Kekerasan Terhadap Anak Marak, Dinas PPPA Kota Ternate Lakukan Sosialisasi Melalui Dialog

  • Bagikan
Foto bersama usai dialog sosialisasi yang dilakukan Dinas PPPA Kota Ternate. (Udi/Penamalut)

PENAMALUT.COM, TERNATE – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Ternate menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak/trafficking tingkat Kota Ternate, Senin (9/8).

Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan 4 narasumber, yakni Dr. Herman Usman, Nurdewa Safar, Kanit PPA Polres Ternate, dan kadis PPPA Kota Ternate Marjorie S. Amal.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian terpenting untuk mencegah kekerasan perempuan dan anak di Kota Ternate yang kerap kali terjadi.

Mengawali pembicaraan dialog, Dr. Herman Usman mengungkapkan, kekerasan adalah suatu proses tindakan yang dialami dalam keluarga atau melemahkan perempuan.

Kekerasan sering terjadi dikarenakan lemahnya fungsi orang tua. Olehnya itu, fungsi keluarga adalah bagian penting untuk memberikan pelajaran kepada anak dan sebagai peran untuk mendidik.

“Kiranya fungsi laki-laki dan perempuan adalah bagaimana mengambil peran untuk membangun keluarga. Sebab perempuan adalah miniatur keluarga,” ujar dosen sosiolog UMMU itu.

Koordinator Daurmala, Nurdewa Safar menyampaikan bahwa trafficking ini harus butuh kolaborasi berbagai elemen untuk melakukan proteksi kekerasan terhadap anak perempuan. Makanya pemerintah harus buat kebijakan, seperti menyediakan lapangan pekerjaan agar setelah lulus SMA langsung masuk bekerja.

“Jangan setelah lulus, orang tua memperkerjakan anak dalam dunia kekerasan. Seperti kasus trafficking pada tahun 2017 perdagangan anak dari Manado ke Halmahera Utara,” tukasnya.

Meski demikian, lanjut dia, beberapa tahun terakhir ini kasus seperti itu sudah tidak terdengar lagi.

“Entah mereka melakukan mengeksploitasi secara diam-diam, kita sudah tidak dengar lagi,” katanya.

Selanjutnya dari Kanit PPA Polres Ternate, Fani menuturkan, kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2019 terdapat kasus, tahun 2020 12 kasus, dan pada tahun 2021 ini 7 kasus.

Untuk persetubuhan anak di bawah umur tahun 2017 sebanyak 2 kasus, tahun 2020 terdapat 6 kasus, dan tahun 2021 sebanyak 2 kasus. Lalu pencabulan dibawah umur pada tahun 2019 terdapat 11 kasus, tahun 2020 sebanyak 9 kasus, dan 2021 ada 3 kasus. Untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2019 sebanyak 4, tahun 2020 sebanyak 11 dan, 2021 sebanyak 10 kasus.

“Kasus ini sudah kami tangani. Kami di Unit PPA sudah bekerja sama dengan unit Bhabinkamtibmas dan dinas terkait lainnya untuk mencegah terjadinya kekerasan perempuan dan anak,” jelasnya.

Sementara Kadis PPPA Kota Ternate, Marjorie S. Amal menyatakan bahwa kekerasan yang dialami perempuan ini seperti dipukul, ditampar, ditendang dan sebagainya. Kekerasan ini mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri.

Untuk itu, langkah ke depannya adalah berharap peserta sosialisasi ini bisa menjembatani sebagai mitra sosialisasi untuk mengedukasi lingkungan masing-masing tentang pentingnya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kami juga akan melaksanakan kampanye anti kekerasan perempuan dan anak. Paling penting adalah masyarakat harus bergerak, karena masyarakat adalah kelompok penentu untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak,” terangnya menutup. (udi/ask)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!