DAERAH  

Kisah Pilu Ibu Hamil: Bawa Anak Sakit ke Puskesmas, Pulang dengan Air Mata

Puskesmas Babang

PENAMALUT.COM, LABUHA – Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain melihat anaknya menahan sakit, sementara dirinya tak mampu berbuat banyak.

Perasaan itulah yang diduga dialami seorang ibu yang tengah mengandung delapan bulan ketika membawa anaknya ke Puskesmas Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Senin (31/8) sekitar pukul 12.30 WIT.

Ia datang bukan untuk meminta sesuatu yang istimewa. Bukan pula mengharapkan pelayanan khusus.

Ia hanya ingin anaknya yang sedang kesakitan diperiksa dan mendapat pertolongan. Namun, harapan itu justru berujung air mata.

Anak yang dibawanya mengeluhkan nyeri hebat di bagian perut hingga pinggang sebelah kiri, disertai mual dan muntah. Dalam kondisi demikian, sang ibu bergegas membawa buah hatinya ke Puskesmas Babang, tempat yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

Tetapi setibanya di sana, menurut pengakuannya, ia justru mendapat jawaban bahwa pelayanan telah ditutup.

“Saya datang bawa anak yang sakit perut bagian pinggang dan muntah-muntah untuk meminta pertolongan medis, tetapi sudah jam istirahat sekitar pukul 12.30 WIT. Perawat bilang pelayanan sudah ditutup sampai besok baru dibuka kembali,” ungkap sang ibu.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi orang yang tidak sedang berada dalam situasi darurat.

Tetapi bagi seorang ibu hamil delapan bulan, dengan anak yang sedang meringis menahan sakit di hadapannya, kalimat tersebut tentu terasa begitu berat.

Ia kemudian diarahkan membawa anaknya ke RSUD Labuha yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Desa Babang.

Jarak 10 kilometer mungkin terlihat dekat jika ditempuh dengan kendaraan dan dalam kondisi normal. Namun bagi ibu tersebut, jarak itu bukan sekadar angka.

Ia harus memikirkan kendaraan. Ia harus memikirkan biaya perjalanan. Sementara anaknya masih kesakitan dan kondisinya membuat hati seorang ibu diliputi kecemasan.

Sang ibu mengaku tidak memiliki biaya yang cukup untuk membawa anaknya ke Labuha. Dalam kondisi serba terbatas, ia akhirnya memilih pulang.

Bukan karena anaknya sudah sembuh. Bukan pula karena rasa sakit itu telah hilang. Ia pulang karena merasa tidak memiliki pilihan lain.

“Nanti saya bawa pulang ade ke rumah saja untuk diberikan obat kampung,” ucapnya sambil meneteskan air mata kepada wartawan.

Kalimat sederhana itu menyimpan kesedihan yang panjang. Seorang ibu yang seharusnya bisa merasa lega setelah membawa anaknya ke fasilitas kesehatan, justru harus kembali ke rumah dengan membawa anak yang masih sakit.

Di perjalanan pulang, mungkin ada satu pertanyaan yang terus memenuhi pikirannya,.bagaimana jika sakit anaknya semakin parah?

Sejumlah perawat Puskesmas Babang ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa pelayanan telah ditutup saat ibu tersebut datang.

“Iya, pelayanan ditutup sampai besok karena dokter sudah pulang,” kata salah seorang perawat, sebagaimana dikutip dari FaktaHalmahera.com.

Petugas juga menyebut jam pelayanan Puskesmas Babang berlangsung Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIT.

Persoalannya kemudian bukan sekadar tentang ada atau tidaknya jam pelayanan. Masyarakat tentu memahami bahwa tenaga kesehatan juga bekerja berdasarkan aturan dan jadwal.

Namun, kisah ibu tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Ketika seorang anak datang dalam kondisi sakit di luar jam pelayanan, sementara orang tuanya berada dalam keterbatasan, ke mana mereka harus mencari pertolongan?

Apakah tersedia pemeriksaan awal? Apakah ada pertolongan pertama? Apakah terdapat petugas yang memiliki kewenangan untuk melakukan penanganan awal? Atau mekanisme rujukan yang benar-benar dapat membantu masyarakat hingga tiba di rumah sakit?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab. Sebab bagi masyarakat di daerah, Puskesmas bukan sekadar bangunan pelayanan kesehatan.

Puskesmas adalah tempat mereka menggantungkan harapan ketika anggota keluarga jatuh sakit. Mereka datang karena percaya akan ada seseorang yang membantu.

Kisah ibu hamil delapan bulan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai sebuah cerita yang kemudian dilupakan.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya Dinas Kesehatan, perlu menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi.

Bukan semata-mata untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Tetapi untuk memastikan tidak ada lagi masyarakat yang berada dalam posisi serupa: datang mencari pertolongan, namun pulang dengan membawa rasa takut dan air mata.

Sebab pelayanan kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang jadwal, gedung, loket, atau prosedur.

Di balik setiap pasien, ada manusia. Ada anak yang sedang menahan sakit. Ada ayah yang panik. Ada ibu yang mungkin menangis diam-diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Dan ada keluarga sederhana yang mungkin hanya memiliki satu harapan: tolong kami.

Hari itu, seorang ibu hamil delapan bulan datang membawa anaknya ke Puskesmas Babang. Ia datang dengan harapan anaknya diperiksa.

Namun, ia pulang dengan anak yang masih sakit dan air mata yang jatuh di wajahnya. Semoga air mata itu tidak berlalu begitu saja.

Semoga kejadian ini menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, terutama mekanisme penanganan masyarakat yang datang ketika pelayanan rutin telah berakhir.

Karena anak yang sakit tidak mengenal jam kerja. Rasa sakit tidak menunggu loket dibuka.

Dan bagi seorang ibu, melihat anaknya kesakitan adalah keadaan yang tidak pernah mengenal kata “jam pelayanan”.

Yang dibutuhkan seorang ibu pada saat seperti itu sederhana, ada seseorang yang mau menolong. (rul)