Efek Psikologis Pada Anak-anak di Masa Social Distancing Covid-19

  • Bagikan
banner 468x60

Nurulsani S. Abd. Latief, S.Psi, M.Psi

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Maluku Utara adalah salah satu provinsi yang berada di daerah Timur Indonesia yang memiliki 10 Kabupaten/Kota, diantaranya Kota Ternate, Tidore, Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Kepulauan Sula, Taliabu, Kepulauan Morotai, dan Halmahera Selatan. Kota Ternate menjadi pusat ekonomi dan pendidikan di Maluku Utara yang mana setiap Tahun jumlah pendatang yang ingin sekolah/melanjutkan pendidikan dan membuka usaha di Kota Ternate semakin meningkat. Pendatang tersebut bisa berasal dari kabupaten yang ada  di Maluku Utara maupun diluar Maluku Utara. Pendidikan dan Ekonomi pada masa dulu dengan sekarang tidaklah sama, namun sudah menjadi hal penting bagi setiap orang untuk memperoleh pendidikan dari anak-anak hingga Dewasa, dan tidak setiap orang pula dapat memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan yang lain.

Pendidikan dan sumber perekonomian akan berjalan dengan lancar apabila di dukung oleh beberapa hal salah satunya adalah Sumber Daya Manusia (SDM).  SDM sendiri menurut Sonny Sumarsono adalah suatu kelompok manusia yang terdiri dari manusia yang mempunyai kemampuan untuk memberikan jasa. Sumber Daya Manusia memiliki fungsi sebagai tenaga kerja, tenaga ahli, sebagai pemimpin, sebagai tenaga usahawan dan pengembangan IPTEK yang masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab dalam mencapai suatu tujuan. Dunia pendidikan SDM yang paling penting adalah Guru dan Siswa-siswi, dimana Guru sebagai pendidik dan Siswa-siswi sebagai peserta didik. Dalam menciptakan proses belajar mengajar yang efisien dibutuhkan rencana pembelajaran yang di dukung pengetahuan guru, sarana dan prasarana yang dimiliki.

Sekolah telah menyediakan berbagai keperluaan yang dibutuhkan oleh seorang guru dalam menunjang proses belajar mengajar dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang cukup baik. Meski kita ketahui bahwa, sarana dan prasana pendidikan di Maluku Utara tidak dapat di samakan dengan daerah-daerah besar yang ada diluar Maluku Utara. Namun, sarana dan prasarana yang disediakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam proses belajar mengajar. Disamping itu, pengetahuan guru dalam berbagai hal juga perlu dikembangkan seperti pengetahuan dalam memahami teknologi dan informasi. Pendidikan untuk guru di Maluku Utara dalam memahami teknologi dan informasi sangat dibutuhkan karena, kita tahu bahwa pendidikan memang dari dulu dimulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, Kuliah jenjang S1, S2 dan S3, tetapi yang menjadi perbedaannya adalah teknologi dan informasi selalu berkembang. Freshgradute yang lahir pada era informasi ini tidak lah sulit dalam menyesuaikan perkembangan Teknologi, berbeda dengan guru-guru yang sudah lama yang kita tahu bahwa teknologi pada masa mereka dengan sekarang sangatlah berbeda.

Setiap guru memiliki pengetahuan dan kesempatan belajar yang sama, dan pendidikan akan informasi dan teknologi bukan semata-mata untuk kepentingan sekolah melainkan untuk kepentingan guru itu sendiri, dan mengantisipasi segala sesuatu yang dapat menghambat proses belajar mengajar. Salah satu hambatan dalam proses berjalannya pendidikan yang sedang terjadi tidak hanya di Indonesia melainkan di Negara-negara lain yaitu dampak dari Covid-19 yang mengharuskan setiap daerah di Indonesia “stay at home” dan melakukan pembatasan sosial untuk setiap orang. Covid-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease Tahun 2019 yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona terbaru yang sebelumnya terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. Kini wabah Covid-19 telah memasuki Indonesia yang kini sudah ada kasus di Maluku Utara.

Pembatasan sosial yang diedarkan oleh pemerintah dengan maksud agar memutuskan mata rantai penyebaran virus corona yang dapat tertular dari kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari adanya percikan-percikan dari hidung dan mulut yang keluar mengenai diri kita dari orang yang tertular covid-19. Salah satu untuk menghindari penyebaran virus corona dengan menghindari keramaian yang didalamnya terdapat banyak orang dan sekolah juga bagian dari keramaian, karena tempat berkumpulnya anak-anak untuk belajar. Akibatnya sekolah harus menghindari dampak covid-19 ini dengan melakukan pembatasan sosial dan proses belajar mengajar harus berubah dari rencana pembelajaran awal yang dengan melakukan tatap muka langsung, namun kali ini harus secara online. Bagi siswa SD, SMP, SMA, Mahasiswa S1, S2 dan S3 untuk melakukan proses belajar mengajar mengalami kesulitan masing-masing, dan tidak semua dapat melakukan komunikasi online dalam proses belajar mengajar, namun akan berbeda dengan siswa-siswi pada Sekolah Dasar (SD) yang pada umumnya mereka membutuhkan komunikasi lebih setiap penjelasan, dan untuk memberikan pemahaman tersebut membutuhkan komunikasi orangtua dengan guru. Orangtua siswapun tidak semua dapat menggunakan media komunikasi secara online dan hal tersebut dalam meghambat komunikasi guru dengan siswa-siswi.

Pada masa Sekolah Dasar (SD), Menurut Hurlock (1990) anak-anak pada kelas 1 dengan usia masih 5/6 tahun memasuki tahap perkembangan masa anak-anak awal (2-6 tahun) dan anak-anak kelas 2 sampai kelas 6 pada usia 6-12 tahun memasuki tahap perkembangan masa anak-anak akhir. Setiap tahapan perkembangan memiliki tugas dan kebutuhan masing-masing dan pada masa anak-anak awal hingga akhir memiliki tugas dan kebutuhannya sendiri. Salah satunya kebutuhan dalam perkembangan psikososial anak adalah dengan memiliki hubungan dengan orangtua sebagai tujuan anak dalam mencapai perkembangan emosionalnya dan hubungan dengan teman sebaya guna untuk mencapai perkembangan moral anak, karena dengan lingkungan anak dalam pertemanan menjadi sumber informasi dan perbandingan bagi anak untuk menentukan perilaku mana yang boleh dilakukan, tidak boleh dilakukan, dan perilaku mana yang jelek serta tidak jelek.

Pembatasan sosial akibat dampak Covid-19 memberikan dampak positif dan negatif. Jika dilihat berdasarkan tahap perkembangan anak, maka kebutuhan anak dalam berhubungan dekat dengan orangtua mereka dapat terpenuhi, namun tidak bisa dihindari bahwa kebutuhan ini juga bisa tidak diperoleh, karena tergantung dari masing-masing orangtua dalam mendidik anak di dalam rumah. Apa jadinya anak ketika masa covid-19 dirumah namun tidak banyak berkomunikasi dengan orangtua ? perlu kita ketahui bahwa gadget bukanlah sesuatu yang susah lagi digunakan oleh anak-anak, mereka mulai bisa memahami dan menggunakan gadget baik untuk bermain Game Online maupun membuka akses hiburan lainnya di gadget seperti instagram, facebook, youtube dan lain-lain. Ketika anak pergi ke sekolah tentunya mengurangi anak dalam menggunakan gadget, namun situasi masa social distancing, anak lebih memiliki kesempatan dalam menggunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian orangtua dapat mengontrol anak dalam menggunakan gadget, tetapi akan berbeda apabila perhatian menjadi berkurang dan anak akan menarik dirinya lebih menggunakan gadget.

Penggunaan gadget dalam mengakses internet dengan penggunaan yang sangat lama sekitar 6-8 jam bahkan sampai 12 jam/perhari cenderung bisa berdampak pada anak mengalami kecanduan. Kecanduan gadget dalam menggunakan internet perlu dihindari oleh anak-anak terutama pada masa social distancing, karena  berkurangnya juga proses belajar anak  dan anak memiliki banyak kesempatan. Selama masa social distancing, ini harus menjadi kesempatan orangtua untuk bisa lebih banyak meluangkan waktu dan memberikan perhatian kepada anak-anak, namun dengan cara-cara yang tidak menekan anak dan tidak terlalu banyak aturan yang membuat anak tidak nyaman berada dirumah dan anak mengalami stres yang setiap hari anak-anak hanya berada dalam rumah dan aktivitas mereka yang berkurang akibat dampak covid-19.

Pada masa social distancing menghambat hubungan pertemanan anak-anak secara langsung, sedangkan dengan hubungan teman sebaya pada masa anak-anak awal menjadikan lingkungan pertemanan sebagai sumber informasi dan perbandingan, serta pada masa anak-anak akhir hubungan dengan teman sebaya membantu anak-anak dalam pemahaman diri, perubahan-perubahan sebagai kesiapan dalam menuju masa remaja serta ke masa dewasa. Disamping itu, menurut tahap perkembangan khususnya perkembangan kreatifitas menurut Desmita (2015) bahwa kreatifitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang di dukung oleh lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, sehingga orangtua dan guru berperan dalam mengembangkan kreatifitas anak-anak. Oleh karena itu, guru menjadi aspek penting dalam mengontrol belajar anak dengan membuat tugas anak secara kreatif agar anak tidak merasa jenuh untuk mengerjakan tugas, dan sebagai orangtua agar membantu guru dalam melaksanakan proses belajar dengan mengambil peran di rumah untuk membantu anak-anak dalam memahami proses belajar dan pemberian tugas yang di berikan oleh Guru.

Masa Social distancing ini, orangtua perlu menghindari juga pemberitaan yang bersifat Hoaks yang cenderung mengarahkan kita pada stres sampai mengalami kecemasan. Untuk memantau perkembangan Covid-19 sebenarnya adalah hal yang positif agar kita menjadi lebih menjaga diri, namun sumber berita baik hoaks atau tidak apabila dilihat terus menerus cenderung membuat kita mengalami kecemasan dan penyaringan berita yang pada awalnya positif dapat menjadi negatif, sedangkan sebagai orangtua maupun guru kita memiliki kewajiban untuk menjadi pusat perhatian anak dan kita menjadi wadah anak melakukan komunikasi, maka hal-hal yang dapat memicu kecemasan perlu dikurangi seperti melihat pemberitaan hoaks atau tidak tanpa penyaringan terlebih dahulu.

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *