Jadi Dosen Tamu di UI, Fachruddin Kembali Bawa Isu Togutil ke Ruang Akademik

Kepala BPSDM Maluku Utara, Dr. Fachruddin Tukuboya, menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia.

PENAMALUT.COM, JAKARTA — Isu Suku Togutil di pedalaman Halmahera kembali dibawa ke ruang akademik Universitas Indonesia (UI). Kali ini, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku Utara, Dr. Fachruddin Tukuboya, dipercaya menjadi dosen tamu pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Ilmu Lingkungan Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI.

Fachruddin hadir dalam perkuliahan mata kuliah Sistem Kehidupan Manusia dan Lingkungan (ESEN800102) untuk mahasiswa Kelas Reguler 45A, Kamis (10/9) kemarin.

Kuliah yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB secara luring di Gedung Ilmu Lingkungan SPPB UI, Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, itu mengangkat tema “Kehidupan Manusia sebagai Organisme Lingkungan (Kalender Berburu Suku Terasing)”.

Undangan tersebut tertuang dalam surat resmi bernomor S-1752/UN2.F13.D1/PDP.01/2026 tertanggal 31 Agustus 2026 yang ditandatangani Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan SPPB UI, Prof. Yon Machmudi, S.S., Ph.D.

Koordinasi teknis perkuliahan dilakukan Koordinator Mata Kuliah, Dr. Herdis Herdiansyah, S.Fil.I., M.Hum.

Bagi Fachruddin, kembali berdiri di ruang kelas UI bukan sekadar agenda akademik. Forum tersebut menjadi ruang untuk membawa pengalaman riset dan persoalan masyarakat adat Halmahera kepada generasi akademisi yang tengah mendalami hubungan manusia dan lingkungan.

Dari Disertasi hingga Ruang Kelas

Isu Suku Togutil bukan tema yang baru bagi Fachruddin. Bertahun-tahun, ia menaruh perhatian pada kehidupan masyarakat adat terpencil yang bermukim di pedalaman hutan Halmahera.

Perhatian itu kemudian dituangkan dalam penelitian doktoralnya di UI. Pada 28 Desember 2024, Fachruddin mempertahankan disertasi berjudul “Model Pemberdayaan Berbasis Kalender Penghidupan Suku Togutil Berkelanjutan” dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Sekolah Ilmu Lingkungan UI. Ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,91.

Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari kisah akademiknya. Dari perjalanan pendidikan yang sempat menghadapi persoalan hingga menyelesaikan studi doktoral di UI, Fachruddin kemudian menjadikan hasil risetnya sebagai pijakan untuk terus menyuarakan isu Suku Togutil.

Tak lama setelah meraih gelar doktor, Fachruddin turut menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya perhatian pemerintah terhadap komunitas adat terpencil tersebut.

Sebelumnya, saat masih menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara, Fachruddin juga menjadi pembicara dalam seminar internasional “Navigating the Anthropocene: Strengthening Indonesian Cooperative Businesses for Sustainable Development” pada 20 November 2024.

Konsistensinya berlanjut pada 2025. Pada 7 November 2025, ia dipercaya menjadi keynote speaker dalam 6th International Symposium on Earth, Energy, Environmental Science and Sustainable Development.

Dalam forum internasional itu, ia mengangkat pentingnya mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, dan kearifan masyarakat adat dalam agenda pembangunan berkelanjutan, dengan Suku Togutil sebagai salah satu studi kasus utama.

Membawa Halmahera ke Mimbar Akademik

Kini, setahun lebih setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Fachruddin kembali ke ruang akademik UI bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai dosen tamu.

Kehadirannya menjadi titik temu antara penelitian, pengalaman lapangan, dan kebijakan pembangunan lingkungan.

Tema yang dibawakan pun kembali bersentuhan dengan kehidupan masyarakat adat dan cara mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pengetahuan lokal tentang kalender berburu Suku Togutil menjadi bagian dari pembahasan mengenai hubungan manusia dengan ekosistem.

Di titik ini, pengalaman Fachruddin sebagai birokrat sekaligus akademisi dan peneliti memberikan perspektif berbeda. Persoalan masyarakat adat tidak hanya ditempatkan sebagai objek penelitian, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang memiliki relevansi dalam memahami pembangunan berkelanjutan.

Bagi Maluku Utara, kehadiran Fachruddin di mimbar akademik UI sekaligus membawa isu dari pedalaman Halmahera ke ruang diskusi akademik nasional.

Perjalanan itu memperlihatkan satu garis yang tetap ia pertahankan. Meneliti, memahami, dan terus menyuarakan kehidupan Suku Togutil melalui ruang akademik maupun kebijakan publik. (ask)