In Memoriam Abdurahman Ismail Marasabessy

1


Murid Tonirio
Pengajar Fakultas Ushuluddin IAIN Ternate

DALAM esai ini saya tidak akan menuliskan gelar akademik Abdurahman Ismail Marasabessy. Itu saya maksudkan agar keakraban yang pernah kami jalin tidak terganggu oleh sesuatu yang bersifat artifisial. Toh, dalam pergaulan sehari-hari, di kampus atau di manapun kami bertemu, saya tidak pernah memanggil almarhum dengan “Pak Ketua” atau “Pak Rektor”. Kecuali hanya sekali saja, saya pernah menyapa almarhum dengan “Ketua” – akan saya ceritakan di bawah. Saya menyapa almarhum dengan “Abang”. Sebaliknya, almarhum menyapa saya dengan “adik”. Kadang meledek saya dengan sapaan “boss”.

Saya mengenal almarhum ketika masih kuliah S1 di IAIN Alauddin Ujungpandang. Abang Man kuliah di Fakultas Tarbiyah; saya di Fakultas Ushuluddin. Pertama kali saya bertemu saat beliau salah satu “pengajar” bimbingan test bagi calon mahasiswa baru yang dilaksanakan Koordinator Komisyariat Himpunan Mahasiswa Islam (KORKOM HMI) IAIN Alauddin Ujungpandang.

Tahun pertama kuliah, saya tinggal sekamar dengan Ansar Tohe di salah satu kos-kosan di Manuruki. Kos-kosan tersebut milik salah satu dosen Fakultas Ushuluddin. Di belakang arah utara kos-kosan itu terdapat satu masjid kecil – saya lupa namanya. Kebanyakan khatib di masjid ini adalah mahasisiswa. Almarhum pernah beberapa kali khutbah di masjid ini. Kesan saya, cara almarhum berkhutbah agak lain. Materi khutbah mahasiswa lain datar-datar saja, alias sekadar membuat tafsir literer tehadap ayat al-Qur’an atau hadits yang mereka resitasi. Almarhum cenderung menafsirkan alay al-Qur’an dan Hadits secara tekstual. Bisa dimaklumi, seperti halnya banyak aktivis HMI, almarhum pastilah menggemari karya-karya Nurcholish Madjid juga.

Walaupun kami saling mengenal, hubungan kami selama kuliah pada dasarnya tidaklah terlalu akrab. Waktu kuliah kami terpaut kira-kira enam tahun, sepertinya menjadi pembatas imajiner antara senior-junior. Namun, saya punya kesan, almarhum memiliki sifat care pada siapa saja yang beliau kenal. Beliau juga punya ingatan yang kuat terhadap hal-hal trivial yang dilakukan menjadi semacam kebiasaan orang yang dikenalnya.

Hari itu saya membaca di bawah pohon di halaman depan Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate. Almarhum Pak Bujang Hasan menghampiri, kami mengobrol layaknya bapak-anak. Tak lama kemudian, Abang Man datang. Jadilah kami mengobrol bertiga. Pak Bujang bilang kepada Abang Man, kira-kira begini “Bilang di ngoni pe adik satu ini, jangan talalu duduk di luar. Kalau babaca kalaha cari tampa yang bagus ka. Tara sadap di lihat mahasiswa”. Almarhum Pak Bujang sepertinya “risih” dengan kebiasaan saya membaca di bawah pohon, atau di tempat mana saja yang saya merasa nyaman untuk membaca.

Saya kikuk “dalam kepungan” orang tua dan kakak hari itu. Abang Man merespon Pak Bujang secara tidak langsung, katanya kira-kira seperti ini: Kase tinggal dia, anak ini so bagini sejak kuliah di Ujungpandang. Dulu, waktu kuliah di IAIN, anak ini suka duduk di bawah “tikungan” tangga luar sisi selatan gedung rektorat. Dia suka duduk sendirian membaca di situ. Beta seng tahu apa maksudnya membaca di bawah tangga.

Pak Bujang tampaknya terkejut. Beliau mungkin berharap Abang Man mendukungnya untuk menegur saya. Justeru malah membenarkan kelakuan “aneh” saya dengan nenceritakan pengamatannya terhadap saya selama di Ujungpandang. Lalu, Abang Man bertanya – kalau ini saya ingat persis: “Mengapa se suka duduk membaca di bawah tangga”?
Mendapat kesempatan, pikiran usil saya mulai muncul, mengerjai orang tua dan senior ini. Saya bilang membaca di situ paling asyik. Tidak ada orang yang mengganggu. Saya duduk di bawah tangga karena ingin dihormati orang-orang yang lewat. Meraka yang mungkin penasaran ingin tahu mengapa si gondrong membaca di situ, dan ingin menyapa saya, harus menunjukan rasa hormat. Untuk melihat saya di bawah taingga – tinggi tikungan tangga itu sekitar satu setengah meter – harus merunduk. Nah, merunduk kan tindakan menghormati.

Pak Bujang tertawa mendengar jawaban saya. Lalu, Abang Man melanjutkan, “Jadi hari itu kita duduk berdampingan bercerita di bawah tangga itu berarti beta menghormati se? Saya bilang. “Iya lah. Abang lebih tinggi dari saya. Pasti merunduknya lebih dalam”. Pak Bujang tertawa agak lagi. Beliau mungkin merasa geli dengan jawaban saya.
Sudah saya janjikan di atas, saya akan bercerita sekali saja dalam pergaulan kam,i saya menyapa almarhum dengan ketua. Saat itu saya menjadi Ketua Jurusan Ushuluddin, sedangkan almarhum sebagai Ketua STAIN Ternate. Oleh tuntutan tugas tambahan, almarhum terpaksa harus banyak melakukan perjalanan dinas ke luar Ternate. Akibatnya, mata kuliah yang diampuh menjadi terbengkalai. Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, satu-satu Prodi di Jurusan Ushuluddin, mengeluh telah beberapa kali tidak kuliah.

Saya ke ruang Ketua STAIN. Setelah berbasa-basi sejenak, saya katakan: Abang Ketua STAIN Ternate, jadi saya bawahan Pak Ketua STAIN . Tetapi, saya Ketua Jurusan. Artinya Abang bawahan di Jurusan Ushuluddin. Jadi, minta tolong Abang mengajar menurut jadwal. Mahasiswa sudah mengeluh Abang beberapa kali tidak masuk kasih kuliah. Kalau Abang tidak kasih kuliah, saya akan membuat rekomendasi kepada Ketua STAIN untuk menunda membayar tunjukan sertifikasi dosen Abang.

Abang Man seperti menganggap saya bermain-main saja. Dia bilang, “Ao… Ketua Jurusan mengancam Ketua STAIN”. “Saya tidak mengancam Ketua STAIN. Sebagai Ketua Jurusan, saya hanya mengingatkan dosen untuk mengajar sesuai jadwal, kata saya. Saya menyodorkan konsep surat rekomendasi. Kemudian saya bilang, “mamang rekomendasi ini ditujukan pada orang yang sama. Ketua STAIN mungkin tidak akan menggubrisnya. Tapi kira-kira juga Abang, kalau inspektorat tahu ada rekomendasi seperti ini…. Almarhum langsung memotong pembicaraan saya: Aoo … Beta mengajar jua kalau begitu”. Pertemuan itu kami tutup dengan tertawa ngakak.

Telah saya katakan di atas, dalam berkhutbah, almarhum tidak seperti biasanya mahasiswa lain; dia senantiasa bergerak dalam tafsir kontekstual. Kecenderungan ini dia buktikan di kemudian hari – melompat dari disiplin ilmu tarbiyah (kependidikan Islam) ke Tasir al-Qur’an. Disertasinya tentang pluralisme dalam al-Qur’an. Dan beliau tetap konsisten dengan tema ini dalam semua aktivitas sosial-budaya hingga menutup hayatnya.

