MAJANG  

Hadirkan Duta Baca Indonesia Dalam Kegiatan Bacarita Literasi di Kota Rempah

Foto bersama Duta Baca Indonesia, Bunda Literasi, Kepala Disarpus Kota Ternate dan siswa-siswi peserta literasi

PENAMALUT.COM, TERNATE – Kegiatan literasi bacarita di Kota Rempah sukses digelar pada Rabu (11/10) tadi, bertempat di Taman Nukila, Kota Ternate.

Kegiatan yang menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A. Gong sebagai pembicara ini diselenggarakan oleh Bunda Literasi Kota Ternate sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), Marliza M. Tauhid.

Dalam sambutannya, Marliza M. Tauhid menyampaikan bahwa ini merupakan suatu kebanggaan dalam acara yang mengangkat tema “Dodoto Sebiasa, Sebiasa Poha Biasa Ua”.

“Keberuntungan bagi kita di Ternate, beliau hadir untuk menyapa siswa-siswi SMP yang terpilih untuk kegiatan hari ini,” katanya.

Pada kesempatan itu, istri Wali Kota Ternate M Tauhid Soleman ini juga memperkenalkan Bunda Literasi Kecamatan yang telah dikukuhkan oleh Disarpus Ternate.

“Harapan kami harus ada program berkelanjutan, agar ada forum taman bacaan masyarakat di setiap kelurahan, sehingga literasi menjadi gerakan bersama,” harapnya.

Duta Baca Indonesia, Gol A. Gong (Heri Hendrayana Harris) memberikan tips serta berbagi pengalaman dengan peserta tentang manfaat membaca.

Terlihat, peserta sangat antusias karena merasa beharga bisa berjumpa dan menyampaikan langsung hasil bacaan dan tulisan mereka di hadapan sastrawan yang menulis dengan nama pena Gol A. Gong itu.

Pria yang telah menulis 126 novel itu menjelaskan, menjadi duta baca, menulis ratusan karya, serta kemampuan anak-anaknya menguasai lebih dari satu bahasa adalah hadiah dari membaca.

“Karena membaca, satu anak saya dapat beasiswa ke Tiongkok. Satunya di Abu Dhabi, satu ke Jogja, satu di Bandung. Teruslah membaca, mungkin 10 atau 20 tahun ke depan, Anda akan menjadi apa yang Anda inginkan,” ungkapnya kepada peserta.

Ia berpesan, terutama kepada pemerintah, jangan membuat minder generasi dengan menyebut minat literasi Indonesia, juga daerah, rendah.

“UNESCO saja masih menimbang-nimbang bahwa itu tidak benar, jangan berpegang dengan data lembaga lain. Berpegang saja pada data Perpustakaan,” pesannya menutup. (ask)

Respon (2)

Komentar ditutup.