Satu Tahanan Tewas Gantung Diri di Mapolres Halbar, Keluarga: Ada Kejanggalan

Jenazah RF saat dipulangkan ke rumahnya.

PENAMALUT.COM, JAILOLO – Seorang tahanan ditemukan tewas gantung diri di Mapolres Halmahera Barat, Kamis (13/10).

Tahanan berinisial RF (23) yang berasal dari Kecamatan Sahu Timur itu merupakan tahanan kasus penganiayaan terhadap perempuan di Halbar.

Meski begitu, baru sepekan ditahan di Mapolres Halbar, kematiannya dinilai janggal.

Nan Barani, paman korban menceritakan bahwa peristiwa nahas itu diketahui pihak keluarga melalui salah satu Penyidik Polres Halbar, pada Kamis (13/10) sekira pukul 08.30 WIT.

“Kami memperoleh informasi dari Penyidik Polres sekitar pukul 08.30 WIT bahwa korban sudah meninggal dunia di dalam sel akibat gantung diri dengan menggunakan tali jaket sweater yang dikenakan pada saat ditahan,” kata Nan.

Nan bilang, kalau memang motif kematian RF adalah murni gantung diri, mestinya pihak keluarga korban juga dipersilakan untuk menyaksikan di TKP, sehingga bisa diyakini bahwa benar ada peristiwa bunuh diri.

“Kalau memang benar kematiannya itu karena bunuh diri, mengapa kami dari keluarga tidak diminta untuk menyaksikan peristiwa tersebut, ini ada apa,” sesalnya dengan nada tanya.

Selain itu, menurut Nan, ada juga keterangan berbeda dari salah satu anggota Polres Halbar. Di mana, motif kematian RF yang diduga bunuh diri itu menggunakan tali sepatu.

Bahkan, sambung Nan, RF juga sebelumnya dinyatakan meninggal dunia di dalam sel oleh salah satu Penyidik, tetapi ada juga keterangan yang berbeda dari anggota Polres lainnya bahwa RF masih bernapas, sehingga dilarikan ke RSUD untuk mendapatkan pertolongan medis.

Atas dasar itu, Nan mengklaim bahwa dari beberapa keterangan yang berbeda, mulai dari perbedaan tali yang digunakan untuk bunuh diri hingga dinyatakan meninggal dunia di dalam sel atau meninggal di RSUD Jailolo ini dinilai ada kejanggalan.

Bahkan ia menduga pernyataan yang bermacam-macam tersebut merupakan pernyataan seperti lempar batu sembunyi tangan.

“Di saat jenazah masih di TKP, kami tidak diberitahukan, tetapi kami diberitahu oleh penyidik ketika jenazah sudah tergelatak di RSUD dengan alasan bahwa almarhum masih bernapas. Padahal di pemberitahuan awal yang disampaikan oleh Penyidik itu almarhum sudah meninggal ketika masih di sel,” tuturnya.

Ia juga menyesali kelalaian pihak kepolisian lantaran ruang tahanan yang penjaganya begitu ketat, tetapi jaket bisa diloloskan hingga ke dalam ruang tahanan.

Karena itu, dengan adanya keterangan yang berbeda-beda ini, pihaknya akan menggugat ke Kapolres Halbar, Kapolda Maluku Utara bahkan hingga ke Mabes Polri.

“Saya sudah cari tahu bahwa Kapolres saat ini sedang cuti dan tidak berada di Halbar, tetapi jika sudah ada, maka saya akan meminta kejelasan atas meninggalnya keponakan saya. Bahkan masalah ini juga akan diproses ke Polda Malut, dan jika tidak diindahkan lagi maka akan dilanjutkan ke Mabes Polri,” tegasnya.

Sementara, Kasi Humas Polres Halbar, IPDA Yuherson Dodowor, saat dihubungi membenarkan bahwa peristiwa tersebut murni bunuh diri di sel Tahanan Polres Halbar.

“Jadi dia bunuh diri karena mungkin dia tertekan dengan masalahnya, dan sebelum dia meninggal, malam itu dia terlihat sedih dan menangis, tetapi sekitar jam 5 lewat kejadian itu terjadi (bunuh diri),” jelasnya.(uum/tan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *