaya atau tidak, karena ini sudah terlanjur dibangun dan menjadi kebanggaan bagi “sebagian masyarakat kota”, Dengan penamaan yang “elegan” menurut para perumus dan pengelola, yang menuai banyak pertanyaan. Secara fasad bangunan, Plaza Gamalama Modern, telah menunjukan komderenan untuk menjawab isu pembangunan saat ini. Saat ini, masyarakat kota akan menikmati indahnya fasad bangunan PGM (Plaza Gamalama Modern), dengan menunjukan karakter masyarakat kota yang modern, mungkin saja. Kita sebagai masyarakat kota dipaksakan untuk terbuai dengan bangunan modern, yang memancing psykologi masyarakat agar membuka mata untuk menerima soal ini, maka apakah pantas, jika kata “modern” harus disematkan dalam fasad bangunan itu?

Bentuk bangunan yang modern, tidak akan menghapuskan sebuah karakter, walaupun bangunan lama telah dirobohkan, tetapi ada konteks ruang lama yang dibangun dengan ruang baru. Sedangkan dalam penamaan dalam kacamata seorang arsitek; segala upaya pun dibuat secara skematis untuk memecahkan permasalahan tersebut dengan tuntutan zaman, misalnya, dalam Juliàn Marias. 1967. History of PhilosophyDover Publication, Inc: New York, hlm. 189, yang dilansir dalam Iscfcogito.org, Utopia karya Thomas More dan Leviathan-nya Hobbes: menyatakan “Di Spanyol—sama halnya dengan di dataran Eropa lainnya—cenderung disibukan dengan estetika, memiliki minat yang kukuh dalam sastra dan bahasa, terutama bahasa klasik. Tetapi, sehubungan dengan pemikiran filosofis, tendensi skeptis mulai nampak kepermukaan, diwakili oleh Portugis Fransisco Sanchez, penulis buku Quod nihil scitur“.

Sebuah penamaan akan mencirikan sebuah karakter manusia dan bangunan di dalamnya. Seperti halnya, kata pasar yang menunjukan sebuah aktivitas sebagai penunjuk, Gamalama yang menunjukan ada identitas yang sudah terbangun dalam masyarakat. Kita tidak perlu menambahkan embel-embel penamaan, jika bangunan ini (hasil renovasi) setidaknya tidak menghilangkan ciri lewat penamaan. Dalam kontek ini, PGM (plaza gamalama modern) adalah akumulasi dari sebuah hasrat yang mencerminkan keberadaan zaman arsitektural. Padahal, gedung ini sudah beroperasi maka yang tertanam dalam benak lewat penamaan, akan menyebutkan; “ayo..kita ke plaza”, sama halnya dengan Mall Jati Land, orang-orang menyebutnya dengan “ayo…kita ke Mall”. Ada kata selanjutnya yang hilang, padahal menjadi identitas penamaan.

Pada sisi yang lain, misalnya pasar Bringharjo di Yogyakarta, atau Pasar Senen di Jakarta, penyebutnannya; kata pasar yang menunjukan aktivitas, tapi orang-orang menyebutnya sebagai, “…ayo kita ke Senen”, atau “…ayo kita ke Bringharjo”. Walaupun ada kata “pasar” yang hilang akan tetapi ada identitas lewat sejarah penamaan yang tidak akan hilang.

Kita jangan dibutakan dengan kemodernan, jika prilaku dan aktivitas kita tidak mencerminkan. Ini sebuah kutipan yang sering didapatkan dalam berbagai forum diskusi. Maka secara pribadi, kalimat sebagai penamaan yang paling pantas, untuk tidak menghilangkan nilai bangunan itu, maka yang paling layak untuk disebutkan ialah “PASAR GAMALAMA”. Cukup dua kata tersebut sebagai penguat dalam mengingatkan para pendatang dari luar daerah, bahwa bangunan modern ini, dahulunya adalah bangunan focal point di masa tahun 80an-2000an, yang menjadi kebanggaan masyarakat kota saat itu.***

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *