Pasien Meninggal di RSUD Tobelo Diprotes Keluarga

  • Bagikan
RSUD Tobelo. (Istimewa)

PENAMALUT.COM, TOBELO – Meninggalnya satu pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara menjadi polemik.

Pasalnya, keluarga korban memprotes pelayanan pihak rumah sakit.

Informasi yang diterima media ini, korban meninggal saat dipasangkan oksigen dan setelah itu korban mengeluarkan banyak asap dari mulut dan telinga.

Pasien tersebut dirujuk dari Rumah Sakit Kusuri ke RSUD Tobelo dengan kondisi mulai membaik. Pasien kemudian dirawat di ruang IGD oleh seorang perawat. Tak begitu lama pasien langsung dipakaikan oksigen, setelah itu pasien ditinggalkan tanpa penanganan dan perawatan lebih lanjut.

Tak lama kemudian pasien langsung kritis. Sontak, ibu korban langsung nerteriak memanggil tim medis, dan saat itu juga salah satu perawat mencona menenangkan ibu tersebut di salah satu ruangan. Saat keluar, dokter memberi tahu ibu korban bahwa korban sudah tak bernyawa.

Polemik ini pun mencuat ke publik, bahkan sampai le telinga DPRD. Wakil rakyat ini lantas memanggil pihak RSUD Tobelo dan keluarga korban untuk meminta penjelasan.

Komisi III DPRD Halut memanggil Direktur RSUD Tobelo dan pihak keluarga korban untuk meluruskan polemik tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Halut, Sahril Hi. Rauf menjelaskan, benar atau tidaknnya informasi ini, pihaknya tetap menerima penjelasan kedua belah pihak.

“Kita ambil secara subjektif, demikian dari keluarga korban maupun pihak rumah sakit. Setelah kuta terima, kita akan luruskan tapi bukan dari sisi hukum, tapi dari sisi pelayanan rumah sakit terhadap masyarakat pada umumnya,” ujar Sahril kepada wartawan, Selasa (12/10) tadi.

Persolan ini, kata dia, setelah dipelajari apa yang disampaikan pada rapat tadi, akan diambil kesimpulan terakhir.

“Kalau tidak ada kesimpulan akhir, maka akan menjadi opini dan konsumsi publik. Kita tidak mau masalah ini bias keluar. Kalau memang benar ada SOP rumah sakit, kita akan kembalikan sebagaimana SOP. Sehingga kita berikan penjelasan kepada pihak korban,” tandasnya.

Sahril juga menyampaikan jika ada indikasi kelalaian pihak RSUD, dan keluarga korban menuntut ke proses hukum, maka itu bukan lagi menjadi ranah DPRD. Secara politik, DPRD akan memberikan perlindungan terhadap masyarakat, begitu juga dengan memberikan pemahaman bahwa rumah sakit adalah milik masyarakat.

Menurut, dia harus menjadi opini baik di masyarakat bahwa rumah sakit sudah dalam ketegori terbaik, sehingga pelayanan juga terbaik. Bukan hanya infrastrukturnya saja yang baik.

“Kita juga berharap ada keseriusan dari pihak rumah sakit untuk mengayomi dan memberikan standar kerja kepada dokter dan medis. Ada hal yang barangkali harus kita sama-sama menyadari,” tukasnya.

Pihaknya juga menyarankan kepada pihak rumah sakit untuk prioritas tenaga psikolog dengan pendekatan sikologi. Pendekatan ini dengan maksud agar pasien bisa merasa nyaman dengan pelayanan rumah sakit.

“Kita perhatikan yang terjadi ini adalah soal komunikasi yang tidak nyaman antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien. Kita berharap semoga ke depan tidak terjadi lagi seperti ini,” harapnya menutup. (fnc/ask)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!