Mengikuti tradisi yang telah dijejaki almarhum, melalui video yang diposting Ansar Tohe di WA-grup LPM IAIN Ternate, saya (sebisa-bisanya) mengikuti, membincangkan singkat ragam penjelasan sebab kematian. Dalam video itu, almarhum mengatakan “kematian bersigat sangat sir. Kematian adalah rahasia Tuhan”.

Kalau kematian adalah rahasia Tuhan, tepatnya urusan Tuhan, itu artinya kematian terjadi karena ajal telah tiba, atau ajal satu-satunya sebab kematian, mengapa orang-orang masih mempersoalkan penyebab kematian. Misalnya, orang suka betanya: “Dia sakit apa”? Pertanyaan ini jelas menyampaikan makna: Seseorang mati karena sakit; penyakit yang menyebabkan ajal tiba – bukan karena ajalnya telah tiba maka seseorang meninggal dunia.

Sampai di sini, almarhum dan para pelayat yang bertanya pada saya dan pada pelayat lain, yang bertanya “almarhum sakit apa?” berselisih pendapat soal penyebab kematian. Melalui videonya, ilmplisit almarhum mengatakan bahwa satu-satunya penyebab kematian adalah ajal. Adalah mereka yang bertanya, saya menyebut mereka sebagai penganut materialisme-atheis, menganggap penyakit adalah penyebab kematian. Pertanyaan “sakit apa”, mengindikasikan bahwa jantung berhenti berfungsi, sebagai tanda kematian, karena penyakit tertentu; bukan ajal yang menghentikan bekerjanya jantung.

Walaupun almarhum jelas telah mengatakan dalam vidio itu, bahwa “kematian adalah sangat sir; kematian adalah rahasia Tuhan”, namun jika saya mengajukan masalah berikut: Menganggap orang masih menganggap sakit sebagai sebab kematian? Saya membayangkan almarhum barangkali akan meninjau ulang pikirannya sehingga bisa memberi jawaban kontekstual secara memuaskan. Saya membayangkan almarhum mungkin memberi menjawab seperti ini.
Bahwa orang-orang yang sudah tahu kematian adalah urusan Allah, tetapi mereka masih menduga-duga sebab lain datangnya kematian, bukan karena mereka tidak percaya Kuasa Tuhan, yang ente sebut penganut materialisme-ateis. Mereka bertanya begitu karena – mengutip Nurchlish Madjid – “Tuhan punya kebenaran; namun manusia juga memiliki kebenaran sendiri”.

Andai begitu jawaban almarhum, saya akan mengajutkan pertanyaan lain lagi: Kalau begitu, ajaran agama berlum sempurna pada dirinya sendiri, sehigga umat beragama masih harus menafsirkannya sebagai proses penyempurnaan? Dengan kata lain, dalam keberagamaan, kita bisa membayangkan manusia bernegosiasi dengan Tuhan untuk mendamaikan teks-teks suci yang melangit dengan realitas kehidupan yang akan diciptakan manusia.

Saya tidak berani melanjutkan imajinasi karena beliau telah mengembalikan (oma si giliho-ka). Saya khawatir keakraban kami pupus dari sisi batin lantaran imajinasi terlalu (di)diliar(kan). Lagian, video itu saya tahu setelah almarhum wafat. Untuk mengiringi kepulangan almarhum kepada Tuhan dengan doa khusus. Saya yakin, almarhum telah memilih sendiri dari pintu surga mana yang akan dimasukinya kelak di akhirat. Oleh karena itu, cukup kiranya seruan Amin! Untuk menyertai kepulangan almarhum ke muasal awal. (*)

1 KOMENTAR

  1. rawatlah kenangan, dengan begitu perpisahan tak berarti apa-apa.
    memori yang keren dengan Alm. saya memanggilanya BIB. orang yang baik, santun dan selalu menyapa dengan ramah.
    tengkyu Pak MT tulisannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here