Empati Yes! Stigma Negatif, No! Di Masa Covid-19

0

Oleh : Syaiful Bahry

Dosen Psikologi UMMU, Wakil Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Malut, dan Kordinator Presidium Jarod

Pandemi virus corona yang kita kenal dengan covid -19 sudah menjalar ke ratusan negara di dunia. Banyak pakar dan juga pemimpin dunia melakukan persiapan-persiapan yang akan dihadapi ketika corona virus tersebut menyerang negara dan wilayahnya. Berbeda halnya dengan Indonesia, khususnya di Maluku Utara, masih terlihat lamban dalam menangani kasus Covid-19. Ya, Lamban dalam memberikan dukungan psikologis kepada pasien dan bantuan yang sifatnya ekonomis pada masyarakat yang  terkena dampak dari covid-19 itu sendiri. Dukungan psikologi positif berupa empati itu nyatanya belum dilaksanakan dan sebaliknya stigma negatif telah sampai kepada masyarakat dan “meracuni” sisi psikologis pasien covid 19 dan keluarganya. Penanganan covid-19 misalnya, dalam penjemputan pasien PDP, ODP, OTG, itupun membutuhkan komunikasi terapeutik yang melibatkan empati, penjemputan yang membuat pasien tidak merasa dikucilkan atau distigma oleh warga disektiar tempat tinggalnya. Tentunya stigma negatif terhadap pasien sangat berbahaya bagi kondisi psikologis pasien itu sendiri begitu juga dengan keluarganya. Keluarganya dihina dan dikucilkan sesudah oknum tim covid menjemput secara terang-terangan pasien tersebut. Itu adalah kasus nyata yang informasinya penulis terima langsung dari rekan relawan Himpunan Psikologi Indonesia wilayah Maluku Utara yang membantu Kepolisian Daerah Maluku Utara dalam penanganan kondisi psikologis pasien dan keluarga pasien Covid-19 melalui teleconseling. Dari kasus di atas penulis akan mendeskripsikan definsi singkat dari empati dan juga stigma negatif.   

Definsi Empati dan stigma negatif

Istilah empathy pertama kali digunakan oleh pakar psikologi Edward Titchener pada tahun 1909. Kata empathy diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dari kata Jerman einfuhlung. Etimologinya berasal dari kata Yunani empatheia, yang artinya memasuki perasaan orang lain atau ikut merasakan keinginan atau kesedihan seseorang. Empati didefinisikan oleh pakar psikologi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain dalam rangka untuk merespons pikiran dan perasaan mereka dengan sikap yang tepat (Baron Cohen; Howe, 2015). Empati mencakup aspek-aspek psikologis yang kompleks dimana pengamatan, ingatan, pengetahuan dan pemikiran dipadukan untuk menghasilkan pemahaman tentang pikiran dan perasaan orang lain (Stompe dkk, 2010). Dari definisi empati tersebut kalau dianalogikan ke dalam kerja-kerja tim penanganan Covid-19 di Maluku Utara, tentunya ini akan berdampak positif pada kondisi psikologis pasien.

Kasus Covid-19 membutuhkan peran dan kolaborasi empati dari berbagai elemen, baik pemerintah dalam hal ini (kepala daerah; gubernur, walikota dan bupati, tenaga medis; dokter, perawat,), akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, para jurnalis, dan LSM untuk memberikan empati kepada masyarakat yang terkena dampak covid-19. Di masa sulit covid-19 masyarakat tentunya membutuhkan dukungan dan peran pemerintah dalam meringankan beban ekonomi, dan beban psikologisnya, memberikan bantuan sembako, masker dan sebagainya,  memberikan himbauan yang positif, bukan himbauan yang mencemaskan atau menakutkan, memberikan edukasi tentang pencegahan-pencegahan yang mungkin saja sudah dilakukan, namun penulis sendiri belum lihat dan merasakan ada keterlibatan pemerintah  yang turun dikelurahan-kelurahan ataupun di desa-desa untuk memberikan edukasi, yang paling penting mengedukasi masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi virus corona. Karena kepanikan, kecemasan dan ketakutan yang diberikan pemerintah dapat berdampak stress hal ini dapat menurunkan imun tubuh, sehingga mudah sakit, dalam kondisi sakit, virus corona sangat mudah menjangkiti. Untuk itu pemerintah provinsi, kabupaten/kota, harusnya lebih peka dengan kondisi psikologis masyarakat. 

Untuk Dokter dan perawat mungkin dalam hal menjemput pasien, juga seharusnyaa mampu mengidentifikasi terlebih dahulu waktu yang tepat untuk menjemput OTG, ODP ataupun PDP, karena budaya masyarakat Maluku Utara apabila ada sebuah kejadian atau peristiwa apapun yang terjadi pasti berkerumun dan menjadi penonoton padahal itu sangat berbahaya, untuk itu dapat mempertimbangkan waktu yang tepat untuk menjemput pasien. Begitu juga dalam pelayanan komunikasi dengan pasien covid-19 dapat menggunakan komunikasi terapeutik agar pasien merasa nyaman, semangat dan termotivasi untuk sembuh. Untuk para akademisi yang membidangi ilmu sosial dan kesehatan, seperti sosiologi, psikologi,  ilmu komunikasi, kesehatan masyarakat dan bidang ilmu yang terkait dengan dampak covid -19 dapat pula berkontribusi. Mungkin dengan kajian ilmunya masing-masing dapat diaplikasikan dengan membuat poster-poster, video pendek, yang dapat mengedukasi masyarakat. Peran akademisi, LSM, tokoh agama tentunya dapat berkolaborasi dengan tokoh masyarakat disetiap kelurahan ataupun desa dalam melakukan pencegahan, memberikan edukasi, himbauan yang positif bukan agresif yang membuat masyarakat takut.

Peran para jurnalis pun sangat menentukan dalam kondisi covid-19 saat ini, karena para jurnalis inilah yang membentuk persepsi dan opini masyarakat di Maluku Utara melalui berita-berita di media online, cetak maupun televisi agar masyarakat tidak mengalami kepanikan, cemas dan takut bahkan paranoid (takut secara berlebihan). Untuk itu masyarakat Maluku Utara sangat membutuhkan informasi ataupun berita-berita postif sebagai obat untuk menyembuhkan persepsi negatif masyarakat. Misalnya, berita tentang obat-obatan herbal khas Maluku Utara yang dapat mencegah covid-19 dan sebagainya, yang substansi beritanya dapat memotivasi masyarakat untuk bangkit dari stress Covid-19.

Sedangkan stigma, dalam kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh dari lingkungannya. Semenjak viral informasi soal pasien positif covid-19, pada waktu itu pula viral adanya stigma negatif. Berita tentang penolakan masyarakat terhadap tempat yang akan dijadikan karantina pasien, di beberapa daerah di Indonesia, tempat tinggal tenaga medis yang menangani pasien Covid-19 di kucilkan bahkan diusir kalau tenaga medis tersebut mengontrak rumah atau dikosan-dikosan, penolakan pemakaman jenazah, dan juga keluarga pasien dihina, dikucilkan  dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih membutuhkan informasi-informasi penting terkait dengan penularan dan pencegahan Covid-19, ketidaktahuan informasi soal penularan covid-19 dapat menimbulkan stigma atau pandangan negatif dari masyarakat itu sendiri. Situasi sosial seperti di atas dapat menimbulkan dampak sosial. misalnya keluarga pasien tidak terima ketika dihina sehingga terjadi perkelahian dan sebagainya.

Untuk itu menurut hemat penulis, langkah-langkah untuk mengantisipasi terjadinya stigma negatif perlu dilakukan sedini mungkin. Saran penulis kepada pemerintah yang menangani pasien covid-19. Sebelum pasien covid-19 dijemput oleh tim medis, mungkin dapat mengondisikan terlebih dahulu situasi sosial yang terjadi dilingkungan pasien. Bisa dilakukan dengan menyurat atau memberikan informasi kepada pasien bahwa akan di jemput oleh tim medis di waktu malam, dimana masyarakat yang tinggal disekitar pasien sudah istirahat. Atau langkah-langkah apa saja yang dapat merahasiakan identitas pasien. Namun apa yang harus dilakukan, kalau stigma negatif sudah beredar di masyarakat? maka, yang dibutuhkan adalah memutuskan stigma negatif tersebut dibantu oleh permerintah dan juga tokoh masyarakat serta seluruh elemen untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat soal covid-19 dan stigma negatif agar tidak berdampak buruk pada masyarakat secara luas. Penulis menawarkan solusi kepada Pak Gubernur, Pak Bupati, dan Bapak Walikota,  silahkan  menghubungi atau mengundang seluruh kepala desa atau kepala kelurahan untuk melakukan sosialisasi dan psikoedukasi tentang dampak dari stigma negatif  melalui video pendek, poster, ataupun spanduk dan dikampanyekan di wilayah tempat tinggalnya pasien positif covid-19 yang terkena stigma, agar terbentuk perspektifnya bahwa stigma negatif tidak baik untuk kondisi psikologis pasien dan juga keluarganya begitu juga masyarakat pada umumnya.       

Sebagai penutup, penulis berharap pemerintah provinsi, kabupaten/kota segera memberikan bantuan kepada masyarakat seperti yang telah dilakukan oleh salah satu Bupati di Maluku Utara, terlepas dari persepsi yang sifatnya politis, setidaknya Bupati tersebut telah mengambil langkah empati dan sikap seorang kepala daerah yang hukumnya wajib memberikan kepedulian kepada rakyatnya yang sangat membutuhkan bantuan tersebut. Penulis juga merasa bahwa kepala daerah yang ada di Maluku Utara sesungguhnya mempunyai rasa empati. Hanya saja belum mempunyai keberanian untuk menunjukkannya. Untuk itu penulis menantang keberanian para bupati dan walikota untuk menunjukkan rasa empati dan kepeduliannya kepada rakyatnya. Dengan demikian penulis mengutip sebuat kata bijak dari Stephen Covey yang mengatakan “bahwa ketika kamu menunjukkan empati yang besar terhadap orang lain, maka energi negatif mereka menurun dan digantikan dengan energi yang positif.  Hal itu akan terlaksana apabila kamu lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah. Pandemi ini akan cepat berlalu jika pemimpin-pemimpin kita peduli dan berani berempati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here