Pilbup Halsel Kemungkinan Besar Tanpa Petahana, Siapa yang Berkepentingan?

0
Helmi Alhadar. (Foto: Istimewa)

Oleh: Helmi Alhadar (Akademisi)

OPINI, PENA – Halmahera Selatan (Halsel) merupakan kabupaten dengan jumlah jiwa pilih terbesar di Maluku Utara (Malut), sehingga banyak pihak yang berkepentingan untuk menang Pilkada di Halsel. Dimana akan mempengaruhi pihak-pihak yang berkepentingan untuk pertarungan pilgub 2024 nanti.

Melihat kesulitan petahana untuk memperoleh partai tentu mengagetkan banyak orang. Sebab, kalau mau dilihat dari kontestan yang ada, seperti Usman-Bassam serta Helmi-Laode maka mestinya elektabilitas Bahrain tidak kalah moncer. Paling tidak, sebagai petahana Bahrain masih memiliki pengaruh yang besar di Halsel.

Namun tentu ada pertimbangan dari partai-partai untuk tidak memberikan dukungan terhadap incumbent dengan alasan yang subyektif, dimana kemungkinan Bahrain dianggap tidak terlalu memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan di pusat.

Adapun kemungkinan lain adanya elit besar di daerah yang ikut bermain dalam hal ini selain Muhammad Kasuba. Mengamati kondisi terkini di Halsel, kita dapat menduga bahwa agresifitas Usman-Bassam untuk memburu partai sebanyak mungkin memperlihatkan niat pasangan tersebut yang sengaja berusaha menghalangi tampilnya Bahrain di pilbup Halsel. Hal ini kemungkinan didasarkan beberapa kemungkinan yang menjadi landasan itikad pihak Usman menjegal Bahrain.

Pertama, secara obyektif munculnya Bahrain dalam pertarungan kemungkinan dianggap akan bisa lebih menguntungkan pihak Helmi-Laode yang juga termasuk salah satu kontestan yang patut diperhitungkan, sebab politik di Halsel tidak lepas dari politik etnik sehingga etnik Togale di Halsel bisa terbelah secara seimbang dalam pilihan karena wakil Usman, yakni Bassam Kasuba, merupakan sepupu dari Bahrain. Begitupun Usman yang dari etnik Makayoa sudah terhalang dengan pengaruh istri dari Bahrain Kasuba yang juga berasal dari Makayoa.

Kedua, konflik pribadi antara bahrain dengan Muhamad Kasuba dalam pilgub dan pileg lalu menjadi alasan Bupati Halsel sengaja dijegal oleh Muhammad Kasuba karena sang bupati berkonstribusi dalam kegagalan Muhammad Kasuba menjadi gubenur 2018 dan kekalahan Muhammad Kasuba menjadi anggota DPR RI 2019.

Ketiga, mungkin Muhammad Kasuba mempertimbangkan kejenuhan masyarakat Halsel terhadap keluarga Kasuba yang sudah terlalu lama berkuasa di kepulauan Bacan sehingga Bassam hanya diusung untuk menjadi nomor dua di kepulauan tersebut. Sebab, kalau melihat sejarah sebelumnya Muhammad Kasuba juga pernah bekerjasama dengan Thaib Armaiyn untuk keterpilihannya sebagai bupati di Halsel tahun 2005, yang kemudian Thaib berpasangan dengan AGK sebagai gubenur dan wagub pada tahun 2007 lalu setelah mengalahkan Abdul Gafur-Abdurahim Fabanyo.

Untuk itu, bukan tidak mungkin kalau kali ini kerjasama itu bisa terulang kembali, dimana kalau dilihat dari majunya Iswan-Nurlaila di Kota Ternate yang kemungkinan Muhammad Kasuba akan berpasangan dengan Majid Husen atau Nurlaila Armaiyn pada pilgub 2024 nanti. Belum lagi kepentingan AHM untuk meredam keluarga Kasuba yang dua kali mengalahkannya dalam pertarungan pilgub Malut dengan selalu kalah di Halsel kemungkinan menjadi pertimbangan Golkar tersendiri yang ikut meninggalkan Bahrain. Namun sepertinya pilihan Golkar ke pasangan Usman lebih berdasarkan keinginan dari DPP. Sebab kalau dari kemauan AHM atau Alien, mestinya Golkar Malut lebih nyaman bersama Helmi-Laode, apalagi Laode sendiri dikenal sebagai orang yang cukup dekat denga Ahmad Hidayat Mus (AHM).

Tapi ini semua cuma hasil analisis yang bersifat subyektif yang kemungkinan bisa menjadi kenyataan, bisa tidak karena dalam politik tidak ada yang mustahil. Melihat agresifitas pasangan Usman-Bassam, maka penulis berasumsi bahwa kemungkinan besar si petahana tidak ikut berkontestasi pada pilbup Halsel kali ini mengingat ambisi dari pihak-pihak terkait untuk meredam gerakan Bahrain sangat serius dan terukur, yang kemungkinan berujung dengan si bupati tidak mendapatkan perahu untuk berkontestasi. Dengan begitu, dapat diduga kemungkinan besar si incumbent akan gagal sebagai kontestan.

Lalu bagaimana head to head antara Usman-Bassam vs Helmi-Laode? Secara obyektif pasangan Usman-Bassam terlihat begitu perkasa dengan dukungan dua etnik besar yan ada di Halsel ditambah dengan pengaruh tokoh-tokoh berpengaruh di wilayah tersebut, belum lagi dukungan dari partai-partai besar ditambah dengan finansial yang menjanjikan dari pasangan tersebut sehingga paket ini layak berbesar hati dalam kontestasi kali ini. Namun di lain pihak Helmi yang berpasangan dengan etnik Buton serta kemungkinan didukung oleh etnik Bajo, yang sekalipun tidak sebesar etnik Togale-Makayoa, tidak dapat disepelekan.

Selain itu, Helmi juga kemungkinan mendapat dukungan dari sebagian etnik Makayoa mengingat ayahnya juga berketurunan etnik Makayoa, plus sokongan dari etnik Bacan di Amasing. Belum lagi faktor kepribadian personal dan kematangan politik dari Helmi Umar Muksin menjadi modal yang cukup untuk berkontestasi di kabupaten yang sering diperebutkan oleh para calon gubernur di Malut karena jumlah pemilih yang besar.

Selain itu, Bahrain beserta istri dan loyalisnya yang kemungkinan kecewa dengan kegagalan Bahrain dalam kontestasi kemungkinan besar bisa mengalihkan dukungan ke pasangan Helmi-Laode. Dengan begitu, tumpang tindihnya kepentingan dari elit pusat dan daerah di Malut menjadikan pertarungan pilbup di Halsel akan tetap menjadi seru karena pilbup terasa pilgub. Menarik untuk dinantikan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here