Warga RTB Minta Talud Penahan Banjir Segera Dibangun

  • Bagikan
Warga RTB menyampaikan aspirasi mereka saat reses anggota DPRD Halbar. (Haryadi/Penamalut)

PENAMALUT.COM, JAILOLO – Masyarakat Desa Ropu Tengah Balu (RTB), Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat meminta agar talud penahan banjir segera dibangun.

Ini disampaikan warga saat kegiatan penyerapan aspirasi (Reses) dari Ketua Komisi II DPRD Halbar, Nikodemus H. David, Kamis (19/8) kemarin.

Malik, salah satu warga setempat mengatakan permasalahan yang dihadapi warga RTB saat ini ketika musim hujan dan terjadi banjir. Di mana banjir tersebut menggenangi pemukiman warga lantaran ambruknya talud penahan banjir di desa mereka.

Genangan air itu hingga berhari-hari dan dikhawatirkan warga menjadi sarang nyamuk.

“Talud di RTB ini sebelumnya sudah ada, namun akibat dihantam banjir terus-menerus hingga roboh,” ujarnya.

Permasalahan ini ia sudah pernah datangkan pihak Dinas PUPR untuk mengecek kondisi talud, namun hingga saat ini belum ada tindaklanjut.

Ia berharap masalah talud ini segera dibicarakan kepala desa dengan DPRD dan Pemda Halbar agar segera dibangun.

“Hal lain yang diusulan warga terkait pengadaan traktor untuk menunjang kebutuhan warga di bidang pertanian juga harus diperhatikan. Begitu juga untuk bantuan sapi,” harapnya.

Rudi, warga RTB lain juga menyampaikan bahwa potensi wisata pantai disa di Desa RTB sangat menunjang. Ini dapat membantu pendapatan desa maupun masyarakat, terutama ibu-ibu yang berjualan di tempat wisata itu.

Menurutnya, wisata pantai disa ini awalnya sangat terkenal, namun sampai saat ini sudah tidak aktif lagi karena persoalan lahan. Padahal waktu kepala desa yang lama tidak ada persoalan terkait lahan.

Sementara Kepala Desa RTB, Sumardi Husen sangat mendukung usulan masyarakat ini. Bagi dia, usulan di tiga sektor ini sangat mendukung peningakatan Desa RTB.

Untuk itu, ia berharap aspirasi ini bisa dikawal DPRD hingga diakomodir oleh pemerintah daerah.

Terkait wisata pantai disa, ia berujar ada masih terkendala lahan. Di mana ada satu dua orang warga yang masih mempertahanka lahan mereka. Maka dari itu, Pemdes harus mengantongi bukti jual beli dulu baru diaktifkan.

“Makanya kami dari pemerintah desa juga khawatir, jika wisata ini diaktifkan malah menimbulkan konflik masalah lahan ini. Ini juga harus menjadi perhatian,” tukasnya.

Sumardi juga mengaku pihaknya sudah datang berkoordinasi dengan warga yang punya lahan di lokasi wisata, namun pemilik lahan menyampaikan bahwa bisa diaktifkan kembali wisata disa, asalkan pisang yang berada di lokasi itu jangan disentuh.

Menanggapi hal itu, Nikodemus H. David berjanji akan berkoordinasi dengan Kadis Pariwisata untuk mencari cara bagaimana mengaktifkan kembali wisata pantai disa.

“Saya juga bakal mendorong anggaran yang bisa dimasukkan ke APBD Perubahan 2021 maupun APBD induk 2022 untuk pembangunan talud di RTB, karena termasuk masalah yang paling urgen,” janjinya. (adi/ask)

banner 1280x960
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!