Merayakan “Monumen Kecil”. Sangapati, sebagai contoh

  • Bagikan
banner 468x60

Agus SB (Pengajar Antropologi IAIN Ternate)

Figure: artefak monumen masjid lama di Desa Sangapati, Makean Pulau, 30/7/2016.
Foto: Agus SB.

SEHARI sebelumnya, saya menyaksikan bebatuan berserakan di pantai Powate. Bebatuan itu tampaknya berjatuhan dan berserakan akibat longsor, lepas dari sisa-sisa fondasi (konon) dari sebuah benteng peninggalan Portugis. Kini, lahan di atas reruntuhan benteng itu, menjadi kebun salah satu warga di sana. Nama Powate itu sendiri dari kata dalam bahasa Portugis. Besoknya, pada saat senja yang mulai beranjak untuk digantikan malam, Sabtu 30 Juli 2016 lalu, saya berdiri di atas sebuah batu relatif besar, berdiameter sekitar 50-70 cm, separuhnya tergenang dalam air laut yang dangkal di tepian pantai, tepat di timur atau belakang rumah warisan kakek dan nenek dari bapak saya yang wafat puluhan tahun silam. Batu itu adalah sebuah pengingat (remembrance)–istilah yang dikenal dalam studi-studi memori. Berdiri di atasnya, saya menatap laut yang beriak di senja itu. Satu satu muncul ingatan pada masa kanak-kanak di kampung ini, Sangapati atau Fola raha.  Di perairan pantai yang dangkal ini, bersama kawan-kawan sebaya, seringkali kami berjalan di celah celah karang yang menyembul saat laut sedang surut jelang tengah hari, menyusuri hamparan karang berwarna warni, menemukan gurita kecil, mengejar ikan kecil warna warni, mencabuti pohon kecil “akar bahar”, mengambilnya sebagai mainan. Belakangan saya menyadari “kenakalan masa kanak-kanak” yang lugu ini nyatanya adalah bentuk  “pembelajaran lapangan” bagi saya dan kawan-kawan sebaya  mengenai biota laut. Kami mencerap berabagai biota di sekitar kami berpijak dan  menjadi bagian dari pengetahuan budaya atau kognisi laut—dalam istilah ethnoscience–mengenai lingkungan (laut).

Mata saya nyaris tak berkedip menyapu landskap pantai yang mengalami abrasi, dan talud yang dibangun tak seberapa panjangnya melingkari dinding tanah untuk menahan laju abrasi.  Tak ada lagi pepohonan sukun (amo) di pinggiran pantai, tak ada lagi pepohonan kelapa rindang yang merunduk ke laut diterpa angin. Tak ada lagi kalero, tempat pembakaran karang yang telah mati untuk membuat kapur, dimakan dengan sirih-pinang, dan dibuat sebagai campuran pasir bangunan, atau untuk mengecat dinding rumah dan masjid. Dari atas batu itu, hampir setiap hari, pagi atau petang,  saya melakukan ritual kesenangan; meloncat ke dalam air laut yang tak seberapa dalam, tapi tidak sedangkal saat ini, juga pasirnya tidak terasa berlumpur saat itu. Hembusan angin sore itu  menebar aroma air laut, dan bersama hembusan angin itu sendiri, membangkitkan perasaan seperti dulu, atau  mungkin hanya fantasi saya. Lanskap pantai ini mengingatkan saya pada judul sebuah novel; “gone with the wind”. Ya, pernik-pernik kehidupan sehari-hari yang pada suatu waktu pernah mengisi pengalaman batin saya, kini hampir tak berjejak. Nyaris tak ada lagi keindahan pada lanskap pantai seperi dahulu. Lanskap pantai kekinian mematahkan ingatan indah saya tentang masa kanak-kanak.

            Turun dari batu ritual kesenangan masa kanak-kanak itu, saya melangkah menuju masjid yang dari kejauhan tampak asing atau mengasingkan, lantaran baru kali itu kembali saya menginjakkan lagi kaki di tanah kampung para leluhur. Kampung ini, beserta lanskap alamnya, adalah “pusat dunia” saya — menggunakan istilah sejarawan Arnold Toynbee–yang tak mungkin lepas dari kenangan, selama hayat masih dikandung badan. Tertulis dalam akta kelahiran saya,  alamat email pun saya gunakan sangapati@…..com, satunya powate08@……com dengan sandi “lalaisonyinga”. Tetapi arsitektur bangunan masjid baru yang didirikan beberapa tahun lalu di atas lahan bangunan masjid lama, tak ada dalam ingatan saya. Bahkan nama masjid pun tidak teringat (masjid “Annu’ama”, Sangapati, Makean Pulau. Terimakasih untuk Wiya Jafar yang telah mengingatkan). Menyusuri jalanan menuju masjid dari arah dapur rumah warisan kami—yang telah berubah bentuk arsitektur karena dibangun baru dan sama sekali tidak mirip dengan yang lama. Tak ada lagi pohon jambu air yang tumbuh tegap berdiri di antara depan rumah warisan kami dengan (belakang) rumah tete (kakek) haji Thaib (almarhum). Di depan rumah tete haji Thaib yang dihormati warga ini, juga tak ada lagi pohon mangga besar yang sarat buahnya pada setiap musim. Di sepanjang jalan raya kampung, sejauh dapat ditangkap penglihatan, berdiri pohon-pohon nangka yang rimbun nyaris di depan semua rumah warga. Jalan raya kampung ini pun telah diaspal, meski kasar. Lanskap ruang publik jalan raya berubah. Kita memang berjalan dalam proses hidup yang berubah. Hanya perubahan yang abadi, kata orang.

Tiba di dalam kawasan masjid, mata saya mencari-cari  dimana gerangan kulit kerang yang keras, berbentuk kerucut tak sempurna dan melengkung pada satu ujungnya, berwarna kekuningan dengan pola melingkar meski tak persis sama seperti garis-gari hitam pada jerapah, biasanya dipakai sebagai gayung saat berwudhu. Tak ada lagi bak air datar berbentuk persegi empat dimana  disediakan air wudhu dari sumur di dekatnya. Ada rasa kehilangan yang menyergap. Sebagian penanda masa lalu itu lenyap. Beruntung, masih terdapat sumur lama dan berfungsi atau difungsikan. Tetapi kerongkongan tercekat saat menggumamkan “pintu gerbang masjid” sambil menyentuh sisa artefak masa lalu yang masih berdiri,  tampak renta dan ringkih. Dahulu, seseorang dapat menyebutnya “pintu gerbang” dan tak perlu dipersolkan karena pada sisi kiri-kanannya lekat  dengan dinding pagar pembatas dalam dan luar kawasan masjid, pintu gerbang dimana jamaah masuk dan keluar dari masjid. Seperti lazimnya pintu pagar rumah tinggal. Tetapi dengan letak dan posisinya seperti sekarang, berdiri sendiri dan tampak miring, di bagian dalam dari pagar masjid, kita bisa bertanya; apakah nama yang tepat untuk menyebut artefak ini?  Saya menyebutnya “monumen kecil” pintu gerbang, termasuk “sumur lama” yang tampak menghitam pada permukaan dinding bagian dalamnya akibat diterpa terik dan hujan, siang dan malam, melintasi waktu yang entah telah berapa lama, bahkan mungkin telah ada sebelum saya hadir ke bumi, dan masih di sana hingga saat ini.

            Artefak monumen “pintu gerbang” itu saya sampaikan kepada seorang sepupu yang pernah menjabat kepala dusun ketika pembangunan masjid baru dibangun di atas lahan masjid lama. Tidak begitu jelas inisiatif siapa yang mempertahankan artefak monumen itu. Tetapi ia mengatakan, saat itu dirinya menghendaki agar artefak itu dibongkar. Syukurlah, kata saya, kamu tidak lagi kepala dusun sehingga sikap dan kemauan vandalismu terhadap tinggalan masa lalu tidak bisa dilakukan lagi sekarang. Andai masih kepala dusun, mungkin seperti vandalis lainnya yang menghancurkan tinggalan-tinggalan bernilai pendidikan untuk generasi berikutnya.  Ia diam saja.  Tetapi, apa gerangan yang memotivasi seseorang atau beberapa orang untuk mempertahankan sisa artefak monumen “pintu gerbang”, juga “sumur tua” di masjid itu, dan kemudian tampaknya semua sepakat sehingga monumen itu tetap hadir di sana? Apa arti sisa artefak monumen dari masjid lama yang disandingkan dengan bangunan masjid baru di atas lahan yang sama?

Monumen “pintu gerbang” dan “sumur” masjid lama itu tampak sederhana, sepele, kecil, tampak tidak bermakna. Tidak sebanding dengan artefak “benteng dan pelabuhan Powate” atau benteng kolonial di kota Ternate, Tidore dan tempat lainnya yang memperoleh apresiasi wisatawan, ditulis oleh banyak sejarawan dalam dan luar negeri, yang hingga kini “belum selesai” ditulis.  Tetapi nilai edukasi monumen kecil di masjid itu setara dengan benteng-benteng kolonial. Monumen kecil itu menjadi satu penanda-penunjuk sebagian sejarah (tak tertulis) masa lalu dari komunitas Sangapati.  Mengikuti perkataan Karl R. Popper (dalam Wardaya, 2004;29, 19-33), “meskipun sejarah tidak memiliki tujuan, kita dapat menempatkan tujuan-tujuan kita ke dalamnya; dan meskipun sejarah tidak mempunyai arti, kita dapat memberikan arti kepadanya”.

Monumen kecil di masjid, tentu saja, hanya sebuah “cerita bisu”.  Ia “berbunyi” dan bermakna jika dituturkan oleh para orangtua kepada anak atau generasi muda, entah mereka bertanya ataupun tidak. Melalui penceritaan lisan seseorang, monumen itu menjadi hidup dan “bercerita” tentang siapa leluhur, yang pada masanya meskipun hanya memiliki pengetahuan dan ketrampilan budaya maupun teknologi sederhana yang dihasilkan dari pengalaman hidup langsung, sukses menyusun batu demi batu, merekatkan antar pilar-pilar kayu dengan tulang-tulang dari bambu, dibaluri pasir yang dicampurkan kapur dari kalero yang dibasahi untuk membangun keseluruhan dinding bangunan masjid lama. Motivasi yang mendasari kegigihan para leluhur pendiri masjid itu  sebagian, tentu saja, bersumber dari keyakinan keagamaan yang dianut. Motivasi ini, bagaimanapun, mendorong energi mereka mengatasi hambatan dan masalah, susah payah namun  akhirnya membangun sebuah bangunan masjid untuk memelihara ketaatan pada ajaran agama dan Tuhan. Artefak itu, karenanya, berperan sebagai peringatan atau pengingat (commemorative role), menjadi satu bagian dari konstruksi memori kolektif (collective memory), dan membantu ingatan asosiatif mengenai sesuatu (mnemonic) seperti para leluhur dan masjid lama. Ia menjadi alat bantu ingatan (memory-aids) (Wessman, 2009:71). Memori kolektif ini, jika dituturkan, ia akan dimiliki setiap orang dari komunitas Sangapati (baca: Wertsch & Roediger, 2008: p.319-320).

Kehadiran bangunan masjid baru di atas lahan dimana pernah berdiri masjid lama yang diwakili secara simbolik oleh monumen “sumur” dan “pintu gerbang” masjid lama, memperlihatkan sebuah tindakan penggabungan antara “yang lama” dan “yang baru”. Penggabungan dan penjajaran “lama” dan “baru”, karena itu, sama artinya dengan menautkan “masa lalu” ke “masa kini”. Penggabungan ini hendak dikatakan oleh generasi pembangun masjid baru bahwa, kehadiran (masjid baru) “saat ini” dimungkinkan oleh kehadiran “yang sebelumnya”. Dipahami dalam cara yang sama; bahwa, “kehadiran generasi saat ini, didahului generasi sebelumnya, para leluhur itu”. Maka, “moral kerja para leluhur dalam membangun masjid di masa lalu yang dilatari oleh ketaatan pada agama dan keyakinan keagamaan mereka, dilanjutkan atau diteruskan oleh generasi kini yang membangun masjid baru”. Keyakinan keagamaan dan kepatuhan pada ajaran agama, karena itu, diwariskan antar generasi. Bersamaan di dalamnya, juga diwariskan semangat kerjasama dan solidaritas antar warga komunitas Sangapati. Akhirnya, keseluruhan unsur yang tersusun di sekitar masjid, dan masjid itu sendiri, tidak lain adalah sebuah penanda simbolik yang mengikat masa kini waga komunitas dengan masa lalu mereka, juga penanda yang memelihara hubungan sosialbudaya bahkan emosi di antara mereka, yang masih menetap di dalam maupun di luar kampung. Sebagaimana sebuah batu yang terendam separuh di dalam air laut di pantai sore itu, menautkan ingatan saya pada masa kanak-kanak ketika berdiri di atasnya, juga ingatan pada kawan-kawan sebaya yang saat ini hidup dan entah menetap di mana. Batu itu adalah sebuah monumen dengan banyak makna bagi saya, sebagaimana totalitas unsur di dalam lanskap masjid itu menjadi monumen pengingat solidaritas, kerja keras dan semangat keagamaan sebuah komunitas. Masjid baru dan artefak monumen dari masjid lama yang dipelihara memperlihatkan cara yang dilakukan komunitas untuk merawat masa lalu di masa kini mereka, dan menyongsong yang kemudian, dimana masa kini akan surut menjadi sebuah memori bagi generasi yang datang kemudian [.]

Yogya, 5/09/2020.

banner 1080x1080
banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

  1. Yg pertahankan munumen kecil, gerbang mesjid dan sumur itu hingga masih tetap ada sampai sekarang, adlah Bapak Jufri Hi Maulana orang sangapati Uto. Beliau juga salah 1 anggota badan sara. Senang sekali membaca tulisan bapak, kiranya kedepan bisa di buat penilitian asal usul mesjid tertua itu di bangun.. pasti ada hubungan sejarahnya dengan penyiaran islam pertama kali masuk ke pulau makian.. karena di lihat dari bahan bangunan lama itu menggunakan bahan2 yg alami sperti batu kapur dll, yg cara pembuatannya menggunakan tangan kosong/tanpa alat. Harapan sy bisa lebih perdalam tulisan ini. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *