Menyoal Etika Lingkungan di Maluku Utara

  • Bagikan

Oleh: Nurunnisa Hafel (Mahasiswi Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Ternate)

Etika Lingkungan (Environmental Ethics) secara bahasa dibagi menjadi dua kata, yakni Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang artinya adalah kebiasaan. Jika ditinjau lebih dalam tentang pengertian dari etika, yaitu: Etika Deontologi, Etika Teologi, dan Etika Keutamaan. Sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di lingkup manusia dan mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejateraan, baik manusia itu sendiri maupun mahluk hidup yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar kegiatan yang melibatkan lingkungan dapat dipertimbangkan secara teliti dan detail, sehingga tetap mempertahankan keseimbangan lingkungan (Natural).

Kita semua mengetahui bahwa setiap mahluk hidup termasuk manusia, sangat bergantung pada lingkungan disekitarnya. Lingkungan sekitar yang dimaksud meliputi tanah, air, udara, tumbuhan dan lain sebaginya. Antara unsur-unsur lingkungan semuanya saling berkaitan, baik dari segi fungsi dan tujuannya masing-masing. Dengan menjaga keseimbangan satu sama lain, bahwa lingkungan yang sehat akan lahir apabila yang manusia dan non-manusia (alam/lingkungan) dalam kondisi yang baik.

Zaman sekarang, banyak terjadi krisis lingkungan hidup yang harus dihadapi. Pelaku utama tentunya adalah hasil dari produk pendidikan, tentang etika lingkungan, namun kadangkalanya sering kali lupa bahwa akibat langsung dari pengolaan lingkungan hidup yang tidak berlandaskan etika. Sederhananya adalah manusia melakukan atau menggali hasil alam yang tanpa pedulinya (Antroposentrsm) pada makna dan peran etika.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hancurnya Ekologis disebabkan oleh krisis etika (moral) pada manusia. Contoh kegiatan yang dilakukan manusia adalah eksploitasi besar-besaran di beberapa titik daerah, mencemari laut dan udara dengan hasil eliminasi limbah-limbah pabrik, dan masih banyak lagi. Dan tentunya, dampaknya adalah terjadinya penurunan secara drastis kualitas dari sumber daya alam tersebut serta mulai langka sebagian spesies unik di muka bumi. Akhirnya pencemaran dan kerusakan alam yang dilakukan merupakan masalah yang akan dituai setiap hari dalam kehidupan manusia.

Belum lama ini, kita dikejutkan dengan berita mengenai isu terhadap lingkungan, baik secara lokal maupun Nasional. Dilansir oleh koran tempo.co tentang Revisi Amdal yang didesak oleh UNESCO kepada Indonesia dalam proyek wisata premium di Taman Nasional Komodo, lalu ada juga persoalan pembangunan jalan Trans Papua yang mengiris Taman Nasional Lorentz.

Tentunya, hal yang dilakukan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) bukanlah tanpa alasan. Hal tersebut dilakukan karena telah teruji bahwa dampak yang akan hilangnya hutan hujan tropis dengan luas 205 kilometer sebagai akses jalan, pembekalan liar, dan sejumlah satwa yang harusnya dilindungi pun akan ikut terancam.

Alih-alih berhenti karena teguran Komite Pusat Warisan Dunia, tapi malah tetap melanjutkan pembangunan prooyek. Bahkan tidak hanya di tingkat Nasional, isu lingkungan pun sampai merambat ke berbagai daerah-daerah spesifik di Maluku Utara. Kerusakan yang terjadi baik karena aktivitas pertambangan, Industri, Eksploitasi, hingga kerusakan pada bagian pesisir. Tidak menutup prespektif bahwa faktanya adalah karena tingkat kebutuhan dan pola modernisasi semakin meningkat, sehingga makin membuat terjadinya kerusakan lingkungan.

Dilansir oleh kumparan.com (Cermat), Pulau Gebe, Halmahera Tengah, PT Antam pernah beroperasi selama puluhan tahun. Dampaknya saat ini sebagaian besar Pulau Gebe terlihat tandus. Disebutkan juga didalam E-Journal Penelitian yang berjudul Etika Lingkungan Hidup tahun 2020, memaparkan bahwa problem lingkungan hidup antara lain; Polusi, perubahan iklim, penipisan sumber daya alam, pembuangan limbah, kepunahan keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, fenomena pengasaman laut, penipisan lapisan ozon dan masih banyak lagi.

Namun, jika kita mencoba menggali lebih dalam lagi dampak yang dilakukan manusia akibat keinginan yang berlebihan, justru akan merugikan manusia sendiri. Pasalnya, masyarakat yang notabenenya mempunyai pekerjaan bertani, berkebun, nelayan, dan pedagang akan kehilangan akses control akibat sumber daya alam yang sudah tidak dapat dikelola lagi, terutama masyarakat pedesaan yang masih percaya dengan adat istiadat yang masih berkaitan dengan alam. Tentu ini merampas hak masyarakat adat atas lingkungannya.

Saya melihat dengan menggunakan teori etika lingkungan, bahwa yang menonjol pada isu persoalan lingkungan di Maluku Utara adalah tentang Antroposentrisme atau manusia beranggapan sebagai pusat dialam semesta ini. Nilai tertinggi adalah manusia dan keinginannya demi memenuhi kepentingannya, dan percaya bahwa nilai, moral, atau etika hanya berlaku kepada yang Manusia (egois). Padahal, beberapa Negara maju seperti Amerika Serikat telah memberikan payung hukum (Legal Standing) pada tumbuhan dan pepohonan agar yang non-manusia (lingkungan/alam) bisa tetap berada pada perlindungan hukum.

Terakhir dari saya, bahwa; “mempoosiskan diri dengan yang non-manusia juga perlu. Saya tiba-tiba teringat dengan aktivis lingkungan perempuan asal India bernama Vhandana Shiva dengan aksinya memeluk pohoh (CHIPKO)”. “warisi mata airnya bukan air matanya, tanam kembang bukan tambang, hutan pohon bukan beton, air jernih bukan air keruh,”

Ruang lingkup semakin menutup dan etika lingkungan mulai dilupakan. Terima Kasih. (*)

banner 680x680 banner 1280x473
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!