Konsep Smart Village Hello Humanis

  • Bagikan
Calon bupati Halmahera Selatan nomor urut 01 Helmi Umar Muchsin.

PENA – Dalam pandangan objektif, membangun suatu daerah harus bersandar pada rasionalistik dan statistik. Formulasi konsep untuk pengembangan kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) sampai saat ini, masih perlu dikembangkan meski telah ada peningkatan. Peran pembangunan di daerah yang kaya SDA dan SDM membuktikan inovasi pembangunannya lewat pemberdayaan masyarakat yang komprehensif.

Hal itu disampaikan calon bupati Halsel nomor urut 01 Helmi Umar Muchsin. Menurutnya, ketimpangan pembangunan di segala sektor menjadi indikator utama dalam melihat arah pembangunan yang kian hari kian berkembang.

Helmi mencurahkan gagasannya yang lazim dikenal dengan konsep smart village. Bagi dia, smart village adalah sebuah solusi yang boleh dikatakan realistis. Jika berkaca di negara-negara maju, konsep seperti ini adalah konsep yang berkembang dari partisipasi masyarakat yang bersifat bottom-up. Walaupun dalam aturan dokumen perencanaan secara nasional hingga ke kabupaten masih bersifat top-down, tetapi inovasi lewat konsep participatory planning (perencanaan partisipasi) dan advocacy planning (pengawasan perencanaan) telah termaktub dalam aturan dokumen perencanaan hingga ke UU Tata Ruang nomor 26 tahun 2007.

“Inilah yang disebut sebagai perencanaan lewat aspirasi dan partisipasi masyarakat. Halmahera Selatan, HELLO-HUMANIS mungkin saja mampu untuk menjawab berbagai kegelisahan yang sementara ini masih terasa ketimpangannya di setiap kecamatan hingga ke desa. Kenapa smart vilage ini cocok di Halmahera Selatan? Saya menjabarnya begini,” jelas Helmi saat berbincang dengan wartawan Penamalut.com belum lama ini.

Pertama, potensi manusianya. Smart berarti pintar manusianya, village sebagai objek atau desa di setiap kecamatan. Jika berkaca dalam berbagai pernasalahan, di Desa yang sebagian besar ialah petani dan nelayan, belum mampu untuk berdikari atas hasil panen mereka. Maka Desa sebagai patron pembangunan masyarakatnya, harus mampu menyediakan pasar distribusi yang diakomodir oleh pemerintah kabupaten (ekonomi regional skala desa). Setiap Desa harus dibangun dengan karakteristik wilayahnya, bukan menyamakan konsep yang tidak sesuai dengan karakteristik.

Kedua, potensi sumber daya alamnya. Menyediakan fasilitas konsep smart village yakni physical and development synergies. Manfaat telekomunikasi bagi kota di kabupaten, hubungan antara telekomunikasi dan infrastruktur fisik, serta manusianya di setiap desa. Tidak dapat melepaskan 1 dengan lainnya. Selain itu, dalam merumuskan rencana tata ruang kedepan, Halsel harus mampu mengkonektifkan antara sentra terbangun dan sentra pemberdayaan di wilayah pertambangan. Sentra terbangun yang ada di kota, sedangkan sentra pemberdayaan ada di desa.

Ketiga, bersifat kepulauan dengan jarak antar pulau yang begitu jauh. Menyediakan sistem tata kelola pemerintahan di kabupaten Halsel sehingga konsep desa cerdas merupakan suatu konsep tematik yang terintegrasi dengan sistem tata kelola (governance). Pemerintah yang mampu mengkonseksikan dengan berbagai aspirasi lewat informasi 1 pintu. Ketersediaan jaringan internet di setiap desa, yang di tempatkan di kantor desa sebagai information link yang kapan saja masyarakat bisa mengadu ke pemerintah kabupaten atau langsung ke bupati lewat pelayanan tersebut.

Lanjut Helmi, Halsel dengan 30 kecamatan harus mampu mengsinergikan antara kepentingan pembangunan manusianya agar menjadi cerdas, dan ditunjang dengan penyediaan fasilitas yang tidak berlebihan, agar serapan APBD bisa dikendalikan untuk pembaratasan kemiskinan di Halsel yang masih tinggi.

“Inilah yang disebut sebagai konsep rasionalistik yang bersandar pada statistik, jangan sampai membangun kabupaten dengan imajinasi, yang berakhir pada kegagalan. Jika gagal dalam merencanakan, maka sama halnya merencanakan sebuah kegagalan. Sudah saatnya masyarakat Halsel menentukan arah pembangunannya sendiri lewat perencanaan partisipasi, bukan dengan bertumpuk pada skema pembangunan orde baru yang sentralistik,” tukas Helmi yang maju sebagai bupati berpasangan dengan La Ode Arfan sebagai calon wakil bupati Halsel.

Payung desentralisasi pembangunan di setiap desa ialah kewajiban, HELLO-HUMANIS dapat dibilang menghadirkan konsep yang luar biasa. Secara objektif, konsep ini ialah konsep realistis yang tidak banyak menguras kantong APBD dan menyentuh langsung pada permasalahan masyarakat, untuk menuju kesejahteraan Halsel yang diinginkan bersama. (*)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!