Kisah Pria Yatim Piatu yang Nyaris Putus Asa Raih Gelar Sarjana di IAIN Ternate

Ambri A. Gani, SH.

PENAMALUT.COM, TERNATE – Wisuda kerap menjadi momen istimewa bagi para wisudawan, karena mempersembahkan hadiah terbaik bagi kedua orang tua yang datang mendampingi.

Ini karena para wisudawan tersebut telah berhasil menyelesaikan perjalanan panjang dan penuh pengorbanan, sehingga dapat dirayakan dengan penuh kebahagiaan dan sukacita.

Namun, tidak pagi itu. Sabtu (27/8) merupakan suasana sedih menyelimuti seorang pria yang merayakan momen wisuda tanpa kedua orang tua.

Adalah Ambri A. Gani. Pria asal Dufa-dufa, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate ini berhasil menamatkan kuliah, meski di tengah perjalanan dalam menempuh pendidikan telah menyandang status yatim piatu.

Kepada kru Nuansa Media Grup (NMG), Ambri berkisah, saat prosesi wisuda, dirinya tidak ditemani kedua orang tuanya. Sang ibu sudah meninggal sejak 2019. Kemudian di tengah perjalanan studi akhir, sang ayah pun menyusul untuk kembali ke Rahmatullah.

Padahal, awal masuk kuliah pada 2016 di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Ambri sempat ditemani kedua orang tuanya.

“Awal masuk kuliah itu memang masih bersama kedua orang tua. Berjalannya waktu pada tahun 2019, itu mama lebih dulu meninggal dan pada saat itu saya sempat merasa sedih, putus asa dan kecewa. Namun, saya tetap kuatkan hati agar menerima semua cobaan ini,” kisah Ambri.

“Kalau papa meninggal itu pas waktu saya sedang menyusun skripsi untuk studi akhir. Karena sudah kehilangan kedua orang tua, saya sempat down dan tidak ingin melanjutkan lagi perkuliahan saya. Namun, saya berpikir di antara lima bersaudara, hanya saya sendiri yang lanjut kuliah. Itu yang bikin saya tetap bertahan,” sambung pria kelahiran Ternate, 15 April 1996 ini.

Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah IAIN Ternate ini berkata, kehilangan kedua orang tua membuat dirinya tetap kuat. Sebab, ia sendiri sempat berpikir lebih baik melanjutkan proses perkuliahan ketimbang harus larut dalam kesedihan.

“Karena saya yakin, semua pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Karena itu, saya tetap berusaha dan berdoa,” tuturnya.

Sebagai anak yatim piatu, Ambri harus bekerja keras untuk melanjutkan proses perkuliahannya sekaligus membayar uang kuliah tunggal (UKT) dan biaya lainnya. Rutinitas itu bukan hal baru bagi Ambri, sebab awal masuk kuliah, ia sudah membiayai UKT dan lainnya itu tanpa membebani kedua orang tuanya.

“Biaya kuliah saat saya memasuki perkuliahan di IAIN Ternate, saya sendiri yang tanggung dan tidak pernah saya libatkan dan bebankan kepada orang tua,” ucap anak keempat dari lima bersaudara ini.

Ambri bilang, uang perkuliahan tersebut ia dapatkan dari hasilnya dalam berkarir di dunia olahraga sepak bola. Sehingga itu, biaya kuliahnya ia dapatkan dari hasil bayaran tersebut.

Meski begitu, Ambri mengaku, ada di suatu momen yang mana ia terkendala pada biaya perkuliahan saat dirinya belum memiliki uang. Sehingga ia menyambangi keluarganya tanpa sepengetahuan orang tua di kala mereka masih hidup.

Di sisi lain, lanjut Ambri, dari kelima bersaudara hanya dia sendiri yang melanjutkan proses perkuliahan di bangku perguruan tinggi.

Mantan atlit PON Maluku Utara itu juga berujar, usai wisuda di IAIN Ternate, ia belum bisa memastikan rencana dan kepastiannya untuk melanjutkan studi strata dua (S2) kedepan. Ini karena kondisi ekonomi belum maksimal. Apalagi hidup tanpa kedua orang tua terbilang sangat sulit.

“Saya juga ingin melanjutkan perkuliahan selanjutnya setelah wisuda, tetapi kondisi dan biaya saya saat ini kurang memadai, sehingga saya belum bisa pastikan,” katanya.

Melihat rekan-rekannya bersukacita, terharu dan tampak bahagia bersama kedua orang tuannya, Ambri justru menahan nestapa sembari ditemani kakak sulungnya. Karena itu, ia bertekad kedepannya akan melakukan yang terbaik.

“Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Civitas Akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate dan seluruh pihak lembaga kampus atas memo dan segalanya, sehingga saya bisa sampai ke titik ini, pungkasnya. (tan)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.