Kisah Nuryati, Penjual Sayur di Kota Ternate Antarkan Anaknya Raih Gelar Sarjana Kedokteran

Nuryati Abdurahman

Betapa terharunya Nuryati Abdurahman ketika mendengar nama putri keduanya dibacakan saat rapat terbuka dalam rangka wisuda magister dan sarjana pada Universitas Khairun (Unkhair) yang digelar, Sabtu (18/3).

Ibu sekaligus tulang punggung keluarga yang hanya bermodalkan jualan sayur di Pasar Higienis Kota Ternate itu sukses mengantarkan anaknya, Nandia Muhammad, meraih gelar sarjana kedokteran di kampus ternama di Kota Ternate itu.

Tentu tidak mudah usaha Nuryati menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana kedokteran. Sebab fakultas kedokteran merupakan salah satu fakultas dengan biaya termahal. Untuk biaya masuk ke fakultas bergengsi tersebut dibanderol Rp 80 juta ditambah biaya per semester Rp 22,5 juta.

Namun bagi ibu empat anak ini, biaya kuliah yang mahal tidak menjadi hambatan untuk mewujudkan cita-cita sang anak. Ada satu prinsip yang selalu ditanamkan Nuryati, yakni rezeki sudah diatur sang pencipta.

Nandia Muhammad

Sejak ditinggal wafat sang suami pada tahun 2013 lalu, warga Kelurahan Foramadiahi, Kecamatan Ternate Pulau ini tidak pernah putus asa. Demi kehidupan dan masa depan anak-anaknya, Nuryati yang kini berusia 51 tahun itu menghabiskan separuh usianya menjadi penjual sayur guna membiayai kebutuhan sekolah anak-anak.

Nuryati saat disambangi wartawan Nuansa Media Grup (NMG) menceritakan, betapa berat perjuangannya berdiri kokoh bertindak sebagai ibu sekaligus seorang ayah yang berusaha keras mengabulkan mimpi Nandia menempuh pendidikan kedokteran. Ia berangkat dari rumah sebelum fajar menyingsing dari pukul 03.00 WIT dan kembali kerumah pukul 07.00 WIT. Pekerjaan ini sudah dilakukannya kurang lebih 28 tahun.

Kesuksesannya mengantarkan Nandia meraih sarjana bukan kali pertama. Sebelumnya, Nuryati juga telah mengantarkan anak tertuanya, Juliyana Muhammad meraih gelar sarjana hukum di tahun 2017 pada universitas yang sama dengan Nandia.

“Saya menjadi pedagang sayur sudah sekitar 28 tahun, sudah dua orang anak yang saya kuliahkan hingga sarjana. Anak tertua saya yang sarjana hukum dan kini bekerja di perusahaan tambang di Halmahera Tengah. Kemudian Nandia ini anak kedua, juga lulusan sarjana kedokteran,” tukasnya.

“Biaya kuliah yang besar, saya tak pernah merasa beban. Sebab rezeki telah diatur sang pencipta,” sambung Nuryati sembari meneteskan air matanya.

Nuryati berpesan kepada semua orang agar tidak beranggapan hanya orang-orang berada yang bisa menyekolahkan anak-anaknya, khususnya di fakultas kedokteran. Sebab berapapun besar biayanya, selama ada kemauan untuk berusaha, maka bisa dicapai dengan mudah.

“Saya ini jual sayur saja. Jualan sayur adalah hidup saya. Jadi bagi orang-orang tua yang senasib, jangan sekali-kali merasa tidak mampu menyekolahkan anak-anak. Selama ada kemauan pasti ada jalan, karena rezeki sudah diatur Allah,” pungkasnya. (ano/ask)

Respon (11)

  1. Ping-balik: additional hints
  2. Ping-balik: บาคาร่า
  3. Hey, you used to write great, but the last several posts have been kinda boring… I miss your great writings. Past few posts are just a little out of track! come on!

  4. I was very pleased to find this web-site.I wanted to thanks for your time for this wonderful read!! I definitely enjoying every little bit of it and I have you bookmarked to check out new stuff you blog post.

  5. Это срезанный слой дерна с живой изумрудной растительностью, сжатый в рулон и законченный к пересадке в участок. Рулонная травка для газона выращивается в течение двух лет по специализированной схемы из специально наложенной смеси семян луговых злаков. При достижении неплохой плотности дерновины и консистенции травостоя газон срезают и сворачивают в рулоны для дальнейшей транспортировки. средство озеленения.
    рулонный газон[url=https://wl-rielt.ru/]рулонный газон[/url][url]https://wl-rielt.ru/[/url]

Komentar ditutup.