Kopi Etnik, Pasar dan ke-Indonesia-an

0

Agus SB
Pengajar Antropologi IAIN Ternate

BANDUNG tahun 2016, pada hari yang tak lagi diingat, saya menuju Jalan Banceuy untuk melunasi gairah dan penasaran, mendatangi produsen-penjual kopi yang sehari-hari disebut “Kopi Benceuy”, label resminya “Kopi Aroma Bandoeng”. Kepada pemiliknya yang melayani para pembeli yang antri, saya katakan, informasi tentang kopi ini saya baca dalam sebuah majalah di pesawat Merpati saat penerbangan dari Ternate ke Jakarta. Dia senyum dan menuntun saya melihat gudang penyimpanan kopinya yang berkarung-karung goni, ditumpuk menyentuh langit-langit loteng, ke ruangan dapur tempat kopi dimatangkan dalam wajan besar dan diolah menjadi bubuk siap jual. Dua jenis kopi, robusta dan arabika, yang disimpan, satu selama empat tahun dan satunya disimpan selama delapan tahun, Tak lupa ia menerangkan, “kopi ini (sambil menujuk kopi entah robusta entah arabika, lupa) sebaiknya tidak diminum oleh yang belum beristeri, cocok untuk yang telah beristri atau yang punya pasangan”. Saya senyum mendengarnya, dan mengatakan terimakasih telah melayani dengan ramah. Saya pamit kembali ke Dago setelah membayar dua bungkus kopi. Sehari sebelum ke Banceuy, kopi ini saya seruput di sebuah warung pada satu sudut dalam terminal Cicahem. Konon, tidak dijual di swalayan. Kopi warisan usaha keluarga ini hanya diekspor ke luar negeri. Seseorang yang ingin minum kopi ini, lebih mudah membelinya langsung di jalan Banceuy daripada mencarinya di warung atau swalayan. Kepada bu Ady, kolega di kampus IAIN Ternate, saya minta dibelikan kopi ini pada saat ia mengikuti kegiatan di Bandung tahun 2018. Dengan susah payah bu Ady menahan lelah berdiri dalam barisan antrian yang mengular hingga di sisi jalan raya depan rumah kopi ini.

Saya tak sendiri dalam hal pengalaman (experience) dan hasrat (desire) pada kopi, seperti cerita di atas. Barangkali lebih dari minuman lainnya, minuman stimulan ini digemari beragam kalangan dan usia di Indonesia saat ini. Buah kopi dapat memicu liarnya imajinasi dan kreatifitas produsen, penyedia dan konsumen-penikmat. Pada produsen, kreatifitas itu melahirkan “label etnik” pada produk kopinya, bijian maupun bubuk, dan dengan kemasan menarik. Pemilik juga memberi nama kafe atau rumah kopinya (coffee house) dengan beragam nama imajinatif; “Kopi Kenangan”, “Kopi Lain Hati”, dan sebagainnya. Minuman stimulant ini, boleh jadi, juga menstimulasi imajinasi Dee/Dewi Lestari yang melahirkan buku fiksi “Filosofi Kopi, kumpulan cerita dan Prosa Satu Dekade” (2012).

Apakah popularitas kopi yang mendorong tumbuh suburnya kafe-kafe di Indonesia, atau sebaliknya, kafe yang mendorong popularitas kopi. Entah, belum diketahui. Kegairahan dan selera konsumen-penikmat kopi, bagaimanapun, dibentuk oleh—sebagian, jika bukan keseluruhan—kehadiran pasar— di dalamnya termasuk iklan gambar, iklan advertorial seperti yang saya baca dalam kasus kopi Banceuy–dan lingkungan sosial (Montanari, 2004:pp.61-72) dimana tumbuh subur kafe dan beragam produk kopi bersama label-label eksotisnya. Di kawasan Jalan Malioboro yang kesohor, Yogyakarta, pernah digelar “Malioboro Coffe Night” pada 27 Oktober 2018. Di Kota Ternate, pada tanggal 1 Oktober 2018 lalu, juga digelar festival kopi bertepatan dengan Hari Kopi Internasional dengan tajuk “Perempuan dalam Kopi”, yang dihadiri 10 stand kopi. Di Kota Tebing Tinggi, juga digelar Festival Kopi dan Pameran Kuliner Nusantara ke-2 antara tanggal 19-21 Desember 2019, dimana terdapat 45 stand kopi. Kota Tebing Tinggi sendiri konon tidak memiliki kebun kopi, tetapi melalui festival kota ini mempertemukan berbagai jenis kopi di dalam dan dari luar Sumatera Utara. Sebelum festival Tebing Tinggi, pada Maret 2014 kopi dikukuhkan secara internasional melalui peresmian Hari Kopi Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Oktober. Pada skala nasional, Hari Kopi Nasional dikukuhkan dan dirayakan setiap tanggal 11 Maret. Pengukuhan nasional diiringi perayaan hari kopi nasional pertama, dimana Tangerang Selatan menjadi tuan rumah pertama , digelar di Intermark Convention Hall, Serpong, dan diikuti 30 pengusaha kopi dari seluruh Indonesia (Republika.co.id, 09 Maret 2019).

Kemunculan fenomena pelabelan produk kopi dengan nama-nama etnik di Indonesia makin menyuburkan kegairahan dan gebyar minuman stimulant ini. Fenomena ini menarik oleh dua fakta, pertama, menyangkut asal usul tanaman kopi itu sendiri, yang tidak berhubungan dengan nama-nama etnik seperti disematkan pada produk kopi; kedua, perayaan etnik melalui media kopi itu sendiri. Mengingat keterbatasan ruang dan tujuan tulisan singkat ini, tidak akan ditelusuri sejarah tanaman kopi ataupun melacak kehidupan sosial (social life) kopi hingga menempati posisinya seperti sekarang ini di antara jenis minuman lain di kalangan penikmat kopi, maupun sejarahnya sebagai komoditi pasar lokal, nasional dan internasional. Informasi dan pengetahuan saya mengenai kopi bersandar pada informasi instan online mengenai jenis-jenis kopi di dunia, dan yang dibudidaya di Indonesia, sekadar untuk memperlihatkan ketiadaan kaitan historis antara etnik tempatan dan bijian atau bubuk kopi yang dilabeli dengan nama etnik.

Dari seratus anggota spesis dalam genus Coffea, dari keluarga Rubiaceae, terdapat spesis kopi yang banyak dibudidaya, dikonsumsi sebagai minuman dan diperdagangkan secara global, yakni “Coffea Arabica” (kopi arabika), “Coffea canephora” (kopi robusta), dan “Coffea liberica”(kopi liberika) (Jurnalbumi.com). Kopi Arabika dihasilkan di Bali Kintamani, Aceh, Gayo, Cidiwey, Tapanuli Sipirok, Wamena, Toraja; kopi Robusta dihasilkan (dan konon terkenal) oleh Lampung dan Temanggung; kopi Liberia dihasilkan di Jember, Riau, dan Kuala Tungkal; dan kopi Excelsa dihasilkan di Temanggung (travel.kompas.com, 12-8-2019). Dalam jurnalbumi.com disebutkan, di masa Belanda, Jawa pernah mendominasi pasar kopi dunia, bahkan pada masanya, secangkir kopi disebut dengan “Cup of Java”, secangkir Jawa.

Jika dugaan bahwa kopi di Indonesia dikenalkan oleh Belanda dapat diterima, artinya berbagai daerah di Indonesia, yang menghasilkan dan melabelkan produk kopinya dengan nama etnik, sesungguhnya tidak memiliki pijakan historis untuk mendaku kopi sebagai tanaman asli tempatan. Di Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, terdapat tinggalan perkebunan kopi yang konon dibangun oleh kolonial Belanda. Sementara di pulau Makean, dan, tampaknya kemudian bermigrasi ke, daerah kecamatan Oba di Tidore Kepulauan, dimana penduduk tempatan menyebut satu jenis tanaman menjalar dengan bijian persegi-pipih yang dihasilkannya sebagai “kopi upai”. Kopi tempatan ini biasanya dicampurkan dengan bubuk kopi dari salah satu spesis kopi lain seperti di atas. Dibutuhkan penelitian mengenai varietas yang dinamai “kopi upai” ini untuk menentukan apakah termasuk salah satu spesis dari seratus spesis kopi yang telah dikenal. Poinnya bahwa, keempat spesis kopi (di atas) yang dibudidaya dan diproduksi dalam bentuk bijian maupun bubuk dan dikomoditisasi di Indonesia saat ini, sangat mungkin bukanlah tanaman tempatan Indonesia tetapi diperkenalkan oleh kolonial Belanda. Kopi, tulis Steven Topik, adalah sebuah artefak dari perdagangan awal rempah-rempah dalam pasar global pertama. Sejak 1400, lanjutnya, budidaya kopi menyebar keluar dari Afrika ke Arab, Asia Timur, Amerika Latin, kembali lagi ke Afrika dan Asia Timur. Saat ini kopi dibudidaya di semua benua, kecuali Antarctica (2009:p.81). Demikian halnya, konsumsi kopi juga tersebar di berbagai negara di dunia saat ini.

Etnik sebagai “Ikon”, Kopi sebagai “Medium”

Pelabelan nama etnik pada produk kopi sebagai minuman tidak muncul dalam ruang hampa sosialbudaya, ekonomi dan politik nasional. Kebiasaan minum kopi pada berbagai masyarakat di Indonesia barangkali setua sejak pertamakali kopi dikenalkan kolonial. Pada berbagai komunitas di kota dan pedesaan, karena itu, pun dapat ditemukan kebiasaan menyeruput kopi yang telah menjadi kebiasaan. Ungkapan atau sebutan “kopi Toraja” telah lama saya dengar dan pernah menikmatinya, sewaktu menjalani studi di Kota Makassar (sebelumnya; Ujungpandang) antara tahun 1988 s/d 1998. Namun, secara umum pelabelan produk kopi dengan nama etnik tampak semarak justeru setelah reformasi 1998 hingga saat ini. Sekurangnya lima faktor yang dapat diduga melatari dan mengondisikan, meskipun mungkin secara tidak langsung, maraknya fenomena pelabelan nama etnik pada produk kopi.

Pertama, kemunculan fenomena perayaan etnik melalui berbagai medium termasuk kopi, nampaknya dikondisikan oleh kebebasan ekspresi yang dihasilkan dari demokratisasi skala nasional, geliat demokratisasi yang tak hanya berlangsung dalam wilayah politik, tetapi juga dalam ruang kehidupan kebudayaan dan ekonomi (Aspinall & Fealy, 2003:p.1; Antlöv dalam Aspinall & Fealy, 2003:p.72-86). Kebebasan kehidupan kebudayaan dan ekonomi paska orde baru menyediakan “ruang” ekspresi bagi beragam budaya etnik di Indonesia. Kedua, pada saat yang bersamaan, wacana dan gerakan ‘masyarakat adat’ (indigenous people) internasional mendorong munculnya wacana dan gerakan yang sama di Indonesia; “masyarakat adat nusantara” dan secara kelembagaan diwakili oleh AMAN. Gerakan ini mencetuskan klaim-klaim identitas dan hak atas sumberdaya alam maupun keaslian budaya yang direpresentasikan dalam istilah “tanah adat” dan “warisan budaya” lainnya dari leluhur. Ketiga, gerakan masyarakat adat tampak bersinggungan dengan wacana pembangunan pariwisata nasional yang mengeksplorasi bahkan mengeksploitasi keaneragaman budaya dan etnik, bersama hasil kreatifitas yang lahir darinya. Keempat, pariwisata nasional, langsung ataupun tidak langsung, bertautan kemudian dengan wacana ekonomi kreatif yang digelindingkan pemerintah periode presiden SBY. Wacana pembangunan dari atas ini dikuatkan pada tingkatan daerah-daerah di Indonesia dengan basis etnik-etnik tempatannya. Ini menguatkan perayaan budaya (seni, artefak, kerajinan tangan) etnik-etnik di Indonesia. Kelima, pariwisata nasional maupun daerah dan ekonomi kreatif bertemali di dalam ruang pasar lokal, nasional dan internasional. Bersama pasar, keempat faktor di atas membiakkan klaim dan kreatifitas produksi kopi di berbagai daerah/etnik di Indonesia. Salah satu hasilnya adalah tumbuh-suburnya produk kopi daerah dengan label-label etnik; kopi “Toraja Kalosi”, kopi “JJ Royal Coffee Toraja”, kopi “Aceh Gayo”, kopi “Kintamani Bali”, kopi “Papua Wamena”, kopi “Halmahera”, kopi “Aroma Bandoeng”, “Kopi Flores” (NTT), dan sebagainya. Konon, kopi “Kintamani Bali” merupakan salah satu kopi yang populer di Jepang, Eropa, dan beberapa negara Arab (idntimes.com, 1 Okt, 2019). Di sini tampak dimana “etnik” menjadi ikon, dan “kopi” adalah medium eskpresi etnik. Beberapa produk kopi lainnya tidak menggunakan label etnik tetapi mengusung idiom, istilah, atau kata yang berciri tempatan di antaranya; “Kopi Paman” dan “Kopi AAA” dari Jambi, “Kopi Jempol” dari Ternate.

Identitas (kopi) Etnik, Identitas Ke-Indonesia-an

Di atas telah ditunjukkan (atau saya kira telah tunjukkan) dimana kopi bukan tumbuhan tempatan Indonesia dalam artian historis. Entah dengan cara apa para pengusaha asing yang bergandengan dengan negara kolonial mengakarkan kopi ke dalam relung tertentu dari pertanian tempatan dan menjadi salah satu komoditi yang (mungkin telah) populer di masa lalu. Melalui perjalanan kehidupan sosialnya yang mungkin fluktuatif dalam konsumsi manusia, saat ini kopi menempati posisi penting sebagai minuman stimulant yang digemari banyak kalangan dan usia, didukung dan disuburkan oleh keempat faktor sebagaimana dikemukakan di atas.

Sejauh yang saya ketahui, belum terdapat penelitian mengenai bagaimana makna subyektif (istilah Mintz; inside kinds of meaning) dari produsen dan konsumen lokal-nasional mengenai kopi yang dihasilkan dan diseruput di kafe maupun di rumah. Demikian halnya, belum diketahui bagaimana makna subyek itu juga ikut dibentuk oleh kekuatan kolonial bersama kopi yang dibawanya kedalam konsumen Indonesia di masa lalu, sebagaimana studi Sidney Mintz mengenai produksi tebu dan gula oleh Inggris di Puerto Rico yang diimport ke Inggris, dikonsumsi kalangan bangsawan kemudian “menulari” kaum buruh pabrik di London Inggris (1986). Tetapi nama-nama etnik sebagai label yang disematkan pada produk kopi, yang muncul dari berbagai daerah dan etnik di Indonesia, menyampaikan pesan; tanaman ini dibudidaya, dikonsumsi sehari-hari sebagian rumahtangga dan individu, diproduksi dan diberi label etnik dari daerah dimana kopi itu diproduksi, telah menjadi bagian integral dari kehidupan ekonomi petani atau pengusaha produsen dan pendapatan devisa negara. Fakta ini memperlihatkan cara-cara orang Indonesia mengapropriasinya bahkan mungkin sejak dikenalkan kolonial. Dalam aproriasi itu, sejarah dan asal usul spesisnya tak lagi penting, riwayat hidupnya hilang sebelum sampai ke cangkir yang diseruput konsumen. Nama spesisnya; arabika, robusta, excelsa dan liberika juga menjadi samar di bawah bayang-bayang label etnik pada produk (kopi) siap jual, siap saji, siap diseruput.

Perayaan etnik melalui media kopi (kopi etnik) maupun media lainnya saat ini bukanlah sebuah pertunjukan yang mencemaskan mengenai masa depan Indonesia. Kungkungan terhadap kebebasan kehidupan budaya dan identitas etnik yang beragam dan berbeda pada masa orde baru berakibat tidak tumbuhkembangnya kreatifitas ekonomi berbasis budaya dan sumberdaya tempatan yang potensi pada setiap etnik. Keragaman dan perbedaan etnik dan budaya diringkus dan disederhanakan menjadi artefak dalam bentuk taman mini Indonesia indah. Ketika terbebas dari kurungan pendekatan keamanan orde baru pada tahun 1998, banyak cara ditemukan berbagai etnik/budaya untuk mengekspresikan identitasnya, di antaranya, melalui media kopi. Fenomena perayaan etnik-etnik melalui medium kopi bukanlah perayaan etnik itu sendiri. Faktanya Indonesia memang dibangun di atas keragaman dan perbedaan etnik – budaya, sehingga merayakan keragaman dan perbedaan melalui label (produk) kopi etnik justeru merayakan “ke-Indonesia-an itu sendiri. Kopi etnik adalah medium yang berfungsi sebagai kontinuum identitas etnik dan identitas ke-Indonesia-an. Indonesia, karena itu, berarti pula sebuah kemerdekaan ekpresi keragaman dan perbedaan etnik-budaya tetapi serentak juga ke-Indonesia-an itu sendiri. Selamat ulang tahun R.I ke-75. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here