Obsesi Perubahan

  • Bagikan
banner 468x60

Basri Amin
Partner di Voice-of-HaleHepu
Pos-el: basriamin@gmail.com

KEKUATAN-KEKUATAN perubahan di masyarakat kita masih condong berpusat kepada “orang”, belum kepada “organ” yang menyatu dengan sistem pengetahuan dan orientasi kepemimpinan.

Prinsip “hari esok harus lebih baik” masih harus ditakar menurut kacamata terbatas/berjangka pendek (jaringan kelompok, ikatan keluarga, primordialisme, afiliasi organisasi, dst). Hari esok akan lebih baik untuk “siapa?”. Semua orang lalu “mengantisipasi” nasibnya! Padahal, “kelak, di atas timbangan kematian, kita akan berstatus sama!. Ia mengubah hidup (kita) menjadi nasib,” demikian tandas Malraux, negarawan Perancis (1901-1976).

Ketergantungan kepada orang, elite atau tokoh tak bisa lagi jadi pegangan. Arah bersama dan produktivitas tak bisa “dipikul” oleh sebuah elitisme. “Semua orang dan kelompok adalah penting,” begitulah kaidahnya. Sekalipun kapasitas berbeda-beda tetapi peran yang beroperasi di sektor-sektor produktif haruslah beroleh akses, informasi dan perlakuan yang benar.

Itu sebabnya, sektor negara melalui aparatusnya harus didorong-penuh dan lebih keras agar lebih peka terhadap “sumberdaya” yang aktif di dalam masyarakat. Perangai lama yang cenderung dominan –-serba pemerintah—dan keenakan memelihara kultur “bantuan” haruslah diolah sedemikian rupa melalui kerangka kerja baru agar kepemimpinan ekonomi di tingkat lokal tumbuh lebih besar.

Sistem regional yang memediasi produktivitas, dan terutama daya tahan terhadap goncangan, haruslah ditemukan dan dipercakapkan lebih luas. Di sisi ini memang ada soal serius: kita mudah bosan bernalar. Hampir di semua pertemuan dan acara, “waktu terbatas” dan dipotong-potong sedemikian rupa ketika hendak menyelami fakta-fakta yang sebenarnya. Meski semua sependapat bahwa tidak semua urusan harus dibicarakan, tetapi pembicaraan terbuka sangat kita butuhkan ketika hendak memastikan sesuatu. Begitu banyak “pertemuan yang tak berbuah titik temu, bukan?”.

Sistem yang menopang kapasitas (organisasi) pemerintahan dan pendekatan kewargaan yang tumbuh sehat di level masyarakat merupakan prakondisi jangka panjang kalau kita ingin negeri ini sehat (demokrasi) pembangunannya. Tanpa itu, yang kita gerakkan adalah tipu-muslihat yang dipoles-poles dengan publikasi dan sosialisasi. Tanpa komitmen total, yang akan kita capai adalah kepura-puraan periodik di hadapan “kesadaran palsu” masyarakat. Tanpa sandaran (moral) yang kokoh, yang akan kita capai adalah pembesaran “kawanan pecundang” yang hanya tumbuh-terpelihara karena sogokan, konsesi, dan korupsi.

Sistem kerja yang benar tidak cukup ditopang oleh tumpukan regulasi. Ia mensyaratkan kepemimpinan otentik yang tumbuh dari pengalaman yang menghayati dan dari basis pengetahuan yang memihak. Sebuah kepemimpinan yang “terus-belajar” dan yang menjauh dari kecongkakan pidato, posisi dan propaganda. Kepemimpinan yang bersandar kepada ke-KITA-an, bukan dari ke-AKU-an yang sepihak.

Mentalitas kepemimpinan kita, tampaknya masih harus banyak berubah. Kita bisa menyaksikan setiap saat di Republik ini, bagaimana perangai “pejabat-penguasa” tampak (masih) dominan. Bahasa kekuasaan memborgol kebersamaan dan produktivitas. Melalui jalan-jalan kekuasaan, yang tercipta adalah kebuntuan sikap-sikap pengayoman dan keterbukaan untuk “tumbuh bersama”. Tak heran kalau yang banyak dikerjakan dan yang tercium aromanya adalah lingkaran-lingkaran kepentingan jangka pendek yang terus-menerus terlindungi dan terbela di balik tembok-tembok posisi dan persepsi.

Dewasa ini, yang lebih condong tampil ke depan adalah “publikasi” yang kosong keberlanjutan. Kita miskin “persuasi” yang memintakan partisipasi. Kita (masih) miskin “pejabat teladan” yang berjiwa pendidik; yang bahasanya senantiasa aktif-menggema karena padat isi, afeksi, dan bukti-bukti.

Kini masih terlihat bagaimana “generasi lama” masih menguasai banyak posisi. Mereka bahkan menjadi petarung/pemain sepanjang hayat. Tradisi regenerasi yang memihak kepada loncatan-loncatan kemajuan –yang dikerjakan generasi baru– terkesan masih ragu-ragu diwujudkan. Pilihan menjadi “pensiun”an yang tetap produktif –tanpa posisi di sektor formal– belum banyak dinikmati dan diminati. Pokoknya, posisi harus diburu dan diraih! Adakah yang salah? Jawaban kita bisa terbelah.

Kini kita tak pungkiri bahwa di beberapa tempat, kehadiran generasi baru sudah terterima sebagai sebuah “kepercayaan” –kalau bukan sejenis percobaan!. Sepuluh tahun terakhir ini, terutama di tingkat nasional dan lokal, posisi-posisi kunci sudah memantulkan wajah-wajah “generasi milenial”, walau masih saja berulang kepiluan karena kelemahan “karakter” mereka dalam memerankan diri dan membaca goncangan-goncangan negerinya.

Kita jangan lupa, cukup banyak di antara ‘generasi baru’ itu yang jiwa korupsi-nya masih laten. Mereka begitu instan di jabatan. Mental sebagai oportunis dan avonturir cenderung menjadi pakaian mereka. “Siapa saja dijilat, yang penting beroleh akses. Kawan dijegal yang penting dapat fasilitas…main dua kaki di tiga panggung berbeda, dst”.

Tegasnya, Indonesia kita masih terkendala dalam perkara karakter dan mentalitas. Itu sudah terbaca sejak akhir 1950an. Tepat ketika Presiden Soekarno merumuskan Revolusi Mental tahun 1957, antara lain beliau menyatakan bahwa (ini) adalah “satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Maksudnya tidak kecil…”.

Hasilnya bagaimana sekarang?

Negeri ini harus lebih utuh berubah. Tak perlu debat pakai data resmi dan tabel evaluasi segala macam. Anda amati dan rasakan yang jujur saja dalam perkara sehari-hari. Di ruang-ruang publik dan di tempat-tempat kerja Anda, coba perhatikan!

Mental saling menjegal, saling memfitnah dan menebalkan kezaliman, masih eksis dan eksplisi, bukan? Orang-orang yang tumpul daya kerjanya, rendah komitmen dan prestasinya, masih banyak yang bercokol dan keenakan posisinya. Kita belum punya sistem audit keorganisasian yang handal memastikan “fakta yang sebenarnya”. Yang membesar adalah fantasi dan manipulasi.

Sistem yang menempatkan quality control dan keberlanjutan misi-misi luhur organisasi (publik) seringkali ronok di atas sebaran gosip, tafsir sepihak dan kuasa “siluman” yang dikelola oleh jaringan keluarga, kuasa pertemanan dan obsesi kapital. Kepada Anda semua, mari sama-sama kita cermati di kiri dan kanan kita masing-masing. Institusi sangat rentan diperalat oleh mereka yang tak terbukti “ucapan dan perbuatan”nya bulat-sepadan. ***

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *