Direktur CV Azzahra Karya Mengaku Diperas Kades Capalulu

CV Azzahra Karya di Kecamatan Mangoli Tengah, Kepulauan Sula.

PENAMALUT.COM, SANANA – Direktur perusahaan kayu bulat CV Azzahra Karya, Djawal Fokaaya, mengaku diperas oleh Kepala Desa Capalulu, Kecamatan Mangole Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula terkait pembagian fee desa atas pengambilan kayu di kawasan hutan Desa Capalulu.

Djawal menjelaskan, ia dan Kades Capalulu Sanip Umasangadji bertemu untuk bicarakan soal fee pengambilan kayu di lahan hutan milik Desa Capalulu, dan sudah disepakati kedua belah pihak. Setiap per kubik kayu dibayar Rp 25.000, disesuaikan dengan Peraturan Bupati lewat SK 306.

Kata Djawal, Sanip kemudian meminta agar dibelikan lagi HP Android. Ia kemudian membelikan HP Oppo A54.

“Jadi ini terkesan kami diperas,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (21/9).

Lanjut Djawal, meski sudah ada kesepakatan pihaknya dan Kades Capalulu, namun sejumlah warga kembali menahan paksa alat berat milik perusahaan dengan alasan perusahaan telah mengabil kayu di lahan masyarakat Capalulu.

Saat ini sudah ada mediasi yang dilakukan pihak Polres untuk membayar kerugian atas pengambilan kayu di lahan masyarakat yang dilakukan pihak perusahaan, namun catatannya pihak polres harus turun ke lokasi melihat tapal batas.

“Hasil mediasi kami bersama Kepala Desa Capalulu bertempat di Polres Sula agar alat berat kami dikembalikan. Saya buat pernyataan ketika ada kayu mereka ditebang, maka kami siap ganti. Namun pihak Polres harus turun dulu, sehingga tapal batas bisa di ukur,” tandasnya.

Terpisah Kades Capalulu, Sanip Umasangadji membantah membantah tuduhan bahwa ia melakukan pemerasan. Terkait dengan HP, kata Sanip, itu dibelikan sendiri oleh Dirut CV Azzahra Karya tanpa diminta.

“Kalau HP itu Djawal yang kasih di saya. Saya bilang saya tidak ada HP, lalu ia belikan. Kalau dia bilang saya minta ke dia itu salah,” ujar Kades.

Terkait alat berat yang ditahan warga, kata dia, akan dikembalikan ke pihak perusahaan di Desa Wailoba, Kecamatan Mangole Tengah.

“Untuk 3 unit traktor yang ditahan warga warga, sesuai kesepakatan di Polres besok akan dikembalikan. Namun Polres akan turun ke lokasi bersama dengan pihak kecamatan untuk kita ukur tapal batas wilayah,” tuturnya. (ish/ask)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.