Mari Baronggeng!

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Murid Tonirio
Pengajar Fakultas Ushuluddin IAIN Ternate

ADA setidaknya dua video pasien positif Covid-19 di Maluku Utara, tepatnya di Ternate, telah beredar di media sosial, yang membuat orang mungkin geleng-geleng kepala; atau malahan menjadi bahan lucu-lucuan. Video pertama tentang empat atau lima pasien bermain bola di selasar rumah sakit Chasan Boesorie, tempat mereka dikarantina. Video kedua (baru saya dapat), pasien menari di depan pintu salah satu kamar hotel tempat dia diisolasi.

Dua video ini mengungkap dua respon berbeda. Video pertama, petugas di RS memperlihatkan ketidakberdayaan menanggulangi ulah “pemain bola”. Video kedua memeragakan kegembiraan petugas kesehatan, berolahraga di halaman hotel diiringi musik. Tidak jauh dari situ, beberapa anggota polisi atau anggota tentara atau Satpol-PP, berdiri sambil memeluk dada, menikmati tontonan. Di depan pintu salah satu kamar di hotel itu, seorang pasien, yang mengenakan celana selutut, ikut bergoyang.

Publik memperlihatkan respon berbeda terhadap dua video ini. Pada video pasien pemain bola, publik menganggap mereka sebagai orang-orang bandel yang tidak tahu diri, yang tidak taat pada protokol yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan pada video kedua, publik bisa menerimanya sebagai peritiwa yang wajar. Hal itu karena, bersama-sama pasien, petugas kesehatan menjadi subyek di situ.

Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Perspektif common sense yang telah beradar sebelumunya menjelaskan begini: Mereka bermain bola sekadar membunuh kejenuhan di tengah ketidakpastian apakah mereka benar-benar positif Covid-19.

Penjelasan teoritiknya bisa dibangun seperti ini, mereka yang bermain sedang melakukan perlawanan. Seperti diketahui, para pemain bola itu telah divonis positif Covid-19. Tetapi karena tidak diberi hak mengakses hasil pemeriksaan, mereka bermain bola, semacam perlawanan terhadap otoritas ilmu pengetahuan kedokteran dan otoritas pemerintah yang direpresentasikan Gugus Tugas.

Dengan kata lain, bermain bola adalah “Sejatanya Orang-Orang Kalah”. Orang-orang yang dibuat tidak berdaya ini, melawan hegemoni dengan cara “mengatakan sesuatu dengan sesuatu”. Dengan kata lain, para pemain bola itu sadar bahwa mereka memang orang sakit, namun karena tidak diberi bukti sebagai orang sakit, mereka menolak “berperan sebagai orang sakit”. Jadi, bermain bola adalah siasat untuk mengolok-olok akal sehat ilmu pengetahuan dan kepengaturan politik.

Siasat ini dilihat sepintas tampaknya masuk akal menjadi peralatan melawan dengan alasan berikut. Sifat virus yang tidak terlihat mata biologis, apalagi jika serangan virus tidak membuat si pasien terkapar di tempat tidur, pada satu sisi, dan tidak adanya akses terhadap hasil pemeriksaan yang menjadi hak pasien, pada sisi lainnya, maka walaupun virus telah berkembang biak dalam tubuh, si pasien kemudian bisa “mengelabui” akal sehat, bahwa diririnya dalam keadaan walafiyat. Dengan begitu, mereka menganggap wajar melakukan tindakan layaknya orang sehat.

Kasusnya akan berbeda virus yang menyerangnya membuat penderita tidak berdaya. Dalam hal virus tifus, yang membuat pasien terkapar, mau tidak mau, suka tidak suka, si pasien harus beristirahat. Beristirahat, di sini, bisa dianggap bukan karena taat pada anjuran dokter dan perawat. Pasien melakukan itu karena memang virus telah membuatnya terkapar tidak berdaya.

Bagaimana menjelaskan petugas medis dan pasien yang menari? Orang awam menganggap hal itu dilakukan berhubungan dengan “mengusir kejenuhan”. Jadi, tindakan petugas kesehatan dan pasien yang menari adalah tindakan yang manusiawi, yang akan dilakukan siapa pun, yang berbulan-bulan tidak bertemu keluarga demi berjibaku dengan virus. Itu pula mengapa petugas keamaan hanya berdiri memeluk dada menikmati tarian sebagai hiburan gratis.

Mari kita menyelami studi ritual yang menjadi salah satu bidang kajian antropologi. Di sana kita akan menemukan penjelasan lain: Petugas medis dan pesien yang menari tidak semata cara bersiasat dengan kejenuhan. Tindakan menari lebih jauh bisa dilihat sebagai cara menciptakan “cosmos” setelah “chaos”. Dalam pengertian itu, menari adalah upaya menciptakan “ketertiban” setelah “kekacauan” yang ditimbulkan Covid-19. Jadi, menari adalah tindakan pendahuluan berdamai dengan Covid-19, untuk tidak menyabut “New Normal Life”, kemudian diganti lagi istilahnya dengan “Adaptasi Baru”.

Mengapa begitu? Disiplin ilmu antropologi mengatakan, tarian merupakan salah satu unsur paling penting dalam ritual yang pernah dan masih dimiliki umat manusia. Ritual berhubungan peperangan dengan dewa perusak, yang menciptakan chaos, dan dengan dewan pemelihara dan penjaga ketertiban dunia (cosmos). Dalam berperang itu, dewa kebaikan biasanya melibatkan manusia. Salah satu cara yang dilakukan adalah: Dewa kebaikan dan manusia membunyikan benda-benda, di mana bunyi benda itu menjadi musik pengiring, untuk mereka menarikan garan tari yang kasar untuk menakut-nakuti dewa jahat. Jadi, tarian dan bebunyian adalah usaha menciptakan tatanan dunia baru yang damai, disebut penciptaan cosmos baru, setelah kekacauan, chaos. Kelak di kemudian hari, tarian dan bunyi-bunyian itu diabadikan menjadi bagian dari ritual.

Ritual penciptaan cosmos setelah chaos juga muncul dalam membung sial masih ditemukan dalam kehidupan orang modern kini. Hingga baru-baru ini, orang Maluku Utara menganggap kematian sebagai kesialan. Karenanya, setelah mengusaikan serangkaian ritual, di kalangan orang Islam melakukan tahlilan pada malam-malam ganjil, orang Maluku Utara biasanya melakukan “ritual mandi” pada hari kesembilan atau kesebelas. Sebelum mandi, handai taulan mayit melukis wajah dengan arang, atau saling menyiram satu dengan lainnya menggunakan air kotor. Baru setelah itu mereka mandi bersama-sama di pantai atau di danau atau di satu sumur umum. Tindakan mengotori diri adalah tindakan menakut-nakuti roh jahat, yang dibayangkan akan terus membawa sial. Setelah kekuatan gaib itu pergi, mereka mandi sebagai penanda bahwa diri mereka telah terbebas dari musibah. Itulah sebabnya, setelah mandi bersama-sama, mereka membongkat tempat tidur sebagai pelambang bahwa rumah mereka pun sudah bersih dari spirit-spirit pembawa musibah.

Sampai di sini, Covid-19 adalah dewa atau goma jahat (menurut orang Galela dan Tobelo) penyebab chaos. Sedemikian kekacauan yang ditimbulkan, para gomatere, dukun, sekarang dokter dan perawat, harus melakukan sesuatu yang bersifat beyond duty; menari bersama pasien diiringi dentuman musik. Dengan cara itu, para petugas kesehatan itu telah menciptakan ketertiban baru setelah kekacauan; minimal memberi rasa damai kepada publik bahwa Covid-19 tidak seberbahaya seperti yang kita imajinasikan.

Jadi, mari baronggeng untuk mengusir Covid-19!

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *