Aktivis Bungkam, IWIP Terus Bersolek ?

0
Aksi buruh PT IWIP, Jumat (1/5/2020).

PENA – Hampir semua aktivis lingkungan dan pertambangan menegaskan: kehadiran perusahaan pertambangan tidak selamanya berdampak baik untuk masyarakat di daerah. Bisa jadi sebaliknya, justru masyarakat akan alami kesengsaraan, penindasan, bahkan penjajahan, ketika perusahaan pertambangan beroperasi.

Yang dialami masyarakat lingkar tambang, terbilang sadis. Awalnya tergiur dengan ganti rugi lahan. Tanpa sadar, mata pencaharian mereka terenggut. Ketika sudah merasa menguasai masyarakat lingkar tambang, perusahaan melanjutkan aksinya, salah satunya termasuk merelokasi masyarakat.

Ketika masyarakat sadar bahwa yang dilakukan perusahaan tidak menguntungkan mereka, terjadilah gerakan protes hingga pengrusakan fasilitas. Dengan kekuatannya yang super, perusahaan pertambangan menggunakan kaki tangan Negara kemudian menangkap satu per satu masyarakat yang terlibat dalam aksi.

Di Maluku Utara (Malut), aksi besar terjadi di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) pada 1 Mei 2020. Gerakan ini termasuk dalam rangka memperingati hari buruh internasional dan deklarasi Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah. Ratusan buruh dan aktivis terlibat dalam aksi tersebut. Mereka memprotes ketidakadilan yang dilakukan IWIP terhadap buruh lokal.

Informasi yang dihimpun Penamalut menyebutkan, para buruh marah lantaran PT IWIP tetap beroperasi di tengah merebaknya Covid-19 atau virus Corona, termasuk terjadi PHK karyawan. Dalam perjalanan aksi, pihak perusahaan enggan menemui buruh. Para buruh malah dilempari batu dan benda tumpul lainnya. Lemparan batu itu datang dari arah security perusahaan. Sempat terjadi pembakaran di lokasi perusahaan. Akibatnya, puluhan massa aksi ditangkap dan rencana diproses hukum.

Sikap pihak IWIP justru terbilang begitu keras dan tegas bahwa Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah bukan serikan pekera resmi dari karyawan PT IWIP maupun karyawan perusahaan yang terafiliasi dengan PT IWIP. Ini  disampaikan Manager Humas IWIP, Agnes Megawati melalui rilis ke media massa. Menurut dia IWIP bahkan menggandeng TNI-Polri untuk melakukan investigasi. Hasilnya, kata Agnes, aksi tersebut terjadi atas provokasi lima mahasiswa.

Pihak IWIP juga menyebut bahwa yang menggelar aksi itu mengenakan seragam yang mirip dengan yang dimiliki karyawan IWIP. “Ada sebanyak 800 orang yang mereka pengaruhi untuk ikut aksi ini. Sebenarnya karyawan IWIP sudah memiliki serikat pekerja. Rencana mereka menggelar doa bersama memperingati hari buruh, tetapi tidak terlaksana karena sudah ada aksi,”kata Agnes.

Pihak IWIP juga menyebut Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah melanggar aturan. Agnes menyebut mereka tidak mengantongi izin aksi dari Polres. “Juga merusak fasilitas IWIP, seperti kantor, kendaraan, alat berat dan juga terjadi pencurian serta penjarahan bahan makanan,” kata Agnes membela IWIP.     

Menyikapi hal tersebut, DPD KNPI Malut ambil sikap. Juru bicara KNPI Malut, Ikhwan Muhammad menegaskan, KNPI tidak membenarkan intimidasi dan teror yang dilakukan perusahaan terhadap buruh. PT IWIP harus mengindahkan permintaan dialog dari buruh.  

KNPI juga meminta agar puluhan buruh yang ditangkap agar dibebaskan. “IWIP boleh saja merasa hebat, karena memiliki segalanya dan dilindungi kaki tangan Negara. Tetapi IWIP tidak boleh berbuat seenaknya terhadap buruh lokal atau putra putri daerah,”ujarnya.

Menurut Ikhwan, sebelum aksi itu dilakukan, KNPI sudah menggagas petisi yang intinya “menyadarkan” IWIP agar sedikit memikirkan putra-putri Malut yang bekerja di perusahaan tersebut. Ini juga ada hubungannya dengan langkah IWIP mempolisikan salah satu karyawan beberapa waktu lalu. Petisi yang ditandatangani puluhan lembaga itu akan disampaikan ke IWIP dan Polda Malut. “KNPI akan terus melakukan konsolidasi seluruh pemuda jika IWIP masih juga berbuat semena-mena,”tegasnya.

KNPI juga mengajak seluruh pemuda di Malut agar bangkit melawan segala bentuk intimidasi dan terror yang dialami sebagian besar putra putri Malut yang berkerja di perusahaan pertambangan. “Kalau kita tidak bangkit untuk bersatu, maka sampai kapan saja nasib putra-putri Malut sebagaimana yang disaksikan sekarang ini. Sekali lagi saya mengajak seluruh masyarakat di Malut agar bangkit untuk melawan penjajahan ini,”pinta Ihwan dengan nada tegas. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here