Tragedi Dunia Pendidikan; Melacak Sebab “Bunuh Diri” Anak Sekolah

0

Oleh: Zulkarnain Pina (Ketua Umum IMM Kota Ternate)

CATATAN ini adalah sedikit evaluasi-refleksi pada problem kusut dunia pendidikan terutama pada domain pendidikan non formal (keluarga-masyarakat) atas peristiwa naas bunuh diri yang kerap diambil sebagai solusi menyudahi semua persoalan. Dari sedikit banyak kasus (bunuh diri) yang saya dengar bahkan saksikan secara langsung apalagi dilakukan oleh anak usia sekolah memang harus diseriusi oleh dunia pendidikan kita. Fungsi dan orientasi pendidikan kita harus lebih dipertegas pada penyesuaian perkembangan dan pertumbuhan anak.

Peristiwa pilu, luka besar nan dalam. Terbentuk, terus tergores, membesar tak terobati. Semuanya disepelekan. Dianggap biasa-biasa saja. Pola didik yang keliru terus-menerus ditransfer turun-temurun. Sampai sekarang hingga memakan korban. Iya, memakan korban. Siapa yang menyangka, semua terjadi tanpa sadar. “Innalilahi Wa ‘Innailahi Raji’un: (Sesungguhnya segala sesuatu datang dari Allah SWT, dan kembali pun kepada Allah SWT)”.

Ini pelajaran berharga untuk kita semua; orang tua, calon orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan sebagai penanggung jawab edukasi mental-agama (psikologis-teologis) terhadap generasi yang kita semua mau akan menjadi emas-berlian masa depan. Pertanyaan kemudian, bagaimana elemen-elemen penting pendidikan itu harus bekerja?

Secara teori, pendidikan telah membagi ruang lingkup (domain) nya secara berjenjang dan bertanggung jawab yakni pendidikan informal, non formal dan formal. Pendidikan dapat kita maknai sebagai usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. Yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Lebih singkatnya, pendidikan informal adalah pendidikan keluarga. Pendidikan informal diberikan kepada setiap individu sejak lahir dan sepanjang hidupnya, baik itu melalui keluarga maupun lingkungan sekitar.

Pendidikan ini menjadi dasar pembentukan kebiasaan, watak, dan perilaku seseorang di masa depan. Pendidikan informal berfungsi untuk membantu meningkatkan hasil belajar anak, baik pendidikan formal maupun non formal, mengontrol dan memotivasi anak agar lebih giat belajar, membantu pertumbuhan fisik dan mental anak, baik dari dalam keluarga maupun lingkungan, membentuk kepribadian anak dengan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dan perkembangan anak, memotivasi anak agar mampu mengembangkan potensi atau bakat yang dimilikinya dan membantu anak lebih mandiri dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat kita simpulkan bahwa peran keluarga terutama orang tua, sangat besar terhadap pertumbuhan anak. Dalam pendidikan ini, orang tua berperan mendidik (pendidik), membimbing (pembimbing), memberi contoh (teladan), mengontrol aktifitas anak (pengontrol), memfasilitasi kebutuhan anak (fasilisator), memberi motivasi agar berkembang (motivator), sekaligus juga memberi pengetahuan-pengalaman baru (inovator).

Pengertian pendidikan non formal sebagaimana penjelasan dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2, pengertian pendidikan non formal ialah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berjenjang dan terstruktur. Pendidikan non formal ialah jalur pendidikan yang tujuannya untuk mengganti, menambah dan melengkapi pendidikan formal. Pendidikan ini dapat diselenggarakan oleh lembaga khusus yang ditunjuk oleh pemerintah dengan berpedoman pada standar nasional pendidikan. Dan karena berpedoman pada standar nasional pendidikan, maka hasil dari pendidikan non formal tersebut dapat dihargai setara dengan pendidikan formal. Mengacu pada pengertian pendidikan non formal di atas, tujuan utama dari pendidikan di luar sekolah ialah berfungsi untuk mengganti, menambah dan melengkapi pendidikan formal.

Sedangkan pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Dan pendidikan formal juga merupakan lembaga pendidikan yang ditempuh melalui jalur institusi yang sudah ditentuhkan dan ditetapkan, serta diatur oleh sekelompok orang yang punya wewenang dalam hal ini pemerintah atau sebuah yayasan.

Tujuan pendidikan formal yaitu, pertama, melatih kemampuan akademis. Kemampuan akademis ini meliputi kemampuan menghafal, berpikir (logika) dan kemampuan memecahkan masalah (analisis) dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki kemampuan akademis yang baik pada umumnya lebih mampu memecahkan masalah dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Kedua, adalah melatih mental, fisik dan disiplin. Oleh sebab pendidikan formal adalah suatu proses yang diatur, sehingga proses ini mengharuskan peserta didik untuk tiba di sekolah pada jam tertentu dan pulang pada jam tertentu pula. Hal ini bukan tanpa sebab yakni dapat melatih kedisiplinan peserta didik. Selain itu, proses belajar di sekolah secara terus menerus akan membentuk mental dan fisik para peserta didik menjadi lebih baik sehingga lahir stok generasi masa depan yang lebih baik.
Yang ketiga adalah sikap tanggung jawab. Tanggung jawab seorang anak adalah belajar dimana orang tua atau wali yang memberi nafkah. Seorang anak yang menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dengan bersekolah yang rajin akan membuat bangga orang tua, guru, saudara, sanak keluarga, dan lain-lain.

Keempat, membangun jiwa sosial. Banyaknya teman yang bersekolah bersama akan memperluas hubungan sosial seorang siswa. Tidak menutup kemungkinan, di masa depan akan membentuk jaringan pertemanan, bisnis dan kepentingan lainnya dengan sesama teman, dimana di antara sesamanya sudah saling kenal dan percaya. Dengan memiliki teman, kebutuhan sosial yang merupakan kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi dengan baik.

Sedangkan yang terakhir adalah sarana berkreativitas. Seorang siswa dapat mengikuti berbagai program atau kegiatan ekstrakurikuler sebagai pelengkap kegiatan akademis belajar mengajar agar dapat mengembangkan bakat dan minat dalam diri seseorang. Semakin banyak memiliki kebolehan dan daya kreativitas, maka akan semakin baik pula kualitas seseorang. Sekolah dan kuliah hanyalah sebagai suatu mediator atau perangkat pengembangan diri. Yang mengubah diri seseorang adalah hanyalah orang itu sendiri.

Upaya menjelaskan tiga domain pendidikan diatas, dapat kita tarik benang merah dalam upaya melacak sebab mengapa “bunuh diri” dapat diambil sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah. Memang, sangat beragam sebab kenapa hal demikian dilakukan. Tetapi secara umum yang menjadi indikator atau sebab yang dapat kita ungkapkan adalah minimal ada tiga yakni aspek psikologis, ekonomi dan keagamaan (aqidah). Ketiga aspek ini tentu tidak terlepas dari peran tiga domain pendidikan secara kolaboratif.

Dalam hal pembentukan mental (psikis) seorang anak, pendidik diharuskan memiliki kompetensi akademik yang baik sehingga sadar dan memahami bahwa betapa penting pembinaan aspek psikologis bagi perkembangan anak. Realitas yang menjadi problem dalam dunia pendidikan terutama pendidikan non formal (keluarga) adalah, lebih “ditekankan” pada aspek kognitif, melarang tanpa mengarahkan, menyalahkan, melontarkan kata-kata kasar dan bermakna tidak baik, sehingga perkembangan psikologis anak mendapat tekanan dan pesan-kesan yang tidak baik. Hal demikian juga ikut membentuk perkembangan dan pertumbuhan anak menuju dewasa. Keadaan semacam ini akan membentuk mental-mental jajahan (inlander) pada generasi untuk masa depan. Mental ragu-ragu, tidak percaya diri dalam melakukan sesuatu, pesimis, takut gagal dan lemah dalam mengambil keputusan bahkan tidak bisa menghadapi realitas kehidupan yang keras. Aspek ini juga pada akhirnya akan menimbulkan kecemasan-depresi (tumpang-tindih antara kecemasan dan depresi) pada anak yang pada akhirnya akan menimbulkan apa yang diistilahkan oleh V. Mark Durand dan David H. Barlow (2006) sebagai peristiwa kehidupan yang Stressfull. Sebab stres dan trauma adalah dua diantara kontribusi unik dan paling menonjol di dalam etiologi (sebab akibat) semua gangguan psikologis.

Persoalan ekonomi sangat bergantung dan berpengaruh pada aspek psikologis. Anak yang karena kondisi ekonomi keluarganya tidak baik ditengah-tengah ekonomi keluarga yang lain baik akan membuat dirinya tersisih dari interaksi (pergaulan) sosial antar sesamanya. Ini akibat mental yang tidak dibangun secara baik. Ditambah suasana keluarga terutama di rumah yang kurang kondusif, terkesan pilih kasih atau pemberian kasih sayang yang tidak merata akan dengan cepat mempengaruhi mental anak yang pesimis dengan kehidupan masa depan. Anak akan berfikir bahwa dia tidak dibutuhkan dalam keluarga, hanya menjadi pembantu dan tempat pelampiasan kekesalan keluarga atau orang tua.

Dalam hal aqidah, domain pendidikan non formal (keluarga-masyarakat) dan formal (sekolah) adalah kunci untuk menanamkan pengetahuan, pemahaman dan keyakinan pada anak tentang hal-hal apa saja yang menjadi perintah agama yang harus dilakukan dan perintah untuk ditinggalkan, juga meyakini adanya surga dan neraka sebagai tempat bagi orang bertaqwa dan para pendosa.

Mental (psikologis) yang lemah akan berakibat pada rasa percaya diri yang lemah, ketidakmampuan memilih dan memutuskan sesuatu hal, ditambah rasa malu pada kondisi ekonomi keluarga juga tekanan kehidupan yang menyiksa tanpa kekuatan aqidah yang kokoh, sangat mudah memicu seseorang mengambil “bunuh diri” sebagai solusi menyudahi semua penderitaan.

Dari problem di atas, penulis menginginkan agar peningkatan kapasitas pendidik dan optimalisasi peran pendidikan dengan semua instrumennya sangat penting dilakukan guna meminimalisir kasus kematian sadis tersebut, apalagi pelakunya adalah anak usia sekolah. Maka kolaborasi peran secara maksimal untuk mengisi atau menutupi kekosongan dan kelemahan dari salah satunya dapat dilakukan. Tetapi yang paling penting dan harus ditekankan adalah keluarga (orang tua). Ada satu istilah klasik (adagium) bahwa, dalam jiwa yang sehat terdapat pikiran yang cerdas. Jadi, urusan pengetahuan adalah urusan sekolah, sedangkan tugas orang tua adalah menjamin agar anak tetap sehat baik fisik maupun psikis. Demikian, semoga bermanfaat**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here