Kawasi

  • Bagikan

Oleh: Muhlis Ibrahim

___

SEBUAH desa yang berada di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Saya pernah beberapa kali menginjakkan kaki di sana. Berjalan di atas tanah kering yang nyaris kehilangan humus. Menyalami tangan warga satu persatu. Mereka ramah. Juga skeptis!

Ada sesuatu yang muram. Bukan karena seramnya bunyi mesin-mesin industri, atau udara yang sudah bercampur polutan. Namun ada persoalan terpendam, dan sia-sia disuarakan. Tentang apa yang bermula, apa yang sedang berproses, apa yang jadi ujung.

Setelah investasi tumbuh subur dan mekar, akar-akar yang kokoh menjalar menerobos sendi kehidupan masyarakat. Mencengkram semua ruang. Masayarakat desa direlokasi dengan imbalan jika tak dibilang paksaan. Tanah perkebunan berubah fungsi, perikanan berlahan kehilangan fungsi. Isi laut tak lagi berpenghuni. Ikan dan biota laut berlahan hilang dan lenyap. Nelayan semakin jauh kembangkan layar.

Pada titik inilah masyarakat Kawasi dan sekitarnya dirundung kecemasan. Karena terusik dengan berbagai hal-ihwal. Mereka lantas mendamaikan diri dengan mencoba menerima realitas. Menerima apa yang dianggap berlebih, meski mungkin sebenarnya tidak. Modal, mesin dan birokrasi telah perlahan-lahan merenggut semua itu. Hasrat dan kesempatan menyatu dalam garis lurus investasi. Satu garis nalar yang menghitung, mencapai, dan menghasilkan. Dimana kemajuan hanya berkaitan dengan investasi. Dan ekonomi semata-mata tentang uang.

Bagi saya, ini adalah fenomena yang lumrah. Namun terlihat seperti sinting ketika banyak nilai-nilai humanisme dikesampingkan.

Beberapa waktu lalu, sejumlah pejabat tinggi negara tiba di Maluku Utara. Rombongan itu dengan tergesa-gesa menuju ke sana (Kawasi). Di mana satu kawasan industri smelter sedang melakukan produksi perdana bahan baku mobil listrik.

Mereka datang, lihat, dan barangkali mulai menghitung keuntungan. Mungkin juga berbagi keuntungan. Entah untuk negeri atau diri sendiri.

Dalam satu dasawarsa ini pemerintah kita memang gencar mendorong ketahahanan energi dalam negeri. Dan sasaran rinci dari kebijakan ini adalah pengurangan porsi BBM 20% untuk energi primer.

Pemerintah optimis, perubahan ekosistem kendaraan BBM ke kendaraan listrik adalah salah satu langkah konkret mewujudkan ketahanan energi.

Namun rute yang ditempuh pemerintah masih amat panjang. Posisi negara kita masih sebagai pemasok bahan baku, dan bukan mobil listrik.

Kawasi adalah hasrat yang tak pernah tidur. Kuasa yang kuat mencekam. Ekologi yang diringkus dan jejak-jejak invesatasi yang rakus dan ganas. Sejak tahun 1968 beberapa perusahan kayu telah beroperasi. Puluhan juta kubik kayu telah diangkut untuk didagangkan. Era penebangan kayu berlahan mulai berakhir dan diganti eksploitasi nikel.

Semua itu dilakoni oleh mereka yang pintar menghitung dan menghasilkan. Dengan menyederhanakan pelbagai hal agar mudah dikuasai. Berbagai macam istilah dan akronim yang sulit dipahami oleh rakyat biasa. Dibumbui dengan harapan akan kemajuan dan kesejahteraan. Semua ambisi nampak lancar dan sukses.

Kawasi, nanti, barangkali tidak lagi memiliki apa-apa. Kecuali rantai yang membelenggunya.***

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!