Warga Bobanehena Ancam Tetap Tutup Akses Jalan Bagi Warga Payo

  • Bagikan
Suasana pertemuan warga Bobanehena dan Forkopimda Halbar. (Dinas Kominfo Halbar)

PENAMALUT.COM, JAILOLO – Warga Masyarakat Desa Bobanehena, Kabupaten Halmahera Barat, bersepakat untuk tetap menutup akses jalan bagi masyarakat Desa Payo, jika pelaku pembakaran rumah belum juga ditangkap. Ini ditegaskan dalam rapat antara masyarakat dan Forkompimda di Desa Bobanehena, Senin (17/5) sore kemarin.

Nasrun, salah satu warga Bobanehena menegaskan terkait dengan kesepakatan bersama masyarakat Bobanehena bahwa selama rumah korban belum dibangun dan pelaku belum juga ditangkap, maka tidak ada yang bisa lewat.

“Masyarakat Bobanehena saat ini bukan saja mengalami kerugian materil saja, tetapi secara psikologis juga,” ujarnya.

“Jadi kami ingin kejadian sekarang jangan seperti kejadian kemarin-kemarin, karena kami hanya diberikan janji-janji saja. Mau ganti rugi maupun dibangun pos, padahal hanya tinggal janji saja,” sesalnya.

Hal yang sama juga disampaikan Mai, warga Bobanehena lainnya. Ia menegaskan untuk saat ini Warga Desa Payo belum bisa melewati akses jalur Bobanehena sesuai dengan kesepakatan warga Bobanehena sebelumnya, karena masih ada akses jalan yang lain menuju Idamdehe.

“Jadi kami atas nama warga Bobanehena meminta pelaku segera ditangkap,” tegasnya.

Sementara istri korban pemilik rumah yang dibakar, Wasti Balullah juga meminta agar pelaku pembakaran segera ditangkap.

Ia bersama suaminya tidak akan lagi membangun rumah di lokasi bekas kebakaran, jika pemerintah daerah akan bangun kembali.

“Karena kejadian ini bukan baru pertama kali, tapi sudah berulangkali dan membuat anak saya yang masih kecil mengalami trauma yang mendalam. Kerugian material bisa diganti, tapi psikologis anak akibat trauma sangat berbahaya,” katanya.

Wati meminta agar proses pembangunan ganti rugi dari pemerintah daerah secepatnya, karena saat ini suaminya yang kerja di salah satu perusahaan di Halmahera Tengah juga belum bisa kembali bekerja lantaran memikirkan istri dan anaknya yang tidur masih menumpang di rumah keluarga.

“Rumah orang tua saya tidak cukup menampung tiga kepala keluarga. Didalamnya ada saudara dengan anaknya belum lagi saya dan anak-anak, terpaksa saya harus menumpang di salah satu rumah kerabat, besok malamnya lagi di tempat yang lain. Kasihan,” ungkapnya sembari meneteskan air mata. (yadi/red)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!