PENAMALUT.COM, LABUHA – Puluhan mahasiswa dari berbagai OKP seperti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, Kamis (1/5).
Massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Rakyat Tertindas (Sparta) Halmahera Selatan itu menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor PLN Cabang Bacan dan kawasan Taman Zero Point.
Koordinator aksi, Jefika Tomodi, menyampaikan aksi yang digelar merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi buruh hari ini akibat dari kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang.
āAksi kami ini bukan semata-mata kepentingan kami, tetapi kami menyuarakan kepentingan buruh yang di-PHK maupun yang masih bekerja hari ini, agar pemerintah bisa memperhatikan mereka,ā tegas Jefika.
Ia mengatakan, jika melihat kebijakan pemerintah hari ini berkaitan dengan kegiatan industrialisasi di semua sektor pertambangan, petani, guru, nelayan, maka sangat memperhatikan nasib buruh di Indonesia.
āMereka di-PHK, gaji para buruh pun dibayar tidak sesuai dengan keringat mereka. PHK di mana-mana dengan alasan efisiensi. Sangat prihatin dengan kondisi buruh kita saat ini,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, UU Ciptaker juga masih menjadi permasalahan di Indonesia hari ini. Massa mengkritisi atas kebijakan negara yang tidak berpihak pada rakyat. Sebab itulah, mereka membawa delapan tuntutan atau isu penting yang menjadi agenda aksi.
āAda delapan isu yang kami suarakan hari ini. Pertama, stop perampasan lahan tani dengan perluasan daerah perkotaan. Kedua, hentikan diskriminasi terhadap pekerja buruh. Ketiga, sahkan UU Perampasan Aset. Keempat, berikan gaji pesangon terhadap buruh yang di-PHK,” tegasnya.
“Kelima, berikan cuti hamil dan menstruasi terhadap buruh perempuan. Keenam, berikan kepastian hukum buruh UMKM. Ketujuh, pemerintah daerah harus memprioritaskan pekerja lokal, dan terakhir harus bentuk politik kebebasan berserikat,ā pungkasnya. (rul/tan)










