Pandemi Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan

  • Bagikan

Oleh : Nurneli Abu, S.Pd
Pendiri Teras Baca Makahia Desa Suma

Pandemi dan Realisasi Pendidikan, Antara Pemerintah, Guru, Orang Tua, dan Pegiat Literasi.

DALAM masa pandemi Covid-19 yang telah melanda hampir semua penjuru negara dimuka bumi, telah membahayakan kehidupan masyarakat kalangan bawah (tidak mampu). Indonesia merupakan salah satu negara yang juga terdampak Wabah Covid-19, hal ini membuat pemerintah pusat maupun daerah harus mengambil kebijakan penanganan wabah secara merata dan seadil-adilnya.

Demi mencegah lebih jauh penyebaran wabah, maka pemerintah pusat dalam hal ini presiden telah mengeluarkan beberapa peraturan, dan salah satunya adalah PP Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Peraturan ini dianggap cocok untuk memutus mata rantai pencegahan Covid-19 di banding dengan kebijakan Opsi Karantina Wilayah (lockdown).

Setiap kebijakan tentu punya dampak, apalagi mengenai kebijakan PSBB yang meliputi: pembatasan kegiatan keagamaan, peliburan sekolah dan tempat kerja, serta pembatasan fasilitas umum bunyi pasal 4 ayat (1). Dan Yang lebih merasakan dampak dari PSBB adalah masyarakat kalangan bawah (Masyarakat Tidak Mampu), hingga penaganan Covid-19 ini pemerintah harus lebih melihat kebawah, jika tidak, di khawatirkan akan terjadi kriris sosial.
Beranjak dari beberapa kebijakan mengenai PSBB diatas, ada satu hal yang menarik untuk di bahas, dalam hal ini mengenai dengan pendidikan (Peliburan Sekolah). kita tahu bahwa Sekolah merupakan lemabaga pendidikan formal yang di dalamnya terdapat berbagai pembelajaran ilmu pengetahuan untuk mengembangkan potensi serta membentuk karakter anak-anak bangsa yang nantinya di persiapkan menjadi penerus kepemimpinan, kemajuan Negara, dan pertahanan Negara di masa mendatang.

Sejak masa Pandemi Covid-19 dan Kebijakan PSBB di Terapkan, sejak itu pula pendidikan yang tadinya bersifat formal, dan pembelajaran secara langsung (tatap muka) kini bersifat privat dan eksklusif, sehingga Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) harus di laksanakan pada setiap pembelajaran, situasi ini membuat Para Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan metode pembelajran yang menyenangkan dengan berbagai sumber belajar, dengan media teknologi komunikasi, informasi dan media pendukung belajar lainnya, seperti yang di amanahkan pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Orang tua dalam Hal ini juga di tuntut agar lebih dekat dengan anak-anaknya dan lebih mengenal kemampuan belajar anak ketika belajar bersama di rumah, hingga proses belajar bisa efektif tanpa harus merasa bosan, karena pendidikan di rumah bersama keluarga merupakan awal dari pembentukan kepribadian anak menjadi lebih baik dan bermoral, sebagaimana yang di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantara: “Didalam Keluarga Orang tua sebagai guru dan panutan, sebagai pengajar, sebagai pemberi contoh dan teladan bagi anak-anak”.

Dalam pasal 31 poin 1, dijelaskan bahwa Pendidikan jarak jauh dapat di selenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. dilanjutkan pada poin 2, pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan reguler.

Masyarakat Indonesia saat ini termasuk dalam kategori “tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan reguler”. Proses belajar seperti ini dapat mengungkap beberapa kemungkinan, bagi lembaga sekolah dan orang tua di rumah diantaranya adalah: (1) terciptanya komunikasi intens antara guru dan orang tua wali murid. (2) orang tua dapat mengetahui karakter anaknya jika sedang belajar, hal ini membuat orang tua yang bukan profesi guru akan sadari bahwa menjadi guru tidak semuda mengembalikan telapak tangan. (3) mengungkap berbagai persoalan di lembaga pendidikan yang berupa fasilitas belajar mengajar saat Pendidikan Jarak Jauh di terpakan. (4) menjadikan literasi semakin berkembang di pedesaan.

Beberapa poin diatas juga bisa di jadikan indicator untuk menyoroti bagaimana masyarakat kalangan bawah (Masyarakat Tidak Mampu) yang anak-anak mereka tidak memiliki fasilitas pendukung untuk ikut serta dalam proses Pendidikan Jarak Jauh seperti Gadget, atau rumah yang tidak di fasilitasi TV, bahkan akses jaringan untuk dapat menikmati “Belajar Dari Rumah” di tengah Pandemi Covid-19 juga tidak ada. Hal Ini tentu menjadi soal bersama dan harus di jawab bersama, baik itu mentri pendidikan, Pemerintah daerah dalam hal ini Kepala-Kepala Dinas Pendidikan, maupun para Guru, dan Juga Pegiat Literasi.
Pengaruh Pandemi Bagi Pendidikan di Pedesaan.

Pendidikan Jarak Jauh di tengah Covid-19 sangat berpengaruh buruk bagi anak-anak di desa-desa, yang sebagian besar tidak memiliki fasilitas pendukung untuk belajar. Bahkan dampaknya akan lebih buruk daripada dampak ekonomi, oleh karena itu, setiap kebijakan yang terkait dengan libur sekolah, dan belajar dari rumah dengan metode daring (Onlain) harusnya hanya berlaku pada daerah yang memang benar-benar terpapar wabah, itupun jika memungkinkan, fasilitas belajar harus di hadirkan dari sekolah ke setiap rumah, jika media belajarnya hanyaa buku, sekolah punya perpustakaan dan perpustakaan bisa menyediakan buku bacaan, atau buku belajar pada anak-anak serta bekerja sama dengan orang tua untuk menumbuhkan semangat belajar bersama dengan kesadaran pendidikan bahwa setiap tempat adalah sekolah dan di mana ada sekolah disitu ada proses belajar dan pembelajaran.

Pedesaan yang ikut serta diliburkan sekolah walau tidak terpapar Covid-19, bisa saja mengambil alternative lain dalam proses belajar mengajar, dan atau tetap melaksanakan belajar dengan mengikuti protokol kesehatan, tanpa harus libur sekolah tapi interaksi antar sesama dalam masyarakat masi berlaku, ini kerugian pendidikan yang terjadi pada anak-anak di pedesaan. Pandemic Covid-19 membawa kesadaran pada kita bahwa pendidikan bukan hanya sekedar proses merubah karaktek peserta didik melainkan juga sebuah upaya untuk menciptakan budaya saling mengharagai antar sesama manusia.

Kordinasi pendidikan di masa pandemi Covid-19 mengungkap masih banyak masalah pendidikan yang belum merata, seperti sekolah yang minim fasilitas belajar, harusnya menjadi perhatian penuh bagi pemerintah agar tidak membedakan mana sekolah negeri dan mana sekolah swasta, masalah ini membangkitkan semangat bagi pegiat literasi untuk selalu manabur benih kabaikan dengan terus mengajak masyarakat di pedesaan agar menjadikan buku sebagai Candu untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang.
Dari kesadaran membaca buku juga akan membuat manusia tidak terlalu bergantung pada media elektronik saat dalam masa Pandemi seperti ini, jadi yang tidak memiliki fasilitas belajar Daring (Onlain) tidak perlu merasa tertinggal dengan pendidikan, setiap media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tinggal kemampuan pengguna saja yang pandai memanfaatkannya.

Sembari menjadikan pemerintah sebagai pelopor dalam tiap kebijakan di masa pandemic, sebagai pegiat literasi juga, punya rasa tanggung jawab dalam mengabil kesempatan mendidik di tengah wabah Covid-19, yang tidak perna berhenti mengajak anak-anak di pedesaan untuk terus belajar, membaca, menulis, berpuisi serta kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya dengan tetap malakukan anjuran menjaga jarak, cuci tangan dan memakai masker sebagai pelindung. Upaya ini dilakukan untuk membantu pelajar di pedasaan agar tetap belajar walau harus diliburkan sekolah namun, masi belum efektis, mengingat kesadaran orang terkait literasi masi minin tetapi, upaya ini akan terus di lakukan hingga masa-masa sulit pandemi terlewatkan.

Sebagian tempat yang telah melakukan sistem pembelajaran Daring tentu lebih paham manfaat dari interaksi lewat media elektronik dan bagaimana menjadikannya sebagai salah satu kemajuan pendidikan di era moderen, namun perlu diingat bahwa aplikasi dan media elektronik tidak akan memberi rasa kasih sayang dalam proses belajar, dimana dari rasa itu akan membetuk pribadi anak didik menjadi bermoral dan menghargai perbedaan, maka dari itu sistem daring tetap dilakukan tetapi sesering mungkin juga melakukan tatap muka secara langsung bersama anak-anak (Peserta Didik).

Perhatian terhadap proses belajar dan pendidikan di harapkan tidak berhenti pada masa Covid-19 saja, melainkan terus berlanjut hingga terciptanya pemerataan fasilitas pendidikan baik di kota maupun di desa***

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!