Perairan Ternate Tercemar Mikroplastik, Walhi Sarankan Pemkot Bentuk Satgas Kelurahan

Sampah di salah satu pesisir Kota Ternate. (ESN for NMG)

PENAMALUT.COM, TERNATE – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Maluku Utara, Faizal Ratuela, menyarankan kepada Pemkot Ternate, agar proses penanganan sampah yang ada di darat dan di laut sebaiknya dibentuk satgas kelurahan.

Pasalnya, saat ini ikan di perairan Ternate sudah terdeteksi mengandung unsur berbahaya. Ini setelah tim peneliti Samurai Maluku Utara bersama tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) telah menemukan perairan Kota Ternate positif terkontaminasi mikroplastik.

Sebagai informasi, mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil yang dapat mencemari lingkungan. Ada dua jenis mikroplastik, yakni mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia seperti sabun, deterjen, kosmetik dan pakaian. Sedangkan mikro sekunder berasal dari penguraian sampah plastik di lautan.

“Saya kira untuk menyelesaikan masalah seperti ini, Pemkot harus membentuk satgas atau instansi khusus yang melibatkan dinas terkait untuk mengurus sektor sampah perkotaan, dalam hal ini Dinas Perhubungan, Dinas Perikanan dan DLH, duduk bersama guna membahas metodologi yang tepat untuk menyelesaikan masalah sampah di Ternate ini,” katanya saat diwawancarai wartawan, Jumat (28/10).

Direktur Walhi Malut, Faizal Ratuela. (Udi/NMG)

Menurutnya, salah satu terjadinya mikroplastik di perairan Ternate adalah akibat dari persoalan sampah. Padahal ada Perwali Nomor 11 Tahun 2013 tentang pengelolaan sampah, sehingga itu tinggal ditindaklanjuti tingkat kelurahan untuk menjawab persolan itu, agar pihak kelurahan mampu menerjemahkan terkait dengan penanganan sampah.

“Masalah di pulau-pulau kecil ini selain krisis air, sampah juga menjadi hal penting yang harus di selesaikan,” ujarnya.

Selain itu, ia menyarankan salah satu penanganan sampah plastik harus dilakukan proses daur ulang, tentu harus didukung teknologi tepat guna untuk bisa menjawab hal itu.

“Karena kota pulau ini semua sampah akan ke laut. Kalau tidak ada proses penanganan secara baik terutama sampah di pesisir, maka akan berdampak mikroplastik yang sudah ada di tubuh ikan, sehingga akan melekat di masyarakat,” jelasnya.

Jika demikian, maka bukan tidak mungkin akan muncul penyakit yang mulanya tidak pernah ada, akan terjadi lantaran sudah ditemukan mikroplastik yang ada di perairan Ternate.

Lanjutnya, Ternate adalah kota pulau, sehingga itu ada urban dan jumlah penduduk semakin tinggi kalau tidak ada proses pemerataan akses ekonomi ke wilayah lain dan hanya bertumbuh di Kota Ternate, sehingga proses sampah tidak pernah selesai.

“Saya belum dapat riset terkait hasil produksi sampah per rumah. Kemudian problem ini akan terjadi sangat tinggi jika dihitung dengan jasa perhotelan,” katanya.

Ia bahkan menuturkan, kerusakan ekologi akan berdampak pada banyak hal, yakni biodiversity perairan, working sar dan spesies laut.

“Secara keragaman, Ternate akan hilang kalau problem sampah tidak selesai. Jika riset kesehatan dilakukan secara mendalam, maka warga di kota ini sudah ada yang konsumsi mikroplastik di dalam tubuh ikan yang tercemar mikroplastik di perairan Kota Ternate,” pungkasnya. (udi/tan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *