Kompetisi Debat Hukum Nasional, Mahasiswa FH Unkhair Raih Juara 1

Tim Jimly Asshiddiqie bersama Pembina, Abdul Kadir Bubu.

PENAMALUT.COM, TERNATE – Tiga mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate berhasil mendulang prestasi dengan meraih juara 1 lomba debat hukum tingkat nasional dan best speaker.

Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Universitas Jember yang bernama FK2H Law 2022 ini berlangsung pada 26 September hingga 30 Oktober 2022.

Perwakilan Fakultas Hukum Unkhair Ternate dari tim yang bernama Jimly Asshiddiqie ini berhasil membungkam lawan debatnya hingga tak berkutik. Ketiganya juga berhasil menyingkirkan berbagai PTN ternama lainnya di Indonesia. Mereka adalah Dini Rahmadani Amri sebagai pembicara I, Laila Rahmadini H A Kahar pembicara II dan Siti Sakinah Kasturian didapuk jadi pembicara III.

Siti Sakinah Kasturian, kepada Nuansa Media Grup (NMG) mengatakan, mereka mengikuti lomba Debat Hukum Nasional FK2H Law Feat 2022 yang diselenggarakan oleh Universitas Jember ini, dibuka untuk Fakultas Hukum perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Ia bilang, ada beberapa tahapan yang mereka ikuti, yakni tahapan seleksi video, yang di mana hanya dipilih 8 besar dari beberapa perguruan tinggi yang ikut. Ia juga mengaku belum mengetahui berapa jumlah perguruan tinggi yang mengikuti ajang tahunan itu. Sebab seleksinya tertutup.

“Alhamdulillah saat pengumuman, kami dari Unkhair lolos. Setelah dari situ kami mulai menyelesaikan mosi. Tapi di sini agak kesulitan karena mosinya berkaitan dengan internet (IT) yang harusnya dipahami anak-anak Teknik Informatika,” tuturnya.

Meski begitu, ia bersama kedua rekannya tak pernah putus asa. Sehingga itu, mereka bisa menarik perdebatan yang kemungkinan mosinya menyentuh di dunia informatika, tetapi mereka berhasil membawa ke ranah perdebatan hukum.

“Alhamdulillah di situ untuk perempat finalnya kami berhadapan dengan UIN Tulungagung dengan mosi Indonesia siap menerapkan E-Court pengadilan elektronik dengan posisi kontra,” jelasnya.

Setelah lolos lagi, lanjut dia, ketiganya berhadapan dengan Universitas Muhammadiyah Malang, dengan mosi aturan pendataran PSE sebagai langkah awal penegakan digital di Indonesia.

Pada semifinal ada dua grup, yakni grup A dan grup B. Mereka bertanding di grup A melawan Universitas Muhammadiyah Malang. Sedangkan di grup B ada Universitas Negeri Riau yang melawan Universitas Indonesia.

“Sayangnya, kami berharap kalau UI masuk final, kami bisa bertemu dengan UI tapi ternyata UI kalah dengan Universitas Negeri Riau. Setelah menang di grup untuk semifinal, kami akhirnya berhadapan dengan mahasiswa Universitas Negeri Riau,” tuturnya panjang lebar.

Di final, lanjutnya lagi, mereka berhadapan dengan Universitas Negeri Riau, mosinya artifisial intelijen. Kesulitan selama pembuatan mosi tersebut berkaitan dengan IT, sehingga ketiganya tidak terlalu mendalami topik-topik yang diperdebatkan.

“Jadi kami belajar dulu tentang mosinya dengan mencari jurnal-jurnal. Setelah itu baru menyusun argumen dan dibantu juga sama kakak-kakak pembina dari UKM debat,” terangnya.

“Alhamdulillah Unkhair Ternate selain memperoleh predikat juara I di lomba ini, kita juga memperoleh predikat best spiker yang diraih oleh Laila Rahmadini. Jadi kita boyong dua gelar langsung, yaitu juara nasional dan best speaker” sambungnya penuh semangat.

Prestasi terbaik itu tidak terlepas dari motivasi dan atensi pihak-pihak yang membantu. Karena itu, mereka berterima kasih kepada pihak Fakultas Hukum Unkhair Ternate. Kemudian seorang dosen pembina dari Fakultas Hukum Unkhair Ternate, yakni Abdul Kadir Bubu. Wadek III, Bambang, dan para pembina lainnya, yakni Nurlaila Kadarwati, Mardania Ghazali, Suwiryo Prawira dan lain-lain.

“Kami juga berterimakasih kepada Nuansa Media Grup (NMG) yang sudah memfasilitasi ruangan ini baik persiapan debat maupun kajian rutin, sehingga kami bertiga dapat belajar di sini,” ujarnya.

Sementara itu, Abdul Kadir Bubu, menuturkan juara hari ini adalah puncak dari penantian panjang selama ini. Sebab Unkhair Ternate mengikuti debat konstitusi sejak 2009 secara nasional sudah berhasil meraih juara III.

“Juara nasional Fakultas Hukum Unkhair yang keluar sebagai juara I merupakan penantian panjang sampai hari ini. Juara hari ini juga adalah akhir dari proses belajar panjang yang selama ini dilakukan,” katanya.

Selain itu, juara ini tidak hanya diraih para tim debat, tetapi juga atas dedikasi Nuansa Media Grup (NMG) yang telah memberikan tempat dan fasilitas untuk anak-anak ini belajar, karena diterima secara terbuka di Ruang Nuansa ini.

“Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sehingga patut saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Nuansa Media Grup atas fasilitas dan kesediaan yang diberikan kepada anak-anak untuk belajar dari kemarin, hari ini dan sampai kapan pun saya berharap ini terus berlangsung, supaya proses belajar di sini juga berjalan lancar,” katanya berharap.

Menurutnya, ini bukan proses yang mudah untuk sampai di puncak ini. Apalagi debat ini melibatkan hampir seluruh kampus di Indonesia. Di mana, penyelenggara mengundang kampus yang ada di Indonesia untuk turut serta berpartisipasi dalam debat nasional yang diseleksi melalui video debat terbaik, sehingga masuk sebagai peserta debat dengan mekanisme itu yang dilakukan.

“Bagi saya ini prestasi yang luar biasa. Memang di kelompok ini yang luar biasa itu mereka memiliki soliditas dan kemauan yang tinggi untuk belajar. Itu yang saya suka dari mereka,” ujar Dade, sapaan akrab Abdul Kadir Bubu.

“Juara ini merupakan bonus dari hasil kerja keras mereka selama ini. Sekali lagi saya katakan, Nuansa Media Grup juga berkontribusi besar atas capaian tertinggi dari anak-anak UKM debat Fakultas Hukum Unkhair Ternate ini,” sambungnya mengakhiri. (tan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